MIU Login

Presiden LITA Dorong Kurikulum Adaptif sebagai Kunci Transformasi Pendidikan Tinggi

HUMANIORA – (23/7/2026) Presiden Linguistics and Literature Association (LITA), Dr. Hj. Meinarni Susilowati, M.Ed., memimpin forum diskusi para pimpinan program studi yang tergabung dalam LITA pada rangkaian ADIA International Conference 2026 di Hotel Luxton Cirebon, Kamis (23/7/2026). Forum yang berlangsung usai parallel session tersebut menjadi ruang strategis bagi para akademisi untuk merumuskan arah pengembangan kelembagaan sekaligus memperkuat kontribusi asosiasi dalam menghadapi transformasi pendidikan tinggi di era AI Society.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Meinarni menegaskan bahwa asosiasi keilmuan tidak hanya berfungsi sebagai wadah jejaring profesional, tetapi juga sebagai ruang kolektif untuk membangun sensitivitas akademik terhadap perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, perguruan tinggi dituntut mampu merespons dinamika global melalui kebijakan akademik yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas lulusan.

Baca juga :

Foto : Forum diskusi LITA dipimpin Ketua Asosiasi Dr. Meinarni Susilowati

“Perubahan yang sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk terus melakukan refleksi dan pembaruan. Asosiasi memiliki peran strategis dalam menghadirkan gagasan, menyusun rekomendasi, sekaligus menjadi mitra perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Salah satu isu utama yang menjadi pembahasan adalah reformulasi kurikulum adaptif bagi program studi bahasa dan sastra Inggris. Para peserta sepakat bahwa kurikulum harus mampu menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, serta perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence) yang telah mengubah lanskap dunia pendidikan dan profesi.

Kurikulum tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan teori semata, tetapi harus dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi multidisipliner, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara etis dan produktif. Melalui kurikulum yang adaptif, mahasiswa diharapkan memiliki daya saing global sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan industri, dunia kerja, maupun perkembangan riset kebahasaan dan kesastraan.

Foto : Dr. Galuh Nur Rohmah dalam sesi diskusi Asosiasi LITA

Forum LITA juga membahas pengembangan model asesmen pembelajaran dan tugas akhir mahasiswa yang lebih fleksibel serta berbasis capaian kompetensi. Para peserta memberikan respons positif terhadap gagasan bahwa skripsi tidak lagi menjadi satu-satunya bentuk tugas akhir untuk mengukur keberhasilan mahasiswa. Berbagai alternatif, seperti proyek terapan, publikasi ilmiah, produk inovatif, maupun karya berbasis kebutuhan industri seperti karya sastra dinilai layak dikembangkan sebagai bentuk rekognisi atas kompetensi mahasiswa yang semakin beragam.

Untuk mewujudkan sistem tersebut, LITA mendorong keterlibatan akademisi, praktisi, asosiasi profesi, dan dunia industri dalam merumuskan instrumen asesmen yang valid, terukur, dan sesuai dengan standar mutu pendidikan tinggi. Pendekatan ini diyakini mampu menghasilkan sistem evaluasi yang lebih autentik sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi sesuai bidang minat dan keahliannya.

Dr. Agwin Degaf dalam sesi diskusi Asosiasi LITA

Pembahasan strategis berikutnya adalah rencana pembentukan Asosiasi Mahasiswa Sastra Inggris tingkat nasional sebagai bagian dari penguatan ekosistem LITA. Kehadiran asosiasi mahasiswa dipandang penting untuk memperluas ruang aktualisasi, meningkatkan kepemimpinan mahasiswa, memperkuat jejaring antar kampus, serta mendorong lahirnya berbagai kolaborasi akademik di tingkat nasional.

Melalui wadah tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan ilmiah, tetapi juga memperoleh pengalaman organisasi, kolaborasi lintas perguruan tinggi, pertukaran gagasan, serta pengembangan kompetensi yang mendukung kesiapan mereka memasuki dunia profesional.

Selain penguatan mahasiswa, forum juga menekankan pentingnya memperluas kolaborasi antar lembaga melalui berbagai program akademik, seperti lecturer mobility, visiting lecturer, kolaborasi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan publikasi ilmiah bersama. Sinergi tersebut dipandang mampu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperkuat rekognisi akademik setiap institusi anggota LITA.

Secara terpisah, menurut peserta forum, Dr. Galuh Nur Rohmah, yang sekaligus dosen Prodi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kolaborasi yang terbangun melalui asosiasi akan menjadi modal penting dalam menciptakan ekosistem akademik yang lebih dinamis, produktif, dan saling menguatkan. Pertukaran keahlian antar perguruan tinggi tidak hanya meningkatkan kapasitas dosen, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui perspektif keilmuan yang lebih luas.

Gagasan lain yang memperoleh perhatian serius adalah pembentukan database kepakaran (expertise mapping) bagi seluruh anggota LITA. Melalui sistem pemetaan tersebut, setiap dosen akan terdokumentasi berdasarkan bidang keahlian, rekam jejak penelitian, publikasi, maupun kompetensi profesional yang dimiliki.

Keberadaan basis data kepakaran ini dinilai sangat strategis dalam mendukung efektivitas pengelolaan sumber daya manusia asosiasi. Ketika dibutuhkan narasumber, reviewer, peneliti, asesor, ataupun mitra kolaborasi dengan kompetensi tertentu, LITA dapat mengidentifikasi tenaga ahli secara cepat dan akurat dari jejaring internalnya. Langkah ini sekaligus memperkuat rekognisi keilmuan anggota, memperluas peluang kolaborasi nasional maupun internasional, serta meningkatkan daya saing asosiasi sebagai organisasi profesi yang adaptif terhadap kebutuhan zaman

Melalui berbagai agenda strategis tersebut, LITA menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra pengembangan pendidikan tinggi, khususnya dalam bidang linguistik terapan, bahasa, dan sastra Inggris. Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan oleh perguruan tinggi anggota sehingga asosiasi tidak hanya menjadi ruang silaturahmi akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak transformasi pendidikan tinggi yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan mutu serta relevansi lulusan di tingkat nasional maupun global. [al/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait