
Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si., CIQnR Di suatu forum ujian, terjadi tanya jawab antara dosen dan mahasiswa yang diuji. Dosen menanyakan metode penelitian apa yang digunakan untuk menyelesaikan tugas akhir. Mahasiswa menjawab “metode penelitian kualitatif.” Selanjutnya dosen mengajukan beberapa pertanyaan teknis, seperti berapa lama penelitian dilakukan, apa saja
Apa Itu Kuasi Kualitatif?[1] Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si., CIQnR.[2] Dalam metode penelitian dikenal sebuah desain penelitian yang disebut “kuasi kualitatif.” Tidak jarang konsep ini membingungkan, terutama bagi peneliti pemula. Ada yang menganggap “kuasi kualitatif” sama dengan kualitatif atau disebut deskriptif kualitatif, sebuah konsep yang dianggap salah kaprah. Para
Tulisan ke-12 Mudjia Rahardjo Jika sudah berhasil menemukan masalah yang akan diteliti dan menyusun rumusan masalah dalam kalimat pertanyaan yang spesifik, selanjutnya peneliti menjelaskan masalah tersebut melalui teori yang tersusun dalam satu kerangka teoretik. Kerangka teoretik sering disebut theoretical perspective, theoretical review, atau theoretical rationale (Silalahi, 2017:156). Menurut Moh. Nasir
(Tulisan ke-11) Mudjia Rahardjo Seperti halnya penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga memiliki beragam jenis (types). Ada juga yang menyebutnya metode (methods) dan pendekatan (approaches), sehingga sering menimbulkan kebingungan. Untuk mengatasi kebingungan, solusinya adalah pilih saja satu istilah, gunakan secara konsisten dan tidak perlu mempermasalahkan keragaman istilah tersebut. Pahami esensi makna
Tulisan ke-10 Mudjia Rahardjo Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif berangkat dari akar pemikiran filosofis yang berbeda, sehingga wajar jika keduanya menggunakan metode, prosedur dan teknik pengumpulan data berbeda. Untuk memudahkan pemahaman, perbedaan tersebut diuraikan dalam tabel berikut: No Metode Kuantitatif Metode Kualitatif 1 Berangkat dari paradigma positivistik yang memandang bahwa
(Tulisan ke-9) Mudjia Rahardjo Seorang peneliti memilih suatu metode tertentu selalu berdasarkan filsafat yang melandasinya. Misalnya, metode penelitian kualitatif tak dapat dipisahkan dari pandangan filsafat tentang manusia. Sebagaimana telah diungkap di awal naskah ini, metode penelitian kualitatif berada di bawah payung paradigma interpretivisme. Meminjam ungkapan Liliweri (2018), paradigma ini berpendekatan
(Tulisan ke-8) Mudjia Rahardjo Setelah menemukan masalah yang akan diteliti, seorang peneliti selanjutnya menulis latar belakang masalah penelitian. Melalui latar belakang, peneliti akan menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain. Keraf (1997:34) menyatakan bahwa tujuan tulis-menulis atau karang-mengarang adalah untuk mengungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap dan isi pikiran kepada pembaca secara
(Tulisan ke-7) Mudjia Rahardjo Setelah berhasil menemukan masalah, tema atau topik yang akan diteliti, selanjutnya peneliti menyusun rumusan masalah (research questions). Menemukan masalah dan selanjutnya merumuskannya merupakan tahap permulaan penelitian dari tahapan-tahapan yang lain dan diakui tidak mudah. Penelitian berawal dari masalah dan dilakukan untuk menjawab masalah. Memilih satu masalah
(Tulisan ke-6) Mudjia Rahardjo Semua penelitian berangkat dari masalah. Memilih masalah penelitian bukan pekerjaan mudah. Diperlukan keseriusan, renungan mendalam dan tidak tergesa-gesa, dan waktu yang cukup agar menghasilkan masalah yang berkualitas. Jangan sampai terjadi masalah yang diangkat sebenarnya bukan masalah atau sesuatu yang bisa dipermasalahkan orang lain. Masalah penelitian bukan
Mudjia Rahardjo (Tulisan ke-5) Sebagai makhluk berkesadaran, manusia melakukan suatu kegiatan tentu memiliki tujuan. Demikian halnya dengan penelitian, terkandung beragam maksud atau tujuan dari kegiatan tersebut. Ada yang ingin meningkatkan karier profesinya, memeroleh bahan pertimbangan mengambil keputusan tepat dan akurat atas suatu persoalan, memperbaiki sesuatu untuk menjadi lebih baik,