MIU Login

Daftar Artikel

Sebelum Media Sosial, Kartini Sudah Menulis untuk Melawan

Oleh: Nadha Ria Di era ketika blog, Twitter, dan Instagram menjadi ruang utama untuk menyuarakan pendapat, kita sering kali menganggap bahwa “bersuara” adalah privilese zaman digital. Namun, jauh sebelum semua itu hadir, Raden Ajeng Kartini telah menunjukkan bahwa suara tidak selalu membutuhkan teknologi canggih—ia membutuhkan keberanian berpikir dan ketekunan menulis.

Dari Jepara ke Eropa: Jejak Intelektual Kartini dan Relevansinya bagi Mahasiswa Humaniora

Oleh: Thuba Sundusiyyah Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Raden Ajeng Kartini kerap dilekatkan pada identitas pahlawan perempuan yang identik dengan kebaya dan sanggul. Representasi ini memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi cenderung menyederhanakan kompleksitas sosok Kartini. Jika ditelusuri lebih dalam, dari pinggiran Jepara pada akhir abad ke-19, Kartini justru tampil

Kartini dan Tanggung Jawab Intelektual Mahasiswa

Oleh: Alviana Firda Setiap peringatan Hari Kartini, ruang-ruang publik dipenuhi nuansa tradisional: kebaya dikenakan dengan anggun, sanggul ditata rapi, dan berbagai seremoni digelar dengan penuh penghormatan. Namun, di balik perayaan yang sarat simbol tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan, terutama oleh mahasiswa Humaniora: apakah kita benar-benar memahami sosok Raden Ajeng

Kartini Zaman Now: Dari Surat ke Suara di Media Sosial

Oleh: Ashif Azril Peringatan Hari Kartini 21 April 2026 menjadi momen yang pas untuk kita mengingat lagi perjuangan Kartini dahulu kala. jika zaman dulu Kartini menyampaikan pemikirannya lewat surat, sekarang perempuan punya cara yang jauh lebih mudah dan cepat, yaitu lewat media sosial. Bisa dibilang, media sosial sekarang menjadi “tempat

Pengalaman yang Menjadi Kenangan

Oleh: Maulida Az-Zahra* Dua Puluh Lima Juli Dua Ribu Dua Puluh Lima, menjadi hari di mana doa-doa terbaik terbang bersama langkah saya. Bandara Juanda pagi itu dipenuhi wajah harap dan senyum perpisahan. Dengan hati yang berdebar, saya melangkah memasuki gerbang perjalanan yang akan membawa saya jauh dari rumah. Baca juga:

Mengubah Konflik Menjadi Ukhuwah

Oleh: Nur Hasaniyah* Tradisi halalbihalal yang menjadi ciri khas umat Muslim Indonesia pasca-Idul Fitri sejatinya merupakan perwujudan hidup dari khazanah komunikasi profetik Rasulullah Alahissalam. Ditinjau dari perspektif ilmu bahasa dan sastra Arab, khususnya balaghah, peristiwa dialog beliau dengan kaum Anshar pasca-Perang Hunain menawarkan contoh paling indah bagaimana bahasa Arab yang

Tradisi Halalbihalal: Mengubah Konflik Menjadi Peluang Memperkuat Persaudaraan

Oleh: Arief Rahman Hakim Tradisi halalbihalal yang berkembang dalam masyarakat Muslim Indonesia sejatinya memiliki landasan nilai yang kuat dalam praktik komunikasi Rasulullah SAW. Salah satu peristiwa penting yang mencerminkan hal ini adalah dialog Nabi dengan kaum Anshar pasca Perang Hunain. Ketika itu, setelah pembagian harta rampasan kepada para muallaf Makkah,

“Mohon Maaf Lahir Batin”: Bahasa Kerendahan Hati di Hari Idul Fitri

Oleh: M. Faisol* Setiap datangnya Idul Fitri, masyarakat Muslim di Indonesia hampir selalu mengucapkan satu kalimat yang sangat akrab: “Mohon maaf lahir batin.” Kalimat ini terdengar di ruang keluarga, di halaman masjid setelah salat Id, di pesan singkat, hingga di berbagai media sosial. Ia telah menjadi bagian penting dari tradisi

Ramadan dan Tradisi Mudik Lebaran

Oleh: Laily Fitriani* Saat Ramadan tiba, setiap manusia berupaya berlomba-lomba di jalan Allah untuk beribadah, memperbaiki diri, dan melaksanakan beragam kebaikan seperti membersihkan tempat ibadah, menyediakan takjil gratis memberikan sahur gratis, membayar zakat, melaksanakan infaq dan shadaqah, serta berbagi dengan sesama dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk

Lebaran: Hidangan, Kenangan, dan Perayaan Kemanusiaan

Oleh: Ika Farihah Hentihu* Lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita dan kehangatan. Setelah sebulan penuh menempa diri dalam ibadah puasa, momen Idul Fitri menjadi muara yang ditunggu-tunggu untuk kembali ke pelukan keluarga. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh, menantang lelah demi satu tujuan: bersimpuh memohon maaf dan