SONGKHLA, Thailand — Sebuah kamus mungkin hanya terdiri atas deretan kata dan terjemahan. Namun, bagi siswa Rungrote Wittaya School, Songkhla, Thailand, sebuah kamus tiga bahasa yang disusun oleh mahasiswa peserta program internasional dapat menjadi jembatan untuk memahami bahasa yang selama ini tidak selalu mudah mereka kuasai. Pada 13 Agustus 2026, mahasiswa peserta I-SMASH Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merampungkan dan menyerahkan Mini Project Kamus 3 Bahasa sebagai bentuk kontribusi akademik bagi siswa di sekolah tersebut.
Baca juga:
Kamus yang disusun menggabungkan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Thailand dalam satu media pembelajaran. Gagasan tersebut lahir bukan semata-mata dari kebutuhan untuk menghasilkan sebuah produk selama mengikuti program internasional, tetapi dari pengamatan mahasiswa terhadap proses pembelajaran di Rungrote Wittaya School. Sejumlah siswa masih menghadapi kesulitan ketika menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dari persoalan sederhana itulah muncul pertanyaan: bagaimana pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dapat ditinggalkan dalam bentuk sesuatu yang benar-benar dapat digunakan oleh siswa?

Jawabannya kemudian hadir dalam bentuk sebuah kamus 3 bahasa. Dengan mempertemukan bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan padanan bahasa Thailand, kamus tersebut dirancang untuk membantu siswa memahami kosakata dasar secara lebih mudah. Bagi pembelajar yang sedang berhadapan dengan bahasa asing, kehadiran bahasa yang mereka pahami menjadi semacam jembatan sebelum mereka melangkah lebih jauh ke dalam bahasa baru.
Berawal dari Pengamatan, Berakhir Menjadi Kontribusi Mini project ini dikerjakan selama kurang lebih satu minggu. Waktu yang relatif singkat tersebut digunakan untuk melalui sejumlah tahapan, mulai dari memilih kosakata yang relevan, mencari dan menyusun padanan terjemahan, hingga menyesuaikan penyajiannya agar dapat dipahami dan digunakan oleh siswa Rungrote Wittaya School.
Proses tersebut membuat mahasiswa tidak hanya berpikir tentang “apa yang akan dibuat”, tetapi juga “untuk siapa produk itu dibuat”. Pemilihan kosakata harus mempertimbangkan kebutuhan siswa dalam pembelajaran sehari-hari. Terjemahan juga perlu disesuaikan agar tidak sekadar benar secara bahasa, tetapi mudah dipahami oleh pengguna. Di sinilah mini project berubah menjadi proses pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa.
Mereka belajar bahwa menerjemahkan sebuah kata tidak selalu berarti mencari padanan kata secara harfiah. Sebuah kamus pembelajaran harus mempertimbangkan konteks pengguna, tingkat kemampuan bahasa, serta kebutuhan pembelajar. Dengan demikian, proyek yang tampak sederhana tersebut sesungguhnya mempertemukan bahasa, penerjemahan, pedagogi, dan kebutuhan nyata peserta didik.
Bagi Rungrote Wittaya School, kehadiran kamus ini diharapkan dapat memberikan dukungan bagi siswa yang sedang mempelajari bahasa asing. Kamus dapat digunakan untuk membantu memahami kosakata, mendukung proses belajar di kelas, maupun menjadi referensi sederhana ketika siswa berhadapan dengan kata-kata yang belum mereka pahami. Lebih dari sekadar produk, kamus tersebut menjadi bentuk kecil dari perhatian mahasiswa terhadap kebutuhan akademik siswa di sekolah mitra.
Dari Belajar untuk Diri Sendiri Menjadi Belajar untuk Orang Lain.
Di sinilah makna penting I-SMASH Fakultas Humaniora UIN Malang terlihat. Program internasional tidak hanya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di lingkungan pendidikan dan budaya yang berbeda, tetapi juga mendorong mereka untuk memberikan sesuatu kembali kepada komunitas yang menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka.
Bagi mahasiswa, pengalaman menyusun kamus tiga bahasa menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh di Fakultas Humaniora—terutama dalam bidang bahasa, penerjemahan, dan komunikasi—dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan di lapangan. Mereka tidak hanya datang sebagai peserta program, tetapi juga hadir sebagai pembelajar yang berusaha memberikan kontribusi.
Hasil mini project tersebut kemudian diserahkan langsung kepada pengasuh Rungrote Wittaya School, Kyai Nasruddin, yang akrab disapa Kholi. Penyerahan ini menjadi penanda bahwa proses yang dimulai dari pengamatan terhadap kesulitan siswa akhirnya menghasilkan sebuah produk yang dapat ditinggalkan dan dimanfaatkan oleh sekolah.
Mini Project Kamus 3 Bahasa bukan hanya tentang menyusun daftar kosakata dalam tiga bahasa. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah pengalaman lintas budaya dapat melahirkan kontribusi akademik yang sederhana tetapi nyata. Dari Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Thailand, mahasiswa I-SMASH menemukan satu bahasa yang jauh lebih universal: bahasa kepedulian. Sebuah kata mungkin memiliki terjemahan yang berbeda dalam setiap bahasa, tetapi semangat untuk membantu siswa belajar tetap memiliki makna yang sama di mana pun berada. [Fahrizal, Balqis, Naishilla]





