HUMANIORA – (4/6/2026) Kemampuan menyampaikan ide secara efektif menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan di era global. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kualitas gagasan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mengomunikasikan gagasan tersebut secara meyakinkan kepada orang lain.
Baca juga:
- Direktur HPT Travel: Industri Halal Tourism Buka Peluang Karier Global bagi Generasi Muda
- Literasi Keuangan Jadi Bekal Penting Mahasiswa Menembus Peluang Global
Pesan tersebut menjadi fokus dalam hari kedua Humaniora International Career Access Network (I-CAN) 2026 melalui sesi pelatihan Affective Presentation yang dipandu oleh J. Mahameru, M.Sc., M.Litt., penulis bidang self-improvement, Overseas Consultant YOU-I Japan, konsultan UKM untuk pasar Eropa, sekaligus diaspora Indonesia di Britania Raya.
Dalam pemaparannya, J. Mahameru memperkenalkan konsep Affective Presentation yang berlandaskan pada empat pilar utama, yaitu what, why, solution, dan consequences. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa presentasi yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membangun pemahaman, memengaruhi cara berpikir audiens, serta mendorong lahirnya tindakan yang diharapkan.

Menurut J. Mahameru, banyak presentasi gagal menarik perhatian karena hanya berfokus pada penyampaian data tanpa menjelaskan alasan pentingnya suatu isu, solusi yang ditawarkan, serta konsekuensi yang mungkin muncul apabila persoalan tersebut diabaikan. Oleh karena itu, kemampuan menyusun alur argumentasi yang logis dan persuasif menjadi bagian penting dalam komunikasi profesional.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui komunikasi dua arah. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi pro dan kontra yang mendorong mereka menyampaikan argumentasi dari berbagai sudut pandang. Melalui metode ini, peserta dilatih untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan perspektif, serta membangun kemampuan menyampaikan pendapat secara terstruktur.

Selain membahas substansi presentasi, Mahameru juga memberikan pembekalan mengenai teknik Standing Up Presentation dan Sitting Down Presentation. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan pada berbagai aspek nonverbal yang memengaruhi efektivitas komunikasi, mulai dari pengelolaan gestur tubuh, kontak mata, intonasi suara, hingga cara membangun kedekatan dengan audiens.
Melalui praktik langsung, peserta memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan gagasan mereka sekaligus mendapatkan umpan balik secara personal dari pemateri. Berbagai tips dan strategi untuk menarik perhatian audiens juga dibagikan agar peserta mampu tampil lebih percaya diri dalam situasi akademik maupun profesional.
Tidak berhenti pada keterampilan presentasi, sesi ini juga diperkaya dengan simulasi pemasaran bisnis yang dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir strategis peserta. Dalam simulasi tersebut, peserta mengikuti permainan random words, yaitu menghubungkan kata-kata acak dengan suatu produk atau objek pemasaran tertentu.
Latihan ini mendorong peserta untuk melihat keterkaitan antara berbagai faktor internal dan eksternal dalam dunia bisnis, sekaligus melatih kreativitas dalam menemukan peluang dari situasi yang tampaknya tidak berkaitan. Melalui pendekatan tersebut, peserta belajar menyusun narasi pemasaran, mengembangkan ide, serta membangun argumentasi yang logis dan menarik.

J. Mahameru menegaskan bahwa kreativitas dan kemampuan komunikasi merupakan dua kompetensi yang saling melengkapi dalam dunia profesional. Ide yang baik akan sulit berkembang apabila tidak dapat disampaikan dengan efektif, sementara kemampuan komunikasi yang kuat akan membantu seseorang membangun jejaring, memengaruhi audiens, dan menciptakan peluang baru.
Bagi peserta Humaniora I-CAN 2026, materi ini memberikan bekal yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan karier di masa depan. Kemampuan presentasi, berpikir kritis, menyusun argumentasi, serta memahami strategi komunikasi menjadi keterampilan yang dibutuhkan hampir di semua bidang profesi, mulai dari dunia bisnis, pendidikan, diplomasi, hingga industri kreatif.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi yang hidup, praktik langsung, serta berbagai simulasi yang diberikan menciptakan suasana belajar yang aktif dan konstruktif. Melalui sesi ini, Humaniora I-CAN 2026 kembali menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dan alumni dengan keterampilan praktis yang mendukung kesiapan mereka menjadi profesional yang adaptif, komunikatif, dan berdaya saing global. [bila/Infopub]





