
Oleh: Abdur Rahim* Sepekan sebelum bulan Ramadhan, saya mendapatkan sebuah buku menarik berjudul “Mindful Ramadhan: Seni Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah Tak Terbatas”. Buku ini ditulis oleh seorang ibu rumah tangga-cum-akademisi yang tinggal di salah satu daerah di Jawa Timur. Buku yang sepertinya dikumpukan dari beberapa artikel refleksi ini terdapat satu
HUMANIORA – (12/3/2026) Masalah klasik yang sering menghantui Sobat Humaniora saat menjalankan ibadah puasa adalah rasa lemas yang melanda di tengah diskusi kelas atau paparan materi dosen. Namun, tahukah Anda? Rasa lemas yang luar biasa di siang hari ternyata bukan sekadar akibat menahan lapar, melainkan sering kali dipicu oleh kekeliruan
Oleh: Wildana Wargadinata* Ramadhan sering dipersepsikan sebagai bulan “permakluman”: ritme kerja diturunkan, jam belajar dipersingkat, produktivitas dikurangi, dan puasa dijadikan alasan untuk lemah, mengantuk, dan bermalas-malasan. Institusi kerja melonggarkan target, sekolah memadatkan durasi, proyek melambat. Seolah-olah Ramadhan adalah bulan istirahat kolektif umat. Padahal secara historis dan teologis, Ramadhan justru bulan
HUMANIORA – (11/3/2026) Menghadapi jadwal perkuliahan yang padat di “Kampus di Atas Awan” sembari menjalankan ibadah puasa sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Namun, bagi Sobat Humaniora, Ramadan bukanlah alasan untuk menurunkan standar akademik atau mengendurkan semangat berorganisasi. Kuncinya terletak pada pemanfaatan waktu yang strategis melalui skema “Golden Hours”.
Oleh: Arief Rahman Hakim* Ada satu ayat di awal Surah Taha yang pendek, tetapi terasa seperti kalimat penghibur dari langit. طه مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah (Q.S. Thaha
HUMANIORA — (10/3/2026) Menjalani Ramadan di perantauan bagi mahasiswa Fakultas Humaniora bukan sekadar ujian menahan lapar, melainkan seni mengelola keterbatasan. Di antara tumpukan buku dan tugas analisis literatur, Sobat Humaniora yang tinggal di kos dituntut kreatif dalam menyajikan menu sahur. Dengan keterbatasan alat dapur dan anggaran bulanan, mereka membuktikan bahwa
Oleh: M. Faisol Ramadhan mengubah denyut kehidupan. Kota yang biasanya bising pada siang hari mendadak melambat, seakan ikut menahan diri bersama mereka yang berpuasa. Warung makan menutup tirai, lalu lintas terasa berbeda, dan percakapan di ruang-ruang publik menjadi lebih tertata. Sebaliknya, ketika matahari terbenam, kehidupan justru menemukan iramanya yang lain.
Oleh: Agwin Degaf* Ramadan selalu dimaknai sebagai bulan pengendalian diri. Selama berpuasa, umat Islam tidak hanya diminta menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu dalam arti yang lebih luas, termasuk menjaga ucapan. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ketika seseorang berpuasa, ia
Oleh: M. Anwar Masadi* Bagi Umat Islam puasa memiliki nilai yang khusus. Puasa tidak hanya berhubungan dengan persoalan jasady (tubuh) dengan mampunya sesseorang menahan lapar saja, tetapi juga persoalan ruhy atau pengelolaan diri (menahan jiwa). Ketika kecil kita sudah diajarkan bagaimana Ramadhan itu begitu spesial, sehingga persiapannya juga begitu spesial.
Oleh: Wildana Wargadinata* Secara bahasa Al-Mīzān berasal dari kata wazn, memiliki arti menimbang, mengukur, menentukan kadar sesuatu. Secara konseptual wazn adalah proses pengukuran atau tindakan menilai berat, nilai, atau kualitas sesuatu. Sedangkan secara filosofis wazn adalah aktifitas evaluatif, ia melambangkan fungsi akal dan keadilan, menimbang sebelum memutuskan. Dalam perspektif yang