HUMANIORA – (11/6/2026) Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu menghasilkan teks, puisi, cerita, hingga argumentasi secara otomatis menghadirkan tantangan baru bagi dunia akademik. Di tengah melimpahnya informasi yang diproduksi teknologi, para akademisi humaniora justru dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana menjaga makna, nilai, dan kemanusiaan di era ketika mesin mulai mengambil alih sebagian fungsi bahasa.
Baca juga:
- Humaniora Sosialisasikan I-SMASH 2026, Buka Jalan Mahasiswa Menembus Pengalaman Global
- Tunjukkan Kreativitas di Bidang Broadcasting, Mahasiswa Humaniora Raih Juara 2 Voice Over Nasional
Isu strategis tersebut menjadi fokus pemaparan Prof. Dr. Rahmah binti Ahmad H. Osman dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dalam kegiatan International Academic Sharing for Quality Research Enhancement (IASQRE) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Kampus III, Batu, Rabu (10/6/2026). Mengangkat tema Reimagining Linguistics and Literary Studies in the Age of Artificial Intelligence, Prof. Rahmah mengajak para dosen untuk meninjau kembali posisi linguistik dan sastra dalam menghadapi transformasi teknologi global.

Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya menghadirkan perubahan teknis dalam cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga memunculkan tantangan epistemologis dan kultural yang memerlukan respons serius dari kalangan akademisi. Ketika mesin mampu menulis dan menghasilkan informasi dalam skala besar, tugas ilmu bahasa dan sastra tidak lagi sekadar mengkaji struktur bahasa atau teks, melainkan memahami bagaimana makna dibangun dan dipertahankan dalam kehidupan manusia.
Prof. Rahmah menjelaskan bahwa dunia saat ini sebenarnya tidak sedang mengalami kekurangan informasi. Sebaliknya, manusia hidup dalam era dengan akses data dan pengetahuan yang sangat melimpah. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul persoalan yang lebih mendasar, yakni krisis makna. Banyak informasi tersedia, tetapi tidak selalu diiringi kemampuan untuk memahami nilai, tujuan, dan implikasi kemanusiaan dari informasi tersebut.
Dalam konteks itulah, linguistik dan sastra memperoleh relevansi baru. Jika teknologi berfungsi memproduksi dan menyebarkan informasi, maka humaniora memiliki tugas untuk menjaga kedalaman pemahaman manusia terhadap pengalaman hidup, budaya, identitas, dan nilai-nilai yang membentuk peradaban. Menurutnya, sastra tetap memiliki posisi unik karena mampu menghadirkan empati, refleksi, dan pengalaman batin yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh mesin.


Ia menegaskan bahwa meskipun AI mampu menghasilkan kalimat yang koheren dan menyerupai karya manusia, teknologi tersebut tidak memiliki pengalaman eksistensial yang menjadi sumber lahirnya makna. Mesin dapat meniru bahasa tentang kesedihan, cinta, atau kehilangan, tetapi tidak pernah benar-benar mengalami emosi tersebut sebagaimana manusia.
Karena itu, Prof. Rahmah mengingatkan bahwa perkembangan AI harus dipahami bukan semata sebagai isu teknologi, melainkan isu peradaban. Bahasa selalu membawa nilai budaya, sejarah, dan cara pandang suatu masyarakat. Apabila teknologi berkembang tanpa mempertimbangkan dimensi kemanusiaan tersebut, maka risiko kehilangan identitas dan orientasi nilai akan semakin besar.
Dalam bidang pendidikan tinggi, ia mendorong universitas untuk melakukan transformasi paradigma. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis, tetapi juga harus membentuk individu yang mampu berpikir kritis, memiliki kebijaksanaan, dan sanggup mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis.
Ia menekankan bahwa ketika teknologi mampu mengajarkan keterampilan secara cepat dan efisien, maka universitas harus mengambil peran sebagai ruang pembentukan karakter intelektual yang mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, pendidikan tinggi tetap memiliki fungsi strategis dalam membangun peradaban yang beretika di tengah perkembangan AI yang semakin pesat.

Melalui forum IASQRE 2026, Fakultas Humaniora tidak hanya menghadirkan ruang berbagi akademik internasional, tetapi juga mendorong lahirnya refleksi kritis mengenai masa depan ilmu bahasa dan sastra. Diskusi tersebut menegaskan bahwa di era kecerdasan buatan, humaniora justru semakin dibutuhkan untuk menjaga makna, memperkuat kebijaksanaan, dan memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi Prof. Rahmah, masa depan tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang berhasil diciptakan, melainkan oleh kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi tersebut secara bijaksana. Karena itu, para akademisi, peneliti, dan mahasiswa humaniora perlu mengambil peran sebagai penjaga makna (guardians of meaning) agar kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan kemajuan peradaban manusia. [al/Infopub]





