MIU Login

Langit Parangkusumo Jadi Kanvas Dunia, Jogja International Kite Festival 2026 Satukan 17 Negara dalam Harmoni Budaya

Oleh: Dwi Ananda Putri 

Langit Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, berubah menjadi lautan warna saat ratusan layang-layang dari berbagai penjuru dunia menghiasi cakrawala dalam Jogja International Kite Festival 2026 yang berlangsung pada 11–12 Juli 2026. Festival tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Angkasa 1 di bawah kepemimpinan Yuki selaku ketua penyelenggara ini diikuti peserta dari 17 negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Korea Selatan, India, hingga sejumlah negara di kawasan Afrika. Selain menjadi atraksi wisata internasional, festival ini juga bertujuan melestarikan budaya layang-layang sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM di Yogyakarta.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar di Pantai Parangtritis, penyelenggaraan tahun ini dipusatkan di Pantai Parangkusumo, Bantul. Pergantian lokasi menjadi salah satu ciri khas festival yang rutin dilaksanakan setiap tahun agar semakin banyak destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Sejak pagi, ribuan pengunjung memadati kawasan pantai untuk menyaksikan berbagai jenis layang-layang tradisional maupun modern dengan beragam bentuk dan ukuran. Langit biru Parangkusumo dipenuhi karya-karya kreatif dari para peserta internasional yang menjadi daya tarik utama festival.

Di antara ribuan pengunjung, Vega datang bersama sang ibu untuk menikmati suasana festival. Keduanya tampak antusias menyaksikan layang-layang yang beterbangan di langit Pantai Parangkusumo.

“Saya senang sekali bisa datang ke festival ini bersama ibu. Dulu kami hanya melihat layang-layang dari kejauhan, sekarang bisa melihatnya dari dekat. Ternyata bentuknya unik dan ukurannya luar biasa. Festival ini selalu menarik karena diadakan setiap tahun, lokasinya bergantian, dan pesertanya berasal dari berbagai negara,” ujar Vega.

Tak hanya menyuguhkan atraksi layang-layang, festival juga diramaikan dengan berbagai kegiatan edukatif bagi anak-anak dan pelajar. Panitia menggelar lomba melukis layang-layang bagi siswa TK dan SD, sementara peserta dari jenjang SMP dan SMA mengikuti lomba merakit layang-layang. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan budaya layang-layang kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kreativitas sejak dini.

Rangkaian acara semakin semarak dengan beragam pertunjukan seni budaya. Nadia, mahasiswa magang di Dinas Pariwisata yang melakukan peliputan selama dua hari, mengatakan bahwa pada 11 Juli pengunjung disuguhi penampilan seni tradisional khas Indonesia, atraksi layang-layang internasional, pertunjukan Barongsai, hingga parade budaya yang melibatkan berbagai negara peserta.

“Selain layang-layang tradisional Indonesia, pengunjung juga dapat menyaksikan layang-layang dari berbagai negara. Siang harinya ada pertunjukan Barongsai dan parade budaya dari negara-negara peserta yang membuat suasana festival semakin meriah,” jelas Nadia.

Sementara itu, Angela Maria, jurnalis dari panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa Jogja International Kite Festival tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya layang-layang di Yogyakarta. Festival ini menjadi wadah bertemunya komunitas layang-layang dari berbagai daerah dan negara untuk saling bertukar pengalaman, sekaligus memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara.

Menjelang penutupan acara, kemeriahan festival kembali mencapai puncaknya. Penampilan Barongsai kembali menghibur para pengunjung sebelum dilanjutkan dengan sesi pembagian hadiah dari brand OMG yang menjadi salah satu sponsor kegiatan. Berbeda dari pembagian hadiah pada umumnya, OMG menerbangkan sebuah layang-layang raksasa berbentuk produk skincare yang di dalamnya telah diisi berbagai produk perawatan kulit.

Ketika layang-layang berada di atas area festival, bagian bawahnya kemudian dibuka sehingga ratusan produk skincare berhamburan ke arah kerumunan pengunjung. Seketika suasana berubah riuh. Anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga bapak-bapak tampak antusias berlarian dan saling berebut untuk mendapatkan hadiah. Sorak-sorai dan gelak tawa memenuhi kawasan Pantai Parangkusumo, menciptakan penutup yang meriah sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung.

Melalui perpaduan atraksi layang-layang internasional, pertunjukan seni budaya, kompetisi bagi pelajar, pemberdayaan UMKM, serta hiburan interaktif bagi masyarakat, Jogja International Kite Festival 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu agenda budaya bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bawah bentangan langit Parangkusumo, ratusan layang-layang dari 17 negara tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menjadi simbol persahabatan, kreativitas, dan semangat melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait