MIU Login

Ketika Bahasa Berbeda, Al-Qur’an Menjadi Bahasa Bersama: Kisah I-SMASH di Chumphon Thailand

CHUMPHON, Thailand — Ada sebuah momen ketika bahasa tidak lagi menjadi persoalan. Lima siswa dan mahasiswa duduk bersama, membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara perlahan, mengikuti ketukan nada, mengulang bacaan, dan sesekali harus mengulang dari awal. Mereka tidak selalu memiliki bahasa komunikasi yang sama. Namun, ketika lantunan Surah Maryam ayat 30–35 mulai terdengar dengan irama nahawand, jarak itu perlahan menghilang. Di Aula dan Studio Rekaman Pattanasatwittaya Thasae School, Chumphon, Thailand, Al-Qur’an menjadi bahasa yang mempertemukan mereka.

Baca juga:

Peristiwa tersebut berlangsung pada Jumat, 14 Agustus 2026, dalam kegiatan Pelatihan Tartil Al-Qur’an Irama Nahawand dan Pembuatan Video Pembacaan Surah Maryam Ayat 30–35 sebagai bagian dari program I-SMASH. Kegiatan melibatkan tiga siswi Pattanasatwittaya Thasae School—Ireen dan Afreen dari kelas 5 serta Daneen dari kelas 6—bersama dua mahasiswa, Arifa dan Auliya. Namun, kegiatan itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum kamera dinyalakan.

Foto : Seusai program Tahfidz yang di laksanakan setiap selasa, kamis, dan ju’mat

Awalnya, para mahasiswa hanya menjalankan peran mendampingi dan menyimak hafalan siswa dalam rutinitas program Tahfidz yang berlangsung setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. Tetapi semakin lama berada di sekolah, mereka mulai melihat potensi para siswa. Dari pengamatan itu muncul keinginan untuk tidak sekadar menjalankan rutinitas, melainkan menghadirkan sebuah kegiatan yang dapat meninggalkan pengalaman dan keterampilan baru bagi para siswa.

Gagasan itu kemudian menemukan bentuknya melalui irama nahawand. Inspirasi tersebut muncul setelah Arifa menyaksikan penampilan para mentor dalam ajang Hafiz Indonesia 2025. Ia tertarik pada karakter irama nahawand yang hangat, lembut, dan menyentuh, sekaligus menilai irama tersebut sesuai untuk pembelajaran tartil siswa. Pilihan kemudian diarahkan pada Surah Maryam ayat 30–35, khususnya karena ayat-ayat tersebut mengisahkan mukjizat Nabi Isa ‘alaihissalam yang berbicara ketika masih bayi dan memiliki susunan lafal serta artikulasi yang dinilai indah ketika dilantunkan dengan irama tersebut.

Namun, menghadirkan gagasan tersebut kepada siswa bukan tanpa tantangan. Ketiga siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada yang sudah sangat mahir melantunkan Al-Qur’an, ada yang santai dan antusias, sementara ada pula yang pada awalnya masih terlihat canggung dan pemalu. Alih-alih menyeragamkan cara belajar, mahasiswa memilih pendekatan yang lebih personal ngaji bersama secara kolektif dipadukan dengan simaan satu per satu.

Tantangan berikutnya datang dari bahasa untuk menjelaskan tajwid dan irama, mahasiswa menggunakan Basic English sebagai bahasa komunikasi. Keterbatasan bahasa ternyata tidak membuat proses belajar berhenti. Instruksi diperkuat melalui contoh visual, ketukan nada, serta pengulangan bacaan secara perlahan. Sedikit demi sedikit, para siswa mampu menangkap pola yang diajarkan dan mengikuti bacaan bersama.

Kemudian tibalah saat yang paling menegangkan: kamera dinyalakan. Proses pembuatan video tidak langsung berjalan sempurna. Rasa gugup muncul karena para peserta harus melantunkan ayat di depan kamera. Beberapa bagian harus direkam ulang (retake) agar mendapatkan hasil terbaik. Tetapi justru dalam pengulangan itulah terjadi sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menghasilkan video. Mereka semakin akrab, semakin nyaman satu sama lain, dan perlahan rasa canggung yang sebelumnya terlihat pada salah satu siswa mulai menghilang.

Perubahan itu menjadi salah satu bagian paling menyentuh bagi mahasiswa. Siswa yang semula pemalu perlahan tumbuh kepercayaan dirinya. Dari bacaan yang awalnya membutuhkan banyak arahan, mereka akhirnya mampu melantunkan ayat-ayat Surah Maryam dengan lebih fasih dan berirama bersama para mahasiswa. Kamera yang semula menjadi sumber kegugupan justru berubah menjadi saksi tumbuhnya keberanian.

Bagi Arifa, pengalaman tersebut memberikan kepuasan emosional dan spiritual yang mendalam. Lebih dari sekadar mengajarkan teknik tartil, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pengabdian dalam I-SMASH dapat mengambil bentuk yang sangat personal merangkul perbedaan karakter, mencari cara berkomunikasi ketika bahasa terbatas, dan menemukan titik temu melalui sesuatu yang sama-sama mereka cintai.

Pada akhirnya, kegiatan di Pattanasatwittaya Thasae School memperlihatkan wajah lain dari I-SMASH. Pengabdian tidak selalu harus berupa program besar dengan perangkat yang rumit. Kadang ia bermula dari kesediaan untuk mengamati potensi seseorang, kemudian memberikan ruang agar potensi itu tumbuh. Dalam kasus ini, ruang tersebut hadir melalui lantunan Al-Qur’an, irama nahawand, dan keberanian untuk tampil di depan kamera. Dua mahasiswa, tiga siswi, satu rangkaian ayat, dan sebuah kamera akhirnya mempertemukan lebih dari sekadar proses belajar. Ada perjumpaan Indonesia dan Thailand, perjumpaan bahasa dan budaya, serta perjumpaan antara pengetahuan dan pengalaman. Di tengah semua perbedaan itu, Al-Qur’an hadir sebagai medium yang menyatukan. Sebab pada akhirnya, seperti yang tercermin dalam pengalaman I-SMASH di Chumphon, ada hal-hal yang tidak membutuhkan bahasa yang sama untuk dapat dirasakan bersama. [Arifa dan Auliya]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait