MIU Login

Dari Sastra Inggris ke Industri Fashion Muslim: Jejak Inspiratif Diana Manzila, Owner Kimya

Tidak banyak yang menyangka bahwa perjalanan akademik di bidang sastra dapat bermuara pada kesuksesan di dunia industri fashion muslim. Namun, itulah yang dibuktikan oleh Diana Manzila, alumni Program Studi Sastra Inggris tahun 2013 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kini, ia dikenal sebagai owner Kimya, sebuah industri berskala nasional di dunia jilbab dan mukenah yang terus berkembang dan memiliki pasar yang luas hingga manca negara.

Baca juga:

Padahal, ia mengaku sejak kuliah yang ia tekuni adalah jurnalistik, mulai aktif di media kampus – organisasi ekstra sampai media online yang di miliki oleh PBNU (NU Online). Ketertarikannya akan dunia tulis – menulis membawanya berkutat di media online nasional sekaliber NU Online. Namun pasca menikah, dan pandemi semuanya berubah, dan dunia online yang sebelumnya hanya tulis menulis bergerak dan mulai mecoba dunia enterpreneur, fashion muslimah terkhusus Mukenah.

“Sebenarnya, kesempatan itu didukung oleh masyarakat yang masih awam akan tiktok, dan peralihan budaya dari belanja offline ke online” dua proses itulah yang menyokong atau bisa di bilang peruntungan yang membuat bisnis fashion berkembang pesat. Puncaknya, 2019 dunia fashion beralih pada pembelian di layar kaca dengan system “Live”, melihat detail dan bahan dijelaskan secara virtual.

Beberapa owner yang tidak cakap akan perubahan style pembeli dengan live, pasti akan tertinggal dan tidak bisa menikmati ceruk pasar yang lebih besar lagi. Beberapa bahkan memaki pola pasar yang mulai beralih pada live tiktok atau shopee, dan masih mengandalkan system reseller atau dropshipper.

Pepatah mengatakan, yang tidak akan berubah adalah “Perubahan itu sendiri”, jadi lompatan perubahan pasar itulah yang di manfaatkan perempuan yang sering dipanggil “Zila” itu untuk mengenalkan produknya pada khalayak ramai bahkan dunia.

Baginya, live tiktok & Shopee itu hasil checkout itu bonus, tapi dengan itu branding mukenanya mulai dikenal pasar dunia. Banyak dari customer luar negeri seperti Malaysia, Singapore, Rusia, Dubai, Brunai, mengenal Kimya dari video-video di tiktok lalu me-reach-out kontak yang tertera pada instagram official untuk order dalam jumlah yang tidak sedikit untuk dijual lagi di negaranya.

Perjalanan menuju kesuksesan tentu tidak instan. Jatuh bangun didunia bisnis itu pasti, setiap pasar ada pasang dan surut. Seperti disebutkan diawal, perubahan dalam dunia digital sangat cepat. Tantangan untuk dunia fashion, adalah timing.
Waktu terus berjalan. Tantangan demi tantangan terus datang silih berganti, mulai dari kompetitor, permintaan pasar, hingga mesin produksi.

Karena Kimya yang di nahkodai Diana Manzila adalah bisnis yang mulai dari hulu ke hilir, dengan sistem produksi sendiri, maka ekosistem yang bergantung pada bisnis ini sangat banyak, mulai dari team sewing (potong kain), jahit, operasional, admin, kepala produksi, host live, hingga team kreatif. Kreatifitas menjadi salah satu kunci utama.

Zila pun mulai masuk dunia digital, terjun dalam Open Affiliasi baik di e-commerce Shopee atau Tiktok. Di saat dunia digital berkembang dengan pesat, marketing tidak bisa disokong satu akun, tapi dunia digital menciptakan marketing-marketing baru bernama “Affiliasi” . Saat ini, seller tidak bisa berdiri sendiri didunia marketplace, kalau tidak mau tertinggal semuanya harus mau berkolaborasi dengan para konten kreator, dengan menautkan keranjang kuning di video-video mereka. Meski dengan begini, brand harus berbagi keuntungan dengan para affiliasi, namun omset yang dihasilkan juga tidak main-main.

Open Affiliasi bagi seller sama halnya membuka toko baru diberbagai daerah, dipromosikan dibanyak akun, ahirnya memiliki benefit branding awarness yang akan menguntungkan sebuah “Brand” dalam jangka panjang.

Hingga saat ini, yang terdaftar menjadi Affiliate Kimya tidak kurang dari dua ribu bahkan lebih. Manzila mengingat betul pentingnya nilai kebermanfaatan dalam setiap aktifitas kehidupan, apalagi dalam dunia bisnis. “Keuntungan terbesar bagi seorang pedagang adalah kebermanfaatan bukan semata laba”. Pondasi inilah yang terus ia pegang dan memberinya suntikan semangat untuk terus belajar di dunia bisnis atau marketing digital, karena yang bergantung pada Kimya saat ini bukan satu keluarganya saja, tapi banyak kepala keluarga.

Ketekunan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun Kimya. Dengan mengedepankan kualitas produk serta kepekaan terhadap kebutuhan pasar, usaha yang dirintisnya perlahan tumbuh, semakin besar dan menjangkau pasar luar hingga manca negara. Kimya kini dikenal sebagai brand yang menghadirkan jilbab dan rukuh dengan desain elegan, nyaman, dan sesuai dengan nilai-nilai muslimah modern.

Menariknya, latar belakang keilmuan Sastra Inggris justru memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan bisnis Manzilah. Kemampuan komunikasi, berpikir kritis, serta pemahaman lintas budaya yang ia peroleh selama kuliah menjadi bekal penting dalam membangun branding, menjalin relasi, hingga memasarkan produk di era digital. Ia mampu meramu narasi brand yang kuat dan menyentuh, sehingga Kimya memiliki identitas yang khas di tengah persaingan industri.

Bagi Manzilah, ilmu humaniora tidak pernah sia-sia. Justru, ia menjadi fondasi dalam membentuk cara pandang yang kreatif dan adaptif terhadap perubahan. Ia meyakini bahwa setiap pengalaman belajar, sekecil apa pun, memiliki peran dalam membentuk perjalanan hidup seseorang.

Dalam pandangan Manzilah, kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan pemahaman lintas budaya menjadi modal dasar untuk selalu mengeksplorasi potensi diri di berbagai situasi. Ia berpesan kepada mahasiswa dan alumni Fakultas Humaniora untuk tidak ragu mengeksplorasi dan mengemmbangkan potensi diri. “Jangan takut melangkah di luar zona nyaman. Ilmu (Humaniora, red) yang kita pelajari di kampus adalah bekal yang sangat berharga, tinggal bagaimana kita mengembangkannya dalam kehidupan nyata,” ujarnya. Kisah Manzilah ini menjadi inspirasi bahwa jalan sukses dapat ditempuh dari berbagai arah, termasuk dari dunia humaniora menuju industri kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait