MIU Login

Alumni Humaniora Motivasi Mahasiswa Baru: Sukses Tak Hanya Dibangun di Ruang Kelas

HUMANIORA – (21/8/2026) Memasuki perguruan tinggi berarti membuka ruang belajar yang jauh lebih luas daripada sekadar mengikuti perkuliahan. Pengalaman berorganisasi, membangun jejaring, mengembangkan keterampilan, hingga keberanian mencoba berbagai kesempatan dapat menjadi bekal penting menuju dunia profesional. Pesan tersebut disampaikan alumni Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Muhammad Labib Bara, dalam sesi motivasi pada rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) Humaniora 2026, Kamis (20/8/2026).

Baca juga:

Bertempat di Aula Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sesi alumni menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk melihat perjalanan perkuliahan dari perspektif seseorang yang pernah berada di posisi mereka. Labib, alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) angkatan 2021 yang kini berkarier di BNI, berbagi pengalaman tentang bagaimana masa kuliah dapat dimanfaatkan untuk membangun fondasi bagi kehidupan setelah lulus.

Foto : Dalam sesi tanya jawab salah satu dari mahasiswa

Tidak datang dengan ceramah formal, Labib membuka pertemuan dengan sapaan hangat layaknya seorang kakak tingkat yang kembali bertemu dengan adik-adiknya. Ia memperkenalkan diri sekaligus menceritakan sejumlah pengalaman yang membentuk perjalanan dirinya selama menjadi mahasiswa Fakultas Humaniora hingga memasuki dunia profesional.

Menurutnya, masa sekitar empat tahun di perguruan tinggi merupakan periode yang terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk datang ke kelas, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, kemudian pulang. Aktivitas akademik tetap menjadi tanggung jawab utama mahasiswa, tetapi kehidupan kampus menyediakan banyak ruang lain yang dapat dimanfaatkan untuk menempa kemampuan diri.

Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa baru yang sedang mengawali perjalanan panjang di perguruan tinggi. Pada fase ini, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan mata kuliah dan target akademik, tetapi juga mulai memiliki kebebasan lebih besar dalam menentukan pengalaman seperti apa yang ingin mereka bangun selama kuliah.

Labib karena itu mendorong mahasiswa baru untuk berani keluar dari zona nyaman. Organisasi mahasiswa, komunitas minat dan bakat, kegiatan kepanitiaan, kompetisi, maupun berbagai aktivitas pengembangan diri dapat menjadi laboratorium kehidupan yang melengkapi pengetahuan dari ruang kelas.

Melalui berbagai aktivitas tersebut, mahasiswa dapat belajar berkomunikasi dengan banyak karakter, bekerja dalam tim, mengelola waktu, menyelesaikan persoalan, membangun relasi, hingga bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Kemampuan-kemampuan itu tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran formal, tetapi sangat dibutuhkan ketika seseorang memasuki lingkungan profesional.

Di hadapan mahasiswa baru, Labib mengajak peserta melihat masa perkuliahan bukan semata-mata sebagai perjalanan memperoleh gelar. Empat tahun pendidikan merupakan kesempatan untuk membangun karakter, kompetensi, pengalaman, dan jejaring yang kelak ikut menentukan kesiapan lulusan ketika memasuki dunia kerja.

Karena itu, menurutnya, kesuksesan tidak selalu lahir hanya dari ruang kelas. Prestasi akademik merupakan bagian penting dalam perjalanan mahasiswa, tetapi kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan berbagai kesempatan juga mempunyai peran besar dalam membentuk kesiapan seseorang menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pengalaman Labib memberikan gambaran konkret mengenai hal tersebut. Latar belakangnya sebagai lulusan Bahasa dan Sastra Arab tidak membatasi ruang untuk berkembang di dunia profesional. Kini, ia melanjutkan perjalanan karier di sektor perbankan melalui BNI.

Perjalanan tersebut sekaligus memberikan perspektif kepada mahasiswa baru bahwa kompetensi yang dibangun selama kuliah dapat memiliki ruang penerapan yang luas. Kemampuan komunikasi, kedisiplinan, kerja sama, adaptasi, penyelesaian masalah, serta keterampilan interpersonal dapat menjadi modal lintas profesi ketika didukung kemauan untuk terus belajar.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa perlu mulai mengenali potensi dirinya sejak awal. Mereka dapat mencoba berbagai aktivitas, mengevaluasi kemampuan yang dimiliki, menemukan bidang yang diminati, sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan rencana masa depan.

Pesan Labib memiliki relevansi dengan berbagai ruang pengembangan mahasiswa yang diperkenalkan selama PBAK-F Humaniora 2026. Selain mengenal sistem akademik, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan organisasi dan komunitas yang dapat menjadi tempat mereka berproses selama menjalani pendidikan.

Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam kegiatan tersebut bukan sekadar menambah kesibukan di luar perkuliahan. Jika dijalani secara proporsional dan bertanggung jawab, aktivitas kemahasiswaan dapat menjadi ruang untuk menguji pengetahuan sekaligus membangun keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Ketika mahasiswa menjadi bagian dari sebuah tim, misalnya, mereka belajar bahwa gagasan yang baik tetap membutuhkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Ketika terlibat dalam kepanitiaan, mereka berhadapan dengan tenggat waktu, pembagian tanggung jawab, koordinasi, serta persoalan yang menuntut penyelesaian secara cepat.

Begitu pula ketika mengikuti komunitas minat dan bakat. Mahasiswa memiliki kesempatan mengasah kemampuan secara konsisten, bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa, belajar dari mahasiswa lintas angkatan, bahkan membuka peluang untuk mengikuti kompetisi dan menghasilkan karya.

Pengalaman-pengalaman semacam itulah yang dapat memperkaya perjalanan akademik mahasiswa. Gelar menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal, sementara pengalaman selama kuliah ikut membentuk bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan.

Sesi bersama alumni juga membawa mahasiswa baru pada satu perspektif penting persiapan karier tidak harus menunggu menjelang wisuda.

Karier dapat mulai dipersiapkan sejak semester awal melalui keputusan-keputusan sederhana tentang bagaimana mahasiswa menggunakan waktunya. Pilihan untuk belajar secara serius, bergabung dengan komunitas, mengikuti kegiatan, membangun jejaring, mencoba kompetisi, maupun mengembangkan keterampilan tertentu akan membentuk portofolio pengalaman mereka secara bertahap.

Karena itu, pendidikan karakter, kompetensi, dan keterampilan menjadi tiga aspek yang ditekankan Labib kepada mahasiswa baru. Ketiganya diperlukan agar mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan sesuai bidang studinya, tetapi juga kesiapan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dinamis.

Pesan tersebut juga menunjukkan bahwa perjalanan dari kampus menuju dunia profesional tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Bidang pekerjaan seseorang dapat berkembang melampaui disiplin ilmu yang dipelajari secara formal. Dalam situasi semacam itu, kemampuan belajar, beradaptasi, berkomunikasi, dan membangun relasi menjadi semakin penting.

Kehadiran alumni dalam PBAK-F 2026 memberikan nilai tersendiri karena mahasiswa baru dapat memperoleh gambaran dunia setelah kuliah melalui pengalaman nyata lulusan fakultasnya sendiri. Alumni menjadi penghubung antara pengalaman akademik yang sedang dimulai mahasiswa dengan realitas profesional yang kelak akan mereka hadapi.

Cerita perjalanan Labib juga membuat pesan tentang pengembangan diri terasa lebih dekat. Mahasiswa baru dapat melihat bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka pernah memulai perjalanan dari ruang yang sama: menjadi mahasiswa baru, mengikuti perkuliahan, beradaptasi dengan lingkungan kampus, menjalani berbagai aktivitas, hingga akhirnya menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja.

Pada titik itulah sesi motivasi alumni memiliki makna lebih dari sekadar berbagi kisah sukses. Pengalaman alumni dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa setiap proses selama perkuliahan memiliki nilai ketika dijalani dengan tujuan dan kesungguhan.

Bagi Fakultas Humaniora, keterhubungan antara mahasiswa dan alumni juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Pengalaman lulusan di dunia kerja dapat memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai kompetensi yang dibutuhkan setelah menyelesaikan pendidikan sekaligus memperkuat hubungan antara proses akademik dan perkembangan karier.

Melalui sesi tersebut, mahasiswa baru diajak sejak awal untuk tidak sekadar bertanya, “Bagaimana saya bisa lulus?”, tetapi juga mulai memikirkan, “Saya ingin menjadi pribadi seperti apa ketika lulus nanti?”

Pertanyaan itulah yang membuat perjalanan empat tahun di perguruan tinggi menjadi lebih bermakna. Ruang kelas memberikan ilmu dan fondasi akademik, sedangkan organisasi, komunitas, pertemanan, pengalaman, kegagalan, dan berbagai kesempatan di kampus ikut membentuk karakter serta kesiapan menghadapi kehidupan.

Pesan Muhammad Labib Bara kepada mahasiswa baru Humaniora pun bermuara pada satu semangat sederhana manfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Sebab, kesuksesan tidak hanya dibangun melalui apa yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga melalui keberanian untuk berproses, membangun kompetensi, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan masa depan sejak hari pertama menjadi mahasiswa. [nad/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait