HUMANIORA – (23/7/2026) Kemajuan pesat Artificial Intelligence (AI) telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia, mulai dari cara belajar, bekerja, meneliti, hingga mengambil keputusan. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang akan menjaga nilai-nilai kemanusiaan ketika mesin semakin cerdas?
Baca juga :

Pertanyaan inilah yang menjadi gagasan utama dalam Opening Speech Presiden Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab Indonesia (ADIA) sekaligus Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Faisol, pada ADIA International Conference 2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Luxton Cirebon, Rabu (22/7/2026).
Di hadapan ratusan akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, Prof. Faisol mengajak dunia pendidikan untuk memikirkan kembali posisi ilmu humaniora di tengah revolusi kecerdasan buatan.
Ia membuka pidatonya dengan sebuah pertanyaan yang langsung menggugah perhatian peserta.
“Jika AI mampu menulis artikel, menerjemahkan kitab, bahkan menjawab pertanyaan mahasiswa dalam hitungan detik, lalu apa yang masih menjadi tugas utama Fakultas Adab?”

Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan refleksi terhadap perubahan besar yang sedang berlangsung. Dunia, katanya, telah bergerak dari Digital Society menuju Artificial Intelligence Society, sebuah fase ketika AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi telah menjadi ekosistem baru yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas manusia.
Perubahan tersebut menuntut perguruan tinggi untuk melakukan transformasi paradigma pendidikan. Selama dua dekade terakhir, lembaga pendidikan tinggi lebih banyak berfokus pada penguatan digital literacy, yakni kemampuan memanfaatkan teknologi, mengakses informasi, menciptakan konten digital, dan berkomunikasi secara efektif melalui berbagai platform.
Namun, menurut Prof. Faisol, tantangan di era AI jauh lebih kompleks.
“Pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi apakah seseorang mampu menggunakan teknologi, melainkan apakah ia mampu menggunakannya secara bertanggung jawab, etis, dan bermakna,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai perguruan tinggi harus mulai membangun seperangkat kompetensi baru, seperti kemampuan berkolaborasi dengan AI, melakukan verifikasi terhadap informasi, menjaga integritas akademik, memahami etika digital, hingga mempertahankan adab dalam setiap penggunaan teknologi.
Lebih lanjut, Prof. Faisol menegaskan bahwa tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah kelangkaan informasi.
“Masalah terbesar era AI bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kutipan yang paling mendapat perhatian peserta konferensi. Menurutnya, AI mampu menghasilkan jutaan informasi dalam waktu singkat, tetapi teknologi tidak memiliki kemampuan untuk menentukan nilai, hikmah, maupun arah moral dari informasi tersebut. Di sinilah peran ilmu humaniora menjadi semakin strategis.
Salah satu gagasan utama yang diperkenalkan Prof. Faisol adalah konsep rekonstruksi adab sebagai fondasi pengembangan kompetensi manusia di era kecerdasan buatan.
Ia menggambarkan pengembangan kapasitas manusia melalui sebuah piramida kompetensi. Lapisan pertama adalah Digital Literacy, kemudian meningkat menjadi AI Literacy, dilanjutkan Critical Literacy, Ethical Literacy, dan pada puncaknya terdapat Adab sebagai orientasi tertinggi seluruh proses pendidikan.
Menurutnya, adab tidak boleh dipahami hanya sebagai etika dalam pengertian sempit.
“Adab merupakan orientasi yang menempatkan seluruh kemampuan manusia dalam kerangka tauhid, kemanusiaan, tanggung jawab, dan kemaslahatan,” jelasnya.
Melalui paradigma tersebut, AI diposisikan bukan sebagai ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan sebagai instrumen yang harus diarahkan untuk menghasilkan kemanfaatan yang lebih luas bagi manusia dan peradaban.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Faisol juga menawarkan paradigma baru pengembangan ilmu humaniora yang ia sebut sebagai Adab-Centered Humanities.
Menurutnya, selama ini kajian humaniora identik dengan bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan. Padahal, di era AI, humaniora memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu membentuk manusia yang mampu memproduksi makna, membangun empati, menjaga identitas budaya, serta melahirkan kebijaksanaan.
Ia kemudian menyampaikan salah satu kalimat yang menjadi pesan sentral dalam pidatonya.
“Ketika AI menghasilkan informasi, Fakultas Humaniora harus menghasilkan kebijaksanaan.”
Pernyataan tersebut memperoleh apresiasi luas dari peserta konferensi karena dinilai memberikan arah baru bagi pengembangan fakultas-fakultas adab dan humaniora di tengah percepatan transformasi teknologi.
Bagi Prof. Faisol, kecanggihan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan kemampuan manusia dalam memahami makna kehidupan, membangun empati, maupun mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan moral dan spiritual.
Pada bagian akhir presentasinya, Prof. Faisol memperkenalkan konsep Adab sebagai Meta-Competence.
Ia menjelaskan bahwa adab merupakan kompetensi reflektif yang mengintegrasikan dimensi etis, epistemologis, spiritual, dan kemanusiaan sehingga manusia mampu menempatkan ilmu pengetahuan, teknologi, lingkungan, serta sesama manusia dalam hubungan yang benar berdasarkan prinsip tauhid.
Melalui pendekatan tersebut, penguasaan AI tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap kemaslahatan bersama.
Sebagai penutup pidatonya, Prof. Faisol menyampaikan refleksi yang merangkum keseluruhan gagasannya.
“Peradaban tidak diukur dari seberapa canggih kecerdasan buatannya, tetapi dari seberapa kuat adab yang membimbing penggunaannya.”
Ia mengajak seluruh perguruan tinggi, khususnya fakultas-fakultas adab dan humaniora, untuk mengambil peran strategis sebagai penjaga nilai, pembentuk karakter, dan penghasil kebijaksanaan di tengah era kecerdasan buatan.
Menurutnya, masa depan pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga insan yang mampu mengarahkan teknologi untuk menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan peradaban.
ADIA International Conference 2026 sendiri dihadiri ratusan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri. Forum tahunan tersebut menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan pengembangan ilmu adab dan humaniora dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk transformasi digital dan perkembangan Artificial Intelligence.
Melalui gagasan besar yang disampaikan Presiden ADIA, konferensi ini menegaskan bahwa masa depan ilmu humaniora justru semakin relevan di era AI. Ketika teknologi mampu menghasilkan pengetahuan secara instan, tugas perguruan tinggi adalah memastikan pengetahuan tersebut diarahkan oleh adab, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan demi membangun peradaban yang lebih bermartabat. [al/Infopub]





