Menjelang Idul Adha, suasana masyarakat perlahan berubah. Di pasar hewan, orang mulai mencari kambing dan sapi terbaik. Di media sosial, berbagai unggahan tentang persiapan kurban mulai bermunculan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: sebenarnya apa yang sedang diajarkan Idul Adha kepada manusia modern? Apakah sekadar membeli hewan kurban, atau ada pelajaran yang jauh lebih dalam tentang kehidupan?
Baca juga:
- Tingkatkan Kolaborasi Antar Kampus, HMPS BSA UIN Malang Gelar Sharing Session bersama HMD SA UM
- Dari Sastra Inggris ke Industri Fashion Muslim: Jejak Inspiratif Diana Manzila, Owner Kimya
Hari ini dunia bergerak dengan logika “memiliki”. Semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula ia dianggap berhasil. Ukuran kebahagiaan sering ditentukan oleh rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mahal, dan gaya hidup yang lebih mewah. Manusia modern didorong untuk terus mengumpulkan, menyimpan, dan mengejar kepemilikan tanpa batas. Bahkan media sosial ikut memperkuat budaya itu dengan menjadikan pencapaian materi sebagai tontonan sehari-hari.
Dalam al-Qur’an kita semua diingatkan: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (QS. Al-Takatsur: 1). Ayat ini menyadarkan bahwa sikap berlomba-lomba dalam kepemilikan dunia dapat membuat manusia lalai dari tujuan hidup yang hakiki, yaitu ibadah, kebaikan, dan persiapan menuju akhirat.
Imam al-Thabari dalam tafsirnya menyatakan bahwa pengertian ayat tersebut mencakup sikap berlomba-lomba dalam jumlah, harta, kedudukan, kerabat, pendukung, dan pasukan. Singkatnya, ayat ini mencakup sikap berlomba dalam segala hal yang berkaitan dengan dunia, kenikmatan, dan syahwatnya. al-Thabari juga mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muthorrif bin Abdillah, yaitu “Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal, tidak ada bagian dari hartamu kecuali apa yang engkau makan lalu habis, atau yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu menjadi bekal yang kekal.”
Hadis Nabi Muhammad saw. tersebut juga mempertegas bahwa pada hakikatnya harta yang benar-benar “menjadi milik” manusia hanyalah tiga hal: makanan yang telah dimakan, pakaian yang telah dipakai, dan sedekah yang telah diberikan. Selain itu, harta hanya akan ditinggalkan atau diwariskan kepada orang lain. Karena itu, Islam tidak melarang memiliki harta, tetapi mengingatkan agar manusia tidak diperbudak oleh harta dan tidak menjadikannya sebagai sumber kesombongan maupun ukuran utama kebahagiaan.
Dalam situasi dan gegap gempita kehidupan modern, Idul Adha hadir membawa pesan yang berbeda. Islam justru mengajarkan “memberi”. Ketika banyak orang berlomba menumpuk kepemilikan, Islam mengajarkan bahwa sebagian dari apa yang kita miliki sesungguhnya adalah hak orang lain. Karena itu, kurban bukan sekadar ibadah ritual, melainkan latihan spiritual agar manusia tidak diperbudak oleh rasa memiliki yang berlebihan.
Kisah Nabi Ibrahim menjadi inti dari pelajaran besar tersebut. Nabi Ibrahim diuji bukan pada sesuatu yang tidak dicintainya, melainkan pada hal yang paling dicintainya. Dari sana kita belajar bahwa iman bukan hanya tentang apa yang kita yakini, tetapi juga tentang apa yang rela kita lepaskan demi kebaikan dan ketaatan. Pengorbanan sejati selalu menyentuh hati, bukan sekadar harta.
Di era sekarang, pengorbanan justru menjadi sesuatu yang mahal. Banyak orang mudah mengeluarkan uang untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi terasa berat ketika harus berbagi kepada sesama. Kita hidup di tengah budaya konsumtif yang sering membuat manusia takut berkurang. Akibatnya, memberi kadang dianggap kehilangan, padahal dalam ajaran Islam memberi justru menjadi jalan keberkahan.
Idul Adha mengingatkan bahwa hidup tidak akan pernah tenang jika hanya dipenuhi keinginan untuk memiliki. Sebab keinginan manusia selalu bertambah. Hari ini ingin satu hal, besok ingin hal lain lagi. Karena itu Islam mengajarkan keseimbangan: bekerja dan memiliki itu penting, tetapi berbagi dan peduli jauh lebih memanusiakan. Nilai seseorang bukan hanya diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan, tetapi juga dari apa yang mampu ia berikan.
Makna kurban sesungguhnya juga berkaitan dengan kepekaan sosial. Di balik daging yang dibagikan, ada pesan tentang solidaritas dan persaudaraan. Islam tidak ingin kebahagiaan hanya dirasakan oleh mereka yang mampu. Karena itu Idul Adha menjadi momentum untuk menghadirkan senyum bagi mereka yang mungkin jarang menikmati makanan layak dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah ibadah bertemu dengan kemanusiaan.
Menjelang Idul Adha, mungkin yang perlu dipersiapkan bukan hanya anggaran untuk membeli hewan kurban, tetapi juga kesiapan hati untuk menjadi manusia yang lebih peduli. Sebab yang paling sulit bukan membeli kambing atau sapi, melainkan mengalahkan ego diri sendiri. Tidak semua orang diuji dengan kekurangan; sebagian justru diuji dengan kelapangan dan kepemilikan.
Idul Adha mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, tetapi tentang seberapa tulus kita mampu memberi. Saat dunia terus mendorong manusia menjadi semakin individualistis, Islam menghadirkan nilai pengorbanan dan kepedulian sebagai jalan menjaga kemanusiaan. Karena itu, semakin dekat dengan Idul Adha, semakin penting bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini kita hanya sibuk memiliki, atau sudah mulai belajar memberi? [ai]





