MIU Login

Daftar Artikel

Pengalaman yang Menjadi Kenangan

Oleh: Maulida Az-Zahra* Dua Puluh Lima Juli Dua Ribu Dua Puluh Lima, menjadi hari di mana doa-doa terbaik terbang bersama langkah saya. Bandara Juanda pagi itu dipenuhi wajah harap dan senyum perpisahan. Dengan hati yang berdebar, saya melangkah memasuki gerbang perjalanan yang akan membawa saya jauh dari rumah. Baca juga:

Mengubah Konflik Menjadi Ukhuwah

Oleh: Nur Hasaniyah* Tradisi halalbihalal yang menjadi ciri khas umat Muslim Indonesia pasca-Idul Fitri sejatinya merupakan perwujudan hidup dari khazanah komunikasi profetik Rasulullah Alahissalam. Ditinjau dari perspektif ilmu bahasa dan sastra Arab, khususnya balaghah, peristiwa dialog beliau dengan kaum Anshar pasca-Perang Hunain menawarkan contoh paling indah bagaimana bahasa Arab yang

Tradisi Halalbihalal: Mengubah Konflik Menjadi Peluang Memperkuat Persaudaraan

Oleh: Arief Rahman Hakim Tradisi halalbihalal yang berkembang dalam masyarakat Muslim Indonesia sejatinya memiliki landasan nilai yang kuat dalam praktik komunikasi Rasulullah SAW. Salah satu peristiwa penting yang mencerminkan hal ini adalah dialog Nabi dengan kaum Anshar pasca Perang Hunain. Ketika itu, setelah pembagian harta rampasan kepada para muallaf Makkah,

“Mohon Maaf Lahir Batin”: Bahasa Kerendahan Hati di Hari Idul Fitri

Oleh: M. Faisol* Setiap datangnya Idul Fitri, masyarakat Muslim di Indonesia hampir selalu mengucapkan satu kalimat yang sangat akrab: “Mohon maaf lahir batin.” Kalimat ini terdengar di ruang keluarga, di halaman masjid setelah salat Id, di pesan singkat, hingga di berbagai media sosial. Ia telah menjadi bagian penting dari tradisi

Ramadan dan Tradisi Mudik Lebaran

Oleh: Laily Fitriani* Saat Ramadan tiba, setiap manusia berupaya berlomba-lomba di jalan Allah untuk beribadah, memperbaiki diri, dan melaksanakan beragam kebaikan seperti membersihkan tempat ibadah, menyediakan takjil gratis memberikan sahur gratis, membayar zakat, melaksanakan infaq dan shadaqah, serta berbagi dengan sesama dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk

Lebaran: Hidangan, Kenangan, dan Perayaan Kemanusiaan

Oleh: Ika Farihah Hentihu* Lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita dan kehangatan. Setelah sebulan penuh menempa diri dalam ibadah puasa, momen Idul Fitri menjadi muara yang ditunggu-tunggu untuk kembali ke pelukan keluarga. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh, menantang lelah demi satu tujuan: bersimpuh memohon maaf dan

Percakapan Semesta di Meja Makan; Renungan tentang Lebaran, Dunia, dan Akhirat

Oleh: Helmi Nawali* Percakapan sederhana dalam keluarga sering kali menyimpan makna yang dalam. Kadang, dari obrolan santai di rumah justru lahir refleksi besar tentang kehidupan. Seperti yang terjadi dalam percakapan kami kemarin. Sebuah percakapan santai sambil menunggu adzan Subuh, sesaat setelah makan sahur. Isteri saya bertanya dengan nada heran, “Kenapa

Menakar Makna Kemenangan

Oleh: Khafid Roziki* Beberapa hari lagi, ruang digital kita akan dibanjiri oleh estetika yang seragam: desain flyer megah dengan tipografi emas yang lantang meneriakkan kata “Kemenangan”. Dari tangan desainer profesional hingga jemari orang awam melalui aplikasi instan, semua berlomba mengemas perayaan dalam visual yang paling indah. Seolah-olah, sebuah panggung raksasa

Ramadhan dan Seni Bertahan di Dunia yang Serba Instan

Oleh: M. Faisol Di antara sekian banyak ibadah dalam Islam, puasa memiliki posisi yang unik. Dalam hadis Qudsi disebutkan: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Kalimatnya singkat, tetapi maknanya sangat dalam. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa puasa adalah

Menghalau Sepi di Perantauan: Menjadikan Ramadan di Kampus sebagai Momen Koneksi Spiritual

HUMANIORA – (19/3/2026) Bagi mahasiswa rantau, aroma masakan rumah dan kehangatan keluarga adalah hal yang paling dirindukan saat azan Maghrib berkumandang. Di lorong-lorong kampus dan kamar kos, rasa sepi sering kali membayangi langkah para pejuang ilmu. Namun, bagi Sobat Humaniora, Ramadan di perantauan sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai momen transformasi