MIU Login

Ketika Keraguan Menjadi Kenangan dan Bahasa Bukan Lagi Penghalang

Ada perjalanan yang tidak hanya membawa seseorang berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) di Thailand merupakan salah satu perjalanan semacam itu. Program ini bukan sekadar agenda mobilitas mahasiswa atau praktik lapangan di luar negeri, melainkan ruang belajar yang mempertemukan saya dengan keraguan, keberanian, perbedaan budaya, serta pelajaran berharga tentang arti komunikasi dan pengabdian.

Baca juga:

Saya ditempatkan di Pattanasat Witthaya School Tha Sae, sebuah sekolah Islam swasta kecil di Desa Tha Sae, Provinsi Chumphon, Thailand. Sekolah ini memiliki sekitar 200 siswa dengan dua jenjang pendidikan, setara sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, serta didukung oleh 14 tenaga pengajar. Di tempat inilah saya menjalani hari-hari yang pada awalnya dipenuhi pertanyaan dan kekhawatiran, tetapi kemudian berubah menjadi pengalaman yang membekas hingga hari ini.

Saat pertama kali tiba di Chumphon, yang paling kuat saya rasakan bukanlah panas udaranya, melainkan kegugupan yang terus memenuhi kepala. Ada banyak pertanyaan yang muncul secara bersamaan: apakah saya mampu beradaptasi, bagaimana saya akan berkomunikasi, dan apakah saya bisa menjalankan tugas dengan baik di lingkungan yang sama sekali baru. Sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab yang mengikuti program student mobility di luar negeri, saya ingin memberikan kesan terbaik. Namun di saat yang sama, saya juga menyadari bahwa saya sedang berhadapan dengan situasi yang tidak sepenuhnya saya kuasai.

Kegugupan itu semakin terasa ketika kami tiba di sekolah pada siang hari dan disambut langsung oleh para guru Pattanasat Witthaya School Tha Sae. Saya masih mengingat salah satu percakapan pertama yang terjadi saat bersalaman dengan seorang guru. Beliau bertanya dalam bahasa Inggris, “Apakah kamu bisa berbahasa Inggris, Arab, atau Melayu?” Saya sempat terkejut, lalu menjawab bahwa saya bisa sedikit berbahasa Melayu dan Inggris. Jawaban itu tampak sederhana, tetapi bagi saya saat itu, percakapan tersebut seperti pintu pertama yang harus saya buka untuk memasuki lingkungan baru. Respons hangat dari guru-guru di sana perlahan mengurangi ketegangan yang saya rasakan. Acara penyerahan mahasiswa oleh dosen pembimbing lapangan pun berlangsung lancar, dan sejak hari itu saya mulai merasa bahwa sekolah ini akan menjadi ruang belajar yang sangat berarti.

Hari pertama masuk sekolah menjadi salah satu momen yang tidak mudah saya lupakan. Pukul 07.30 pagi, para siswa sudah berbaris rapi di lapangan untuk mengikuti apel. Seusai apel, saya dan dua teman diminta memperkenalkan diri di hadapan seluruh siswa. Kami memilih memperkenalkan diri menggunakan tiga bahasa sebagai representasi latar keilmuan kami di Fakultas Humaniora: bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Pada momen itu, rasa gugup tentu masih ada. Namun, di saat yang sama, saya merasa bahwa inilah awal dari tanggung jawab kami sebagai mahasiswa yang tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga membawa identitas akademik dan budaya Indonesia ke ruang yang lebih luas.

Pada tahap awal, kami belum langsung memiliki jadwal tetap mengajar. Namun, salah satu guru bahasa Inggris, Khruu Mana, mengajak saya masuk ke kelas Primary 3 atau setara kelas 3 sekolah dasar. Bagi saya, pengalaman ini cukup menantang. Secara akademik saya berasal dari jurusan Bahasa dan Sastra Arab, tetapi di sana saya justru diberi kesempatan mengajar bahasa Inggris kepada siswa Thailand. Tantangan ini sempat membuat saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar mampu? Namun, dengan dukungan dan bimbingan dari Khruu Mana serta guru bahasa Inggris lainnya, saya perlahan menemukan kepercayaan diri. Saya belajar bahwa kemampuan seseorang tidak selalu dibatasi oleh label jurusannya, selama ia mau belajar, beradaptasi, dan mencoba.

Hari-hari berikutnya, kami mulai aktif mengajar sesuai jadwal yang telah disusun. Selain bahasa Inggris dan bahasa Arab, kami juga terlibat dalam pembelajaran bahasa Melayu. Kehadiran kami di sekolah ini diharapkan dapat mendorong siswa agar lebih percaya diri mempelajari bahasa asing serta memiliki motivasi lebih besar untuk terus belajar. Dari titik inilah saya mulai menyadari bahwa program seperti I-SMASH bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun semangat, kepercayaan diri, dan keberanian siswa untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas.

Salah satu pengalaman mengajar yang paling berkesan adalah ketika kami meminta izin kepada guru bahasa Melayu untuk mengubah salah satu sesi pembelajaran menjadi kelas pengenalan budaya Indonesia. Alhamdulillah, usulan itu diterima dengan baik. Kami pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenalkan beragam kekayaan budaya Indonesia, mulai dari rumah adat, pakaian tradisional, tarian daerah, makanan khas, hingga destinasi wisata populer. Melalui tayangan video Wonderful Indonesia, kami berusaha menunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan keindahan alam. Respons para siswa sangat antusias. Mereka banyak bertanya, bahkan beberapa di antaranya sudah mengenal Gunung Bromo. Bagi saya, momen ini terasa istimewa karena memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa dan budaya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan, dan membuka ruang dialog lintas negara sejak usia dini.

Di luar pembelajaran akademik, saya juga menyaksikan sisi lain dari kehidupan sekolah di Thailand melalui career class, yaitu kelas keterampilan nonakademik yang rutin diikuti siswa. Dalam kelas ini, mereka belajar membuat berbagai minuman sederhana seperti jus semangka, jus oreo, hingga air lemon, serta mengolah makanan dari bahan-bahan yang tidak biasa bagi saya, seperti bunga goreng berbalut tepung. Di sinilah saya mengalami culture shock kecil yang justru menyenangkan. Saya melihat bagaimana masyarakat Thailand memiliki kebiasaan kuliner yang berbeda, termasuk kegemaran mereka terhadap minuman bercita rasa asam yang cukup kuat. Pengalaman-pengalaman kecil seperti ini membuat saya menyadari bahwa pertukaran budaya tidak selalu terjadi dalam forum formal, tetapi justru sering muncul dari hal-hal sederhana yang kita jumpai setiap hari.

Salah satu program yang paling membekas selama kami berada di Pattanasat School adalah Shobahul Mufradat, yaitu kegiatan pengenalan kosakata empat bahasa—Arab, Inggris, Indonesia, dan Thailand—yang dilakukan setiap pagi setelah apel. Saya, Najma, dan Abdinda bergantian menyampaikan tiga kosakata sesuai tema tertentu setiap harinya. Program ini awalnya sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi salah satu jejak pengabdian yang paling nyata selama kami berada di sekolah tersebut. Dari kegiatan ini lahirlah gagasan untuk menyusun kamus mini empat bahasa sebagai kenang-kenangan bagi sekolah. Kamus tersebut tidak hanya menjadi simbol pembelajaran bahasa, tetapi juga penanda bahwa interaksi lintas budaya dapat melahirkan karya bersama yang bermanfaat.

Memasuki minggu kedua dan ketiga, kami menambahkan program pelatihan bagi siswa, yaitu membaca puisi berbahasa Arab, story telling berbahasa Inggris, dan nasyid. Saya mendapat tanggung jawab membimbing story telling untuk siswa jenjang menengah. Pengalaman ini menjadi salah satu tantangan terbesar sekaligus paling berkesan bagi saya. Kendala utamanya adalah kemampuan membaca huruf Latin para siswa yang masih terbatas, sehingga saya harus membacakan teks secara berulang, lalu meminta mereka menirukan satu per satu. Menariknya, mereka kemudian menuliskan cara baca kalimat-kalimat bahasa Inggris itu dengan huruf Thailand di atas teks. Bagi saya, metode itu bukan masalah, justru menjadi bukti bahwa mereka memiliki keinginan kuat untuk belajar dan mencari cara agar tetap bisa memahami materi.

Dalam pelatihan story telling tersebut, saya juga menghadapi tantangan lain: keterbatasan properti pendukung cerita. Karena akses keluar sekolah tidak mudah dan saya tidak mengetahui tempat untuk membeli perlengkapan, saya berusaha memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar sekolah. Saya membuat properti dari kaus kaki, kertas, botol bekas, dan batu-batu yang saya ambil dari halaman. Cerita yang saya bawakan adalah kisah burung gagak dan kendi, sehingga saya harus membuat boneka burung gagak sederhana dari kaus kaki hitam dan kendi dari botol bekas. Proses ini mungkin terlihat sepele, tetapi justru di situlah saya belajar tentang kreativitas, keterbatasan, dan kemampuan beradaptasi. Saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga soal mencari cara agar materi itu hidup, menarik, dan mudah diterima siswa.

Di sela-sela kegiatan sekolah, akhir pekan menjadi waktu untuk mengenal Chumphon lebih dekat. Guru pamong kami, Ustadzah Sakeenah dan Ustadz Sukri, beberapa kali mengajak kami berkeliling sebagai bagian dari proses adaptasi. Kami mengunjungi Pantai Thung Wae Laen yang indah dan mencicipi durian khas Chumphon yang terkenal murah. Pada akhir pekan berikutnya, kami diajak ke Air Terjun Kapoo, tempat yang sejuk dan asri, jauh dari hiruk-pikuk kelas dan rutinitas harian. Pengalaman-pengalaman ini mungkin tampak sederhana, tetapi justru memperkaya pemahaman saya tentang kehidupan masyarakat setempat. Thailand tidak lagi saya lihat hanya sebagai tempat menjalani program, tetapi sebagai ruang belajar yang utuh—tentang budaya, kebiasaan, alam, dan cara hidup.

Menjelang akhir program, perasaan saya mulai berubah. Jika di awal saya dipenuhi keraguan, maka di penghujung kegiatan justru muncul rasa berat untuk berpisah. Saat hari perpisahan tiba, saya tidak mampu menahan air mata. Sambutan yang sebelumnya sudah saya siapkan mendadak buyar. Kata-kata seolah tertelan oleh emosi yang datang tiba-tiba. Kehangatan para siswa dan guru selama tiga minggu membuat saya merasa benar-benar diterima dan dihargai. Saya tidak hanya datang sebagai mahasiswa tamu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan mereka, dan mereka pun telah menjadi bagian dari perjalanan saya.

Dari seluruh pengalaman itu, saya sampai pada satu kesimpulan penting: bahasa memang bisa menjadi tantangan, tetapi bukan penghalang. Yang paling menentukan justru adalah keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, dan kesediaan untuk membuka diri terhadap perbedaan. I-SMASH telah mengajarkan saya bahwa ketakutan di awal sering kali hanyalah pintu menuju pengalaman yang jauh lebih indah. Saya datang ke Chumphon dengan keraguan, tetapi pulang dengan kenangan, pembelajaran, dan keyakinan baru terhadap diri sendiri. Bagi saya, Chumphon bukan sekadar tempat penempatan program I-SMASH. Chumphon adalah ruang di mana saya belajar menjadi lebih berani, lebih lentur menghadapi perbedaan, dan lebih percaya bahwa pendidikan lintas budaya memiliki kekuatan besar untuk mengubah cara pandang seseorang. Jika ada yang bertanya apa pengalaman terbaik saya selama di Thailand, maka jawabannya sederhana: seluruh perjalanan di Chumphon adalah pengalaman terbaik itu sendiri. Di sanalah saya belajar bahwa keraguan bisa berubah menjadi kenangan, dan bahasa bukan lagi penghalang untuk saling memahami. [Nadia Sailil Fadhilah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait