MIU Login

Idul Qurban, Momen Keberanian Bertindak

Dengan keyakinannya yang teguh, Nabi Ibrahim berani memberangus berhala-berhala sembahan raja Namruz dan masyarakatnya. Disebutkan dalam Alquran, bahwa Ibrahim memasuki tempat peribadatan dengan membawa kapak. Ia hancurkan patung-patung kecil menjadi berpotong-potong, kecuali yang terbesar yang dianggap sebagai induk dari semua patung yang ada di situ. Namun tidak semua dihancurkan, ia sisakan satu yang terbesar dalam keadaan utuh. Kenapa dibiarkan utuh, agar mereka tahu bahwa yang besar sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ketika yang ada di sampingnya mendapat gangguan sedemikian rupa. “Bukankah ia yang memegang kapak, tanyakan saja padanya siapa yang melakukan ini !” Jawab Ibrahim ketika diinterogasi oleh  raja Namruz  mengenai tindakan penghinaan itu. Dari kejadian tersebut masyarakat pengikut Namruz itu sadar, namun tidak beberapa lama mereka kembali seperti semula.

Baca juga:

Menilik peristiwa itu, Ibrahim-Ibrahim di masa kini harus berani melakukan tindakan seperti apa yang dilakukan Nabi Ibrahim di atas. Berhala di jaman modern ini, bisa berwujud ambisi yang tak terukur dengan mengesampingkan aturan etika. Ada adagium Arab yang berbunyi “an-Nas ala dini mulukihim” agama masyarakat mengikuti agama pemimpinnya. Agama di sini tentu bukan dalam artian teologis, tapi merupakan konstruksi pikiran atau spirit mental yang menggerakkan aktivitas fisik. Bagaimana tindak-tanduk pemimpin akan dilihat kemudian secara refleks masyarakat yang dipimpin mengikutinya. Oleh karena itu, dalam sejarah peradaban Islam, situasi sosial politik di masa khulafa’ rasyidun relatif terkendali oleh spirit keagaamaan karena para khalifah mampu mengendalikan diri, bahkan rela berkorban untuk masyarakatnya.

Kini marilah kita perhatikan di sekitar kita, korupsi dan tipu daya dengan berbagai modus telah terjadi begitu dekat dengan kita, dari hal yang besar seperti kursi dan jabatan sampai ke hal-hal kecil seperti belanja harian sebuah kantor. Siapa yang memberi contoh demikian ? Tak syak lagi ini adalah buah tradisi yang telah melekat begitu kuat. Meskipun demikian, bukan berarti tidak bisa dirubah, pasti bisa, asal mau dan diperketat pengawasan untuk melakukan tindakan yang menyalahi aturan tersebut.

Perubahan dimulai dari penguatan spirit tauhid atau agama, karena ialah yang menjadi inti peradaban manusia. Seperti Nabi Ibrahim yang tidak meninggalkan bangunan fisik selain Ka’bah, tetapi mental imandan ketauhidan yang ditanamkan kepada anak-anak dan istrinya menjadikan dia guru  untuk generasi-generasi berikutnya. Demikian juga Nabi kita, Muhammad Saw dan para Khulafa’ Rasyidun penggantinya, tidak ada peninggalan berupa bangunan fisik yang megah, tetapi mereka meninggalkan fondasi yang teramat bernilai dan lebih megah, karakter dan keimanan. Bukankah ini lebih penting, karena di atas fondasi yang kuat berupa spirit keimanan itu akan bisa dengan mudah dibentuk bangunan dalam bentuk apa saja. Tetapi sebaliknya, bila karakter dan keimanan lemah, bangunan sekuat apapun akan mudah diruntuhkan. 

Ketauhidan yang telah menancap kuat pada Nabi Ibrahim masih dirasa perlu pembuktian lewat pengamatan matanya sendiri. oleh karena itu, dia pernah mengajukan permohonan agar djperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan orang-orang yang telah mati. Apakah kau belum percaya ? Aku percaya, tapi agar imanku tambah kuat, jawab Ibrahim. Kalau demikian ambillah empat ekor burung, potong-potong tubuhnya lalu ikat potongan-potongan itu. Setelah itu letakkan di atas tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera (Qs, al-Baqarah ; 260). Setelah peristiwa ini Nabi Ibrahim semakin mantap dalam keyakinannya. Tetapi, hidup tidak pernah berjalan tanpa ujian, begitu juga yang dialami Nabi Ibrahim. Telah lama ia mendambakan  keturunan, setelah lahir anaknya, diuji oleh Tuhan keikhlasannya.

Ujian yang diterima tidak tanggung-tanggung, ia disuruh menyembelih putranya. Rupanya cinta Ibrahim pada Tuhan tidak terkalahkan, perintah itu tetap dilaksanakan, meskipun diawali rasa ragu, karena khawatir perintah yang diterima bukan berasal dari Tuhan, melainkan dari syaithan. Yang menarik, ia masih meminta pendapat putranya ketika hendak melaksanakan perintah tersebut.  Inilah pelajaran demokrasi dari seorang Nabi yang hidup kira-kira 2500 tahun sebelum Masehi. Nabi Ibrahim mau minta pendapat, bukan dengan orang yang sederajat, tapi dengan seorang anak yang masih bau kencur dan tidak seberapa bila dibanding dengan ilmu dan pengalaman. Meskipun ia tahu itu perintah itu Tuhan, tidak dengan serta merta ia memaksa putranya untuk mematuhi. Bagaimana dengan keberagamaan kita saat ini. Begitu banyak orang yang memaksakan kehendak hanya didasari asumsi (al-dhann) bahwa yang dilakukan merupakan perintah Tuhan. Anehnya pemaksaakan itu sering diiringi tindakan anarkhis. Lalu apakah pernah mereka mempertanyakan, paling tidak kepada dirinya sendiri, “Apakah tindakan anarkhis itu adalah perintah Tuhan ? Dengan sikap sedemikian lembut, berkata kepada anaknya,”Nak, aku diperintahkan untuk menjadikan kamu sebagai “persembahan”, bagaimana pendapatmu ? Tanpa bertanya, putranya langsung menunjukkan kesediaannya.

Agama mengajarkan tasamuh, toleransi terhadap keyakinan yang dianut orang lain. Seperti Nabi Ibrahim yang telah mengetahui ayahnya sendiri bersama kaumnya tersesat, ia hanya memberi nasihat agar beralih kepada kebenaran, sembari menunjukkan secara rasional dan empiris pada titik yang mana ketersesatan itu. Ketika mereka tidak mau menerima nasihat dan ajakan, Ibrahim hanya berdo’a semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Ini juga yang dilakukan Nabi kita ketika dilempari batu oleh masyarakat Tha’if yang diharapkan mau menerima dan mengikuti ajarannya. “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka sesungguhnya belum mengerti”  katanya. Toleransi meniscayakan rasa hormat dan menghargai kepada yang berbeda, dengan asumsi masih ada kebenaran di balik tindak-tanduknya yang salah.

Selain toleransi, agama mengajarkan keikhlasan, yaitu amal, baik duniawi maupun ukhrawi yang tidak dilandasi pamrih. Sebenarnya, dalam Islam tidak ada pembagian amal duniawi dan ukhrawi, karena semua amal menjadi catatan yang merupakan investasi akhirat. Ingat sabda Nabi, “Suatu perbuatan yang tampak sebagai amal duniawi, karena niat yang benar menjadi amal akhirat. Sebaliknya, yang tampak sebagai ibadah ukhrawi, karena niatnya yang keliru hanya menjadi amal duniawi.” Ini berarti semua amal perbuatan adalah ukhrawi. Dengan bahasa yang lain, diumpakan rapor, untuk contoh yang pertama rapornya di akhirat berwarna biru, sedangkan yang kedua merah. Membangun jembatan, pasar, balai pertemuan, bahkan hanya rembug kecil soal got demi lancarnya aliran air, bila niatnya ikhlash, termasuk amal akhirat. Membangun tempat ibadah, mengadakan kenduri, bahkan berhaji ke tanah suci dengan maksud agar dipandang relijius dan bersih setelah melakukan korupsi adalah amal duniawi, dan di akhirat kelak rapornya merah.

Ikhlas dibangun di atas fondasi spiritual yang tidak mempertanyakan kenapa diperintahkan melakukan sesuatu. Perintah dan larangan oleh Tuhan, manfaatnya jelas akan kembali kepada kita sendiri. Ikhlas juga dibangun di atas prinsif  tanpa melihat apa yang diperoleh setelah melaksanakan perintah. Ibadah yang kita lakukan mestinya didasari rasa ikhlas itu, bukan karena yang lain-lain, termasuk bukan karena mengharap surga atau takut neraka. Wacana sosial-keagamaan para sufi berorientasi pada prinsif seperti ini, sehingga ada anekdot seorang sufi yang menenteng kendi dan obor, air di kendinya untuk  memadamkan api neraka sedangkan obornya untuk membakar surga. Dengan tidak adanya surga dan neraka, orang akan bisa beribadah dengan ikhlas. Begitu menurut sang sufi.

Belajar dari Ibrahim, kita temukan Tuhan pada pengendalian diri, bukan pada kepemilikan harta karena jabatan atau kekuasaan. Belajar dari Ibrahim, kita harus berani memberantas kemungkaran berbekal ketulusan untuk membangun negeri dan bangsa ini. Nabi Ibrahim tidak takut kecuali kepada kesalahan melanggar amanat sosial dan Tuhan. Keberanian melanggar amanat sosial dan Tuhan itu tidak akan menghalangi manusia dari kematian, tetapi justru menghalangi dari hidup yang wajar. Akhirnya, kita harus berusaha seperti yang tersirat dalam do’a Nabi Ibrahim  “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini  (Indonesia) negeri yang aman, jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala (harta dan kekuasaan), dan berikanlah rizki mereka yang halal dari tanah yang subur ini, mudah-mudahan mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur”. Selamat Hari Raya Idul Adha !

Ahmad Kholil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait