MIU Login

Dekan Humaniora Buka PBAK-F 2026 dengan Simbol Harmoni Budaya

HUMANIORA – (20/8/2026) Bunyi angklung yang dimainkan Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., resmi menandai dimulainya rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) 2026, Kamis (20/8/2026).

Baca juga:

Di hadapan sekitar 353 mahasiswa baru, panitia, jajaran dekanat, dan sivitas akademika, instrumen tradisional tersebut menghadirkan simbol yang kuat. Angklung tidak hanya menjadi penanda seremonial, tetapi juga merepresentasikan harmoni, kebersamaan, serta penghormatan terhadap budaya sebagai bagian penting dari identitas Fakultas Humaniora.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Malang tersebut diikuti mahasiswa baru dari dua program studi, yakni Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris. Mereka hadir untuk memulai proses pengenalan terhadap lingkungan akademik, sistem pembelajaran, budaya fakultas, dan kehidupan kemahasiswaan.

Sejak pukul 07.30 WIB, antusiasme mahasiswa baru telah terlihat saat mereka mulai berdatangan menuju lokasi kegiatan. Dengan pendampingan panitia, para peserta mengikuti registrasi sebelum bergabung dalam sesi sarapan pagi bersama.

Sarapan bersama menjadi bagian awal dari proses penyambutan. Dalam suasana yang lebih cair, mahasiswa baru memperoleh kesempatan untuk saling mengenal, berkomunikasi dengan panitia, serta membangun kedekatan sebelum memasuki rangkaian acara resmi.

Momen sederhana tersebut memiliki arti penting bagi mahasiswa yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru. Datang dari latar belakang daerah, sekolah, dan pengalaman yang beragam, mereka dipertemukan dalam identitas baru sebagai bagian dari keluarga besar Fakultas Humaniora.

Setelah sesi sarapan, para peserta diarahkan menuju aula pertemuan di lantai tiga untuk mengikuti prosesi pembukaan. Suasana penyambutan tidak hanya terlihat dari antusiasme mahasiswa baru, tetapi juga dari keterlibatan jajaran dekanat, panitia, dan sivitas akademika.

Kebersamaan tersebut terekam dalam sesi foto dan pengambilan video tagline Fakultas Humaniora. Seluruh hadirin secara serempak menyerukan, “Menyala, menyala, menyala!”

Seruan itu menghadirkan energi kolektif di dalam aula. Lebih dari sekadar slogan, “Menyala” mencerminkan optimisme untuk terus menghidupkan semangat belajar, kreativitas, dan kontribusi di lingkungan Fakultas Humaniora. . Sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan, ia secara simbolis menyematkan pita kepada perwakilan mahasiswa baru.

Semangat tersebut menemukan puncaknya dalam prosesi simbolik pembukaan PBAK-F 2026. Prof. Dr. Moh. Faisol Fatawi, M.Ag. mengambil angklung dan membunyikannya sebagai tanda bahwa seluruh rangkaian kegiatan secara resmi dimulai.

Suara angklung yang bergema di dalam aula disambut tepuk tangan meriah dari mahasiswa baru, panitia, dan sivitas akademika. Momen itu sekaligus menandai dimulainya perjalanan akademik generasi baru Humaniora. Pemilihan angklung sebagai instrumen pembukaan menghadirkan nuansa khas dalam pelaksanaan PBAK tahun ini. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, unsur budaya tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Bagi Fakultas Humaniora, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipelajari sebagai objek. Budaya merupakan sumber pengetahuan, identitas, kreativitas, dan nilai yang terus hidup serta berkembang melalui interaksi manusia.

Angklung juga membawa filosofi kebersamaan yang relevan dengan kehidupan akademik. Satu angklung hanya menghasilkan nada tertentu. Harmoni baru terbentuk ketika beberapa angklung dengan nada berbeda dimainkan secara terkoordinasi.

Karakter tersebut mencerminkan keberagaman mahasiswa baru Fakultas Humaniora. Mereka hadir dengan kemampuan, pengalaman, cara pandang, dan latar belakang yang tidak sama. Perbedaan itu tidak perlu diseragamkan, tetapi perlu dikelola melalui dialog dan kolaborasi agar menghasilkan kekuatan bersama.

Filosofi angklung sekaligus menggambarkan ekosistem pendidikan tinggi. Perjalanan mahasiswa tidak dijalani seorang diri. Di dalamnya terdapat dosen, tenaga kependidikan, pimpinan fakultas, organisasi mahasiswa, teman sebaya, serta berbagai unsur yang saling mendukung proses pembelajaran.

Harmoni hanya dapat terbangun apabila setiap unsur memahami peran dan tanggung jawabnya. Mahasiswa perlu memiliki kemandirian belajar, tetapi pada saat yang sama juga harus mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, dan berpartisipasi dalam kehidupan akademik.

Nilai tersebut sangat penting bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris. Pembelajaran bahasa dan sastra tidak hanya berkaitan dengan kemampuan linguistik, tetapi juga membuka jalan untuk memahami manusia, kebudayaan, identitas, dan berbagai cara masyarakat memaknai kehidupan.

Kemampuan memahami keragaman tersebut menjadi modal penting di tengah meningkatnya interaksi lintas budaya. Mahasiswa Humaniora perlu memiliki wawasan global, kemampuan komunikasi, dan kesiapan berkolaborasi, sekaligus tetap memiliki pijakan yang kuat pada nilai lokal, keislaman, dan kemanusiaan.

Dengan demikian, kehadiran angklung dalam pembukaan PBAK tidak bertentangan dengan orientasi internasionalisasi Fakultas Humaniora. Penghargaan terhadap budaya sendiri justru menjadi fondasi penting agar mahasiswa dapat memasuki lingkungan global dengan identitas yang matang dan kemampuan berdialog secara setara.

Prosesi pembukaan tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan Humaniora berlangsung melampaui ruang kelas. Seni, bahasa, tradisi, interaksi sosial, dan pengalaman budaya dapat menjadi sumber pembelajaran yang membentuk kepekaan serta memperkaya perspektif mahasiswa.

Dalam konteks itu, PBAK menjadi ruang awal untuk memperkenalkan corak pendidikan Humaniora. Mahasiswa baru tidak hanya memperoleh informasi teknis mengenai kehidupan kampus, tetapi juga diperkenalkan kepada nilai kebersamaan, keterbukaan, kreativitas, dan penghormatan terhadap keragaman.

Nilai-nilai tersebut diperlukan agar mahasiswa mampu berkembang menjadi insan akademik yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab sosial. Kompetensi akademik perlu diarahkan untuk membangun komunikasi, memperluas pemahaman, dan memberi manfaat kepada masyarakat.

Pembukaan PBAK-F 2026 melalui bunyi angklung pada akhirnya menghadirkan tiga pesan utama. Pertama, mahasiswa baru memasuki sebuah komunitas akademik yang dibangun melalui kerja bersama. Kedua, kebudayaan menjadi bagian penting dari identitas dan sumber pengetahuan. Ketiga, perbedaan dapat diolah menjadi harmoni ketika setiap individu bersedia saling mendengar dan berkolaborasi.

Sekitar 353 mahasiswa baru kini resmi memulai babak baru sebagai bagian dari Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rangkaian PBAK menjadi kesempatan awal bagi mereka untuk memahami lingkungan, membangun relasi, dan menyiapkan diri menghadapi dinamika perkuliahan.

Bunyi angklung yang mengawali perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan akademik tidak dibangun hanya melalui kecerdasan individual. Ia memerlukan kedisiplinan, kreativitas, kepedulian, dan kemampuan tumbuh bersama dalam keberagaman.

Diiringi semangat “Menyala” yang menggema di dalam aula, mahasiswa baru Fakultas Humaniora memulai perjalanan akademiknya dengan satu pesan simbolik: setiap pribadi membawa nada yang berbeda, tetapi bersama-sama mereka dapat menciptakan harmoni bagi fakultas, masyarakat, dan masa depan. [asf/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait