MIU Login

Dari Latihan ke Panggung: I-SMASH Fakultas Humaniora Bangun Kepercayaan Diri Siswa Thailand Berbahasa Inggris

SONGKHLA–YALA, Thailand — Dua jam berada di depan peserta lain mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi 14 siswa Rungrote Wittaya School, Songkhla, Thailand, dua jam tersebut menjadi ruang untuk belajar mengatasi rasa gugup, memperbaiki pengucapan, mengatur intonasi, dan yang paling penting berani berbicara dalam bahasa Inggris di depan orang lain. Pengalaman itu berlangsung dalam rangkaian English Speech Training dan English Speech Contest pada 10–13 Agustus 2026 sebagai bagian dari aktivitas I-SMASH Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Baca juga:

Bertempat di Conference Room Rungrote Wittaya School, English Speech Training dilaksanakan selama dua hari, 10–11 Agustus 2026. Sebanyak 14 siswa dari jenjang Mathayom 2 (M.2) hingga Mathayom 6 (M.6) mengikuti pelatihan secara intensif. Mereka tidak hanya diajak memahami bagaimana menyusun teks pidato berbahasa Inggris, tetapi juga berlatih bagaimana sebuah gagasan dapat disampaikan secara jelas, meyakinkan, dan menarik di hadapan audiens.

Foto : Kegiatan English Speech Training dan English Speech Contest

Di sinilah pelatihan mulai bergerak dari belajar bahasa menjadi belajar berkomunikasi. Peserta mendapatkan pembinaan mengenai pronunciation, intonation, expression, fluency, content mastery, delivery, dan confidence. Setiap aspek dilatih melalui praktik langsung. Siswa mencoba menyampaikan pidatonya, menerima arahan, memperbaiki kekurangan, kemudian kembali tampil. Proses tersebut membuat ruang pelatihan menjadi tempat untuk mencoba, salah, memperbaiki, dan mencoba kembali.

Namun, kemampuan berbicara di depan publik bukan hanya persoalan benar atau salah dalam menggunakan bahasa. Ada persoalan keberanian di baliknya. Karena itu, salah satu fokus utama pelatihan adalah membangun kepercayaan diri siswa. Mereka didorong untuk berbicara dengan artikulasi yang jelas, menggunakan intonasi secara tepat, menampilkan ekspresi yang sesuai, serta menguasai materi yang disampaikan. Bahasa Inggris akhirnya tidak diperlakukan sekadar sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Foto : Bersama setelah kegiatan English Speech Training dan English Speech Contest

Dua hari kemudian, ruang latihan berubah menjadi ruang kompetisi. Pada 12 Agustus 2026, seluruh peserta mengikuti English Speech Contest. Jika sebelumnya mereka berlatih di antara teman-temannya, kali ini masing-masing harus berdiri di hadapan dewan juri dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Panggung tersebut menjadi semacam ujian keberanian: seberapa jauh teknik yang dipelajari selama pelatihan mampu diterapkan ketika perhatian audiens tertuju kepada seorang pembicara.

Penilaian dilakukan secara menyeluruh melalui lima aspek utama, yakni pronunciation, fluency, content mastery, delivery, dan confidence. Kelima aspek tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpidato tidak dapat diukur hanya dari seberapa baik seseorang mengucapkan kata dalam bahasa Inggris. Seorang pembicara juga harus mampu menguasai pesan, mengatur kelancaran, menampilkan ekspresi, dan membangun hubungan dengan audiens. Dengan demikian, kompetisi menjadi ruang untuk melihat kemampuan bahasa sekaligus kemampuan komunikasi peserta.

Menariknya, kompetisi bukanlah akhir dari proses, melainkan perayaan atas keberanian siswa untuk tampil. Dari seluruh peserta kemudian ditetapkan lima kategori penghargaan, yaitu Juara 1, Juara 2, Juara 3, Juara Harapan 1, dan Juara Harapan 2. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kemampuan sekaligus usaha peserta selama mengikuti pelatihan. Sebab, dalam proses belajar bahasa, keberanian untuk tampil dan terus mencoba sering kali sama pentingnya dengan hasil akhir sebuah kompetisi.

Puncak rangkaian kegiatan berlangsung pada 13 Agustus 2026, ketika para pemenang diumumkan di lapangan Rungrote Wittaya School setelah upacara dan doa bersama. Bagi para siswa, momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, mereka telah melewati sebuah proses yang membawa mereka dari ruang latihan menuju panggung, dari rasa ragu menuju keberanian, dan dari sekadar mengetahui bahasa Inggris menuju pengalaman menggunakannya secara nyata.

Bagi mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu Fahrizal Putra Utama, Balqis Cashilla Zahrani, dan Naisilla Natasha Putri, pengalaman tersebut juga menghadirkan pelajaran tersendiri. I-SMASH tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa Fakultas Humaniora untuk membawa kompetensi bahasa Inggris ke lingkungan pendidikan internasional, tetapi juga menjadi laboratorium pembelajaran lintas budaya. Berinteraksi dengan siswa Thailand membuat mahasiswa belajar memahami kebutuhan pembelajar bahasa dari latar budaya berbeda, sekaligus melatih kemampuan mereka dalam membimbing, memberikan umpan balik, dan membangun komunikasi dalam lingkungan pendidikan yang baru.

Kegiatan English Speech Training dan English Speech Contest menunjukkan bahwa belajar bahasa akan menjadi lebih bermakna ketika siswa diberi ruang untuk menggunakannya secara nyata. Empat hari kegiatan di Rungrote Wittaya School mempertemukan bahasa, public speaking, pendidikan, dan pengalaman lintas budaya dalam satu rangkaian. Bagi I-SMASH Fakultas Humaniora UIN Malang, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran humaniora dapat melampaui ruang kelas dan hadir melalui praktik nyata—membantu siswa menemukan suara mereka sendiri, lalu memberi mereka keberanian untuk menyampaikannya kepada dunia. [Fahrizal, Balqis, dan Naisilla]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait