MIU Login

Daftar Artikel

Mudik, Basa-Basi, dan Seni Memahami Pertanyaan Keluarga

Oleh: Agwin Degaf* Menjelang Idulfitri, jutaan orang Indonesia kembali menjalani tradisi tahunan yang sangat khas: mudik. Jalan raya dipadati kendaraan, stasiun dan bandara penuh oleh para perantau yang pulang ke kampung halaman. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mudik memiliki dua makna. Secara harfiah, kata ini berarti pergi ke udik.

Bukber Mahasiswa: Sekadar Makan Bareng atau Ruang Konsolidasi?

HUMANIORA – (18/3/2026) Di tengah padatnya jadwal perkuliahan dan tuntutan akademik di bulan Ramadan, tradisi buka bersama (bukber) menjadi fenomena yang tak terelakkan di kalangan mahasiswa. Namun, bagi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, momen ini mulai bergeser maknanya: bukan lagi sekadar ritual mengakhiri puasa

Al-Quran, Puasa, dan Sastra

Oleh: Misbahus Surur* Ungkapan sastrawi turun ke bumi bukan karena hasrat ingin memperumit kenyataan atau realitas. Dalam arti, konstruksi realitas menggunakan bahasa sastra kerap dicurigai membuat ungkapan susah dimengerti, sebagaimana diduga banyak orang selama ini. Padahal, ungkapan sastrawi muncul  bermaksud untuk semakin mempertajam pemahaman manusia terhadap realitas. Betapa pun korespondensi

Dibalik Tagar #Bukber: Telisik Pergeseran Semantik Ramadan di Ruang Digital

HUMANIORA – (17/3/2026) Ramadan di era layar sentuh tidak hanya mengubah pola ibadah, tetapi juga memicu evolusi bahasa yang menarik untuk dibedah. Istilah “Bukber”, yang secara harfiah adalah abreviasi dari buka puasa bersama, kini tengah mengalami fenomena pergeseran makna (semantic shift) yang signifikan di jagat media sosial seperti TikTok, Instagram,

Puasa yang tidak Pernah (boleh) Berbuka

Oleh: Ahmad Kholil* Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad al-Syakir mengutip kitab Zubdah al-Wa’idhin  mengatakan bahwa puasa terbagi tiga ; puasa awam, puasa khawash dan puasa khawash al-khawash. Puasa awam dilakukan dengan cara menahan diri dari rasa lapar dan haus serta godaan syahwat. Puasa khawash merupakan puasanya para hamba yang

Tren Sleep Call Sahur: Antara Solidaritas Digital dan Ikhtiar Kedisiplinan

HUMANIORA – (16/3/2026) Di tengah riuhnya dinamika Ramadan di perantauan, sebuah fenomena unik mulai menjamur di kalangan mahasiswa: Sleep Call Sahur. Kebiasaan ini muncul bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebagai strategi kolektif untuk melawan musuh terbesar di bulan puasa, yakni rasa kantuk yang berat saat waktu sahur tiba. Baca

Jurnalisme Profetik dalam Spirit Ramadan: Perspektif Jurnalis Kampus dalam Menghadirkan Nilai Kenabian

Oleh: M. Anwar Firdausy* Perkembangan media di era digital membawa tantangan besar bagi praktik jurnalistik. Arus informasi yang sangat cepat, persaingan antar media, dan tuntutan popularitas di ruang publik sering kali membuat jurnalisme terjebak dalam sensasionalisme dan kepentingan pasar. Dalam kondisi seperti ini, muncul kebutuhan akan model jurnalistik yang tidak

Ramadhan dan Jalan Perubahan

Oleh: Muchammad Mufti Akmal* Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan umat Islam. Bulan ini tidak hanya dipenuhi dengan aktivitas ibadah seperti puasa, tarawih, membaca Al Qur’an, dan bersedekah, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi yang lebih dalam bagi setiap individu. Di tengah rutinitas kehidupan yang sering kali berjalan

Sesudah Ramadhan: Apa yang Tertinggal dari Sebulan yang Suci?

Oleh: Siti Imaniatul Muflihatin* Ramadhan selalu datang dengan atmosfer yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang berubah dalam ritme kehidupan. Malam terasa lebih hidup, masjid lebih ramai, dan banyak orang tiba-tiba menemukan kembali kedekatan yang lama terasa jauh. Al-Qur’an yang sebelumnya hanya sesekali dibuka menjadi bacaan harian. Dzikir lebih sering terdengar.

Puasa dan Perut: Membaca Kembali Hadis “Satu Usus” di Bulan Ramadhan

Oleh: Helmi Nawali* Ada sebuah hadis yang kerap terdengar di bulan Ramadhan, namun jarang benar-benar direnungkan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “Orang yang beriman itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-Nasai, Ahmad). إِنَّ المُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالكَافِرَ