HUMANIORA – (13/8/2026) Kesan pertama mahasiswa terhadap dunia kampus sering kali bermula dari hari-hari awal ketika mereka memasuki fakultas. Karena itu, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak ingin Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 berhenti sebagai agenda seremonial. Melalui rapat persiapan yang digelar Rabu (12/8/2026), panitia PBAK yang terdiri dari unsur dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa mematangkan berbagai detail pelaksanaan agar PBAK menjadi ruang penyambutan yang tertib, nyaman, informatif, sekaligus memperkenalkan karakter akademik Humaniora kepada mahasiswa baru.
Baca juga:
PBAK Fakultas Humaniora dijadwalkan berlangsung pada 19–20 Agustus 2026 dengan melibatkan panitia dari unsur dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Rapat persiapan menjadi forum untuk memastikan setiap bagian bergerak dalam koordinasi yang sama, mulai dari alur kegiatan, kesiapan pengisi acara, penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, konsumsi, fasilitas ibadah, kebersihan, hingga pendampingan mahasiswa baru.

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan Fakultas Humaniora, Dr. Galuh Nur Rohmah, M.Pd., M.Ed., menegaskan bahwa PBAK memiliki posisi penting dalam membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, mahasiswa perlu memperoleh pemahaman sejak awal mengenai kehidupan akademik, sistem pembelajaran, lingkungan fakultas, sekaligus nilai-nilai yang menjadi karakter pendidikan Humaniora.
“PBAK menjadi ruang pertama bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademiknya. Mereka tidak hanya perlu mengetahui ruang kelas dan sistem perkuliahan, tetapi juga mulai memahami budaya belajar, membangun relasi, mengembangkan sikap kritis, serta mengenali nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari pendidikan di Fakultas Humaniora,” ungkapnya.
Dengan perspektif tersebut, PBAK ditempatkan sebagai pintu masuk mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik. Mahasiswa baru diharapkan tidak hanya mengenali fasilitas dan berbagai unit layanan, tetapi juga memahami bahwa masa perkuliahan merupakan proses untuk membangun pengetahuan, karakter, kemandirian, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi.

Salah satu perhatian utama adalah finalisasi rundown. Panitia kembali menelusuri alur kegiatan, durasi setiap sesi, pembagian petugas, kesiapan pengisi acara, serta koordinasi antarbidang. Setiap bagian diharapkan tidak hanya memahami tugasnya sendiri, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan keseluruhan rangkaian sehingga perpindahan dari satu agenda ke agenda berikutnya berlangsung efektif dan tidak menimbulkan waktu tunggu yang panjang bagi mahasiswa.
Pada hari kedua, mahasiswa baru juga akan mengikuti Jelajah Humaniora. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan lingkungan Fakultas Humaniora secara lebih dekat, termasuk ruang-ruang yang kelak menjadi bagian dari keseharian mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Jelajah Humaniora tidak sekadar mengajak peserta berkeliling gedung. Panitia menyiapkan rute, titik kunjungan, pembagian kelompok, pendamping, hingga informasi yang perlu disampaikan pada setiap titik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan lebih cepat mengenali lingkungan akademiknya sekaligus memahami fungsi berbagai fasilitas dan layanan yang tersedia. Perhatian terhadap pengalaman mahasiswa juga terlihat dalam pengelolaan pengisi acara. Setiap pendamping diminta berkomunikasi secara intensif dengan pengisi acara mengenai jadwal, lokasi, kebutuhan teknis, hingga kesiapan sebelum tampil. Panitia ingin memastikan persoalan teknis dapat diselesaikan sebelum kegiatan sehingga tidak mengganggu kenyamanan peserta.
Hal yang sama berlaku bagi band dan pengisi acara lainnya. Sound check dirancang berlangsung seefektif mungkin. Apabila kondisi memungkinkan, pengecekan suara akan dilakukan ketika mahasiswa sedang mengikuti fun games di luar ruangan sehingga proses teknis tetap berjalan tanpa membuat peserta menunggu terlalu lama.
Identitas kebahasaan Fakultas Humaniora juga memperoleh perhatian khusus. Para petugas acara akan melakukan latihan penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, terutama pada bagian-bagian yang digunakan dalam rangkaian PBAK. Persiapan tersebut mencakup kelancaran, ketepatan pengucapan, pembagian tugas, hingga kesesuaian bahasa dengan konteks acara.
MC akan berkoordinasi dengan narasumber pendamping yang telah ditunjuk mengenai alur dan teknik membawakan kegiatan. Petugas sambutan juga diarahkan melakukan konsultasi mengenai penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sedangkan qari berkoordinasi terkait pemilihan ayat Al-Qur’an dan bacaan yang akan digunakan.
Penggunaan bahasa dalam PBAK menjadi lebih dari sekadar elemen seremoni. Kehadiran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sejak awal menjadi cara Fakultas Humaniora memperkenalkan atmosfer akademik yang akan ditemui mahasiswa, sekaligus membangun rasa kedekatan dengan bidang keilmuan yang menjadi karakter fakultas.
Panitia turut mematangkan berbagai materi audio-visual yang akan digunakan, termasuk video Indonesia Raya, Mars Humaniora, dan Bangun Pemudi Pemuda. File perlu dipastikan memiliki format dan kualitas yang sesuai serta siap digunakan pada saat kegiatan agar rangkaian acara berjalan tanpa kendala teknis.
Aspek administrasi juga tidak luput dari perhatian. Format presensi peserta akan diselaraskan dengan kebutuhan administrasi dan pelaporan fakultas. Langkah ini diperlukan agar data kehadiran tidak hanya tercatat, tetapi dapat digunakan secara tertib dalam dokumentasi dan pertanggungjawaban kegiatan.
Di balik detail teknis tersebut, perhatian besar diberikan pada kenyamanan mahasiswa. Sarapan, misalnya, akan dilaksanakan sebelum mahasiswa memasuki gedung Fakultas Humaniora dengan memanfaatkan area halaman. Skema ini membutuhkan pengaturan alur peserta agar kegiatan sarapan tidak menimbulkan penumpukan sekaligus memastikan mahasiswa dapat memasuki rangkaian PBAK dengan tertib.
Kebersihan menjadi bagian penting dari pengaturan tersebut. Bidang perlengkapan bertanggung jawab menyiapkan area sarapan, memastikan ketersediaan trash bag, dan mengawasi kebersihan setelah kegiatan. Pesan yang ingin dibangun sederhana tetapi penting: menggunakan fasilitas kampus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaganya.
Spirit serupa diterapkan pada pelaksanaan istirahat, salat, dan makan siang. Peserta akan dibagi dalam kelompok sehingga aktivitas makan dan ibadah dapat berlangsung bergantian. Peserta perempuan menggunakan musala lantai 2, sedangkan peserta laki-laki diarahkan ke selasar lantai 3 untuk pelaksanaan salat sesuai pengaturan panitia.
Pendamping memegang peran penting dalam skema tersebut. Selain mendampingi kelompok, mereka bertanggung jawab mengambil konsumsi sesuai jumlah peserta, menentukan titik makan, mengarahkan alur kelompok, serta membantu memastikan kebersihan setelah makan siang. Dengan pembagian tersebut, panitia berupaya menghindari penumpukan sekaligus menjaga kenyamanan seluruh peserta.
Snack juga baru akan dibagikan setelah rangkaian kegiatan selesai, sebelum mahasiswa kembali ke Ma’had. Bidang pendamping dan konsumsi diminta mengatur titik serta mekanisme distribusi agar ratusan mahasiswa tidak berkumpul pada satu tempat dalam waktu bersamaan.
Berbagai detail tersebut menunjukkan bahwa PBAK membutuhkan koordinasi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menyiapkan materi dan panggung. Setiap bidang berhadapan langsung dengan pengalaman mahasiswa, mulai dari ketika mereka datang, mengikuti kegiatan, beristirahat, beribadah, makan, mengenali gedung, hingga kembali ke Ma’had.
Untuk memastikan seluruh skenario berjalan sebagaimana direncanakan, panitia juga menyiapkan tahapan simulasi. Gladi kotor dijadwalkan 15 Agustus 2026 untuk mengecek alur kegiatan, kesiapan petugas, penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, koordinasi antarpanitia, pendampingan pengisi acara, serta berbagai kemungkinan kendala teknis.
Sementara itu, berdasarkan hasil rapat, gladi bersih dijadwalkan pada 19 Agustus 2026 sebagai tahap finalisasi. Pada tahapan ini, petugas, pengisi acara, perlengkapan, dan sistem pendukung diharapkan telah berada pada kondisi siap sehingga simulasi dapat dilakukan sedekat mungkin dengan pelaksanaan sebenarnya.
Seluruh PIC selanjutnya diminta memperkuat komunikasi dengan anggota bidang masing-masing. Setiap hasil konsultasi perlu segera ditindaklanjuti, terutama yang berkaitan dengan pengisi acara, bahasa, video, presensi, konsumsi, perlengkapan, kebersihan, pendampingan, hingga teknis Jelajah Humaniora.
Bagi Fakultas Humaniora, persiapan yang rinci tersebut pada akhirnya memiliki satu tujuan utama: memastikan mahasiswa baru merasa diterima ketika pertama kali memasuki lingkungan fakultas. PBAK menjadi titik awal mereka mengenal bukan hanya ruang kelas dan struktur organisasi, tetapi juga budaya akademik, kedisiplinan, kebersamaan, multilingualisme, kepedulian terhadap fasilitas, dan tanggung jawab sebagai bagian dari komunitas Humaniora. Melalui koordinasi lintas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, Fakultas Humaniora berupaya menghadirkan PBAK 2026 sebagai pengalaman awal yang humanis sekaligus terorganisasi. Dari rundown hingga trash bag, dari latihan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris hingga Jelajah Humaniora, setiap detail disiapkan agar mahasiswa baru tidak sekadar datang sebagai peserta orientasi, tetapi mulai mengenal Fakultas Humaniora sebagai rumah akademik tempat mereka akan belajar, bertumbuh, berkarya, dan membangun masa depan. [sof/Infopub]





