MIU Login

Daftar Artikel

Belajar Jadi Penghuni Surga dari Sahabat Anshar

Oleh: Arief Rahman Hakim* Puasa itu unik. Sangat unik. Kalau salat, orang bisa lihat kita berdiri dan rukuk. Zakat, orang bisa tahu kita memberi. Haji, apalagi—foto-fotonya bisa tersebar ke mana-mana. Tapi puasa? Siapa yang benar-benar tahu kita puasa atau tidak? Hanya dua: kita dan Allah SWT. Di zaman serba digital

Maghfirah yang Mengalir: Ampunan Allah dalam Irama Puisi Arab

Oleh: Nur Hasaniyah* Hari keempat Ramadhan telah tiba. Setelah hembusan rahmat yang menyapa di hari pertama, kini jiwa kita memasuki fase yang lebih dalam: maghfirah, pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melimpah ruah. Puasa bukan lagi sekadar penahanan nafsu, melainkan undangan terbuka untuk membersihkan hati dari noda masa lalu. Dalam

Puasa: Puisi Jiwa yang Ditulis dengan Tinta Takwa (Ramadhan dalam Cermin Sastra Arab)

Oleh: Nur Hasaniyah* Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam, di mana puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri dan penguatan spiritual. Dalam perspektif humaniora, khususnya bahasa dan sastra Arab, Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber inspirasi yang kaya

Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

Oleh: Ustaz Tamim Mulloh, S.S., M.Pd. Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir sama: masjid penuh, tilawah meningkat, linimasa media sosial dipenuhi ayat dan hadis. Namun ada satu pertanyaan yang menurut saya jarang kita jawab dengan jujur: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita? Baca juga: Bagi saya, Ramadhan bukan sekadar

Menjadikan Ramadhan Sebagai Ruang Rekonsiliasi Diri

Oleh: Ustaz H. M. Faisol Fatawi Seperti pada umumnya, Ramadhan menjadi bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam. Kehadirannya sungguh sangat didambakan. Bukan saja karena Ramadhan menjadi momentum dari salah satu bulan yang dimuliakan dalam agama Islam, tetapi secara kultural telah melahirkan praktik budaya penyambutan yang beragam di tengah masyarakat.

Ilmu Humaniora di Tengah Zaman AI: Penjaga Makna di Era Mesin Cerdas

HUMANIORA – (6/1/2025) Perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) telah menjadi salah satu penanda paling kuat dari perubahan zaman. Mesin kini tidak hanya membantu manusia menghitung dan menyimpan data, tetapi juga mampu menulis teks, menerjemahkan bahasa, menganalisis wacana, bahkan menciptakan karya seni. Di tengah euforia efisiensi dan kecepatan ini,

Liburan Ala Humanis: Seni Menemukan Relevansi di Tengah Masa Rehat

HUMANIORA – (5/1/2026) Bagi mahasiswa, kata “liburan” sering kali memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah muara dari kelelahan setelah bergelut dengan tumpukan teks, analisis wacana, dan diskusi filosofis yang menguras energi. Di sisi lain, liburan adalah ruang laboratorium bebas di mana teori-teori tentang manusia, bahasa, dan budaya yang

Hancurkan Stereotip! Lulusan Sastra Jadi Penguasa di Dunia Kerja

HUMANIORA (17/3/2025) – Bahasa merupakan alat utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa, komunikasi tidak akan berjalan dengan sempurna. Lebih dari sekadar alat tukar informasi, bahasa juga memiliki peran penting dalam dunia sastra. Melalui bahasa, sastra hadir sebagai wadah untuk menangkap, mengungkapkan, dan menyebarkan gagasan, ide, serta pemikiran. Namun, di tengah tingginya

Perbedaan Shouman dan Shiyaman dalam Puasa: Makna dan Implementasinya

HUMANIORA (6/3/2025) – Ketika berbicara tentang puasa, sebagian besar umat Islam mungkin hanya mengenal istilah Shiyam sebagai rujukan. Namun, dalam kajian bahasa Arab, ternyata ada dua istilah yang memiliki perbedaan makna mendalam: Shouman dan Shiyaman. Topik ini menjadi sorotan utama dalam podcast bersama Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa

Membedah Lafal Niat Puasa Ramadhan: Antara Ramadhana dan Ramadhani

HUMANIORA (6/3/2025) – Di bulan Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Salah satu amalan yang tak terpisahkan adalah berpuasa, yang harus diawali dengan niat. Namun, ada perbedaan dalam melafalkan niat puasa, terutama pada kata Ramadhan. Perbedaan ini menjadi topik menarik dalam sebuah podcast yang menghadirkan Dr. Halimi Zuhdy,