Oleh: Frandika Arung Amukti*
Waktu menunjukkan pukul tiga sore tepat ketika aku berdiri di tengah hiruk pikuk stasiun kereta api Bangkok. Suara riuh manusia yang saling bersahutan memenuhi ruang, seolah sebuah konser tanpa jeda yang mengalun tanpa henti. Aku berdiri bersandar di tiang penyanggah, perlahan menyerap setiap nuansa kehidupan yang berdenyut di stasiun itu. Di balik jantung kota Thailand yang sibuk ini, aku tengah menunggu sebuah kereta yang akan membawaku menuju provinsi Songkhla. Perjalanan panjang selama kurang lebih 16 jam yang menuntut kesabaran.
Baca juga:
- Asrama Berhantu, Pendidikan Berjiwa: Kisah 9 Pejuang di Negeri Gajah Putih
- Jalani Surveillance Audit ISO, Humaniora Perkuat Budaya Mutu dan Siap Lakukan Improvement Berkelanjutan
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Bagiku, ini adalah sebuah petualangan baru, sebuah kesempatan berharga untuk mengenal lebih jauh budaya dan kehidupan masyarakat di bagian lain Thailand. Selama tiga minggu ke depan, aku akan mengajar di sebuah sekolah di Songkhla, berinteraksi dan berbagi cerita dengan anak-anak lokal, dan tentunya menyerap pengalaman yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-hari yang aku kenal. Ketika aku membayangkan itu semua, campuran antara rasa antusias dan sedikit kegelisahan memenuhi hatiku.
Pukul 15:40, kereta yang kutunggu akhirnya datang. Suara roda besi yang berderak dan deru mesin tua itu mengisi udara sore yang mulai menyejuk. Aku mengangkat kepala dan menatap kereta itu dengan penuh takjub. Seperti sebuah mesin waktu, kereta ini tampak berasal dari era yang jauh berbeda, model antik yang mengingatkanku pada kereta tahun 90 an di Indonesia. Jendela-jendelanya yang bisa dibuka tutup dengan tangan, kipas angin berputar perlahan di bagian atap, dan kursi-kursi kayu yang tegak, semuanya mengarah pada pengalaman perjalanan yang sangat berbeda dari kereta modern. Dengan nada bercanda aku berpikir dalam hati, “Sepertinya era listrik dan kemajuan teknologi belum sepenuhnya sampai ke sini.”
Saat memasuki gerbong, keramaian langsung terasa. Penumpang sibuk mencari tempat duduk, saling berbincang dengan nada ramah, sementara pedagang keliling mulai menawarkan berbagai makanan dan minuman. Ada nasi bungkus yang baru dimasak, air mineral dingin, buah-buahan segar, serta camilan yang menggoda untuk dicoba. Aku tersenyum kecil membayangkan sepanjang 16 jam ke depan aku akan merasakan perjalanan tanpa hiburan modern seperti wifi atau colokan charger yang biasa aku andalkan. Namun, entah kenapa, justru hal itulah yang membuat perjalanan ini terasa penuh keunikan dan kesederhanaan yang menyenangkan.
Jam demi jam berlalu dengan lambat namun penuh warna. Deru kereta tua yang stabil dan goyangan halus seperti berlayar di tengah samudra memberikan perasaan damai yang jarang kutemukan. Aku kerap mengintip keluar jendela yang terbuka lebar, menatap pemandangan yang berganti seperti hutan lebat, hamparan sawah yang hijau, desa-desa kecil dengan heningnya suasana pedesaan. Setiap sudut yang kulihat terasa seperti adegan dalam film petualangan klasik anak-anak tahun 90 an. Suara alam yang bersautan dengan gumaman mesin dan tawa penumpang menambah kehangatan suasana.
Malam mulai merayap, dan suhu di luar pun turun cukup terasa. Dalam gelapnya gerbong yang hanya diterangi lampu remang-remang, suasana menjadi hening namun akrab. Tidak ada wifi, tidak ada pengisi daya untuk ponsel, hanya deru kereta, suara roda, dan tawa renyah penumpang sekitar yang tengah mengobrol dengan santai. Aku merebahkan kepala di sandaran kursi yang keras, membiarkan imajinasiku melayang. Jika suatu saat ada yang bertanya, “Bagaimana rasanya naik kereta selama 16 jam dari Bangkok ke Songkhla?” Jawabku pasti sederhana namun penuh makna: “Lucu, melelahkan, seru, dan tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupku.”
Perjalanan ini mengajarkanku satu hal penting, bahwa terkadang hidup memang harus dimaknai dengan melambatkan ritme, menikmati setiap detik, bahkan ketika segala sesuatu terasa tak praktis dan sederhana. Suara-suara orang di sekitarku, udara dingin yang masuk lewat jendela yang terbuka lebar, serta kipas angin yang berputar tak tentu arah, semuanya menjadi harmoni alami yang menenteramkan. Kereta tua itu bukan hanya membawa ku ke sebuah tempat baru, tapi juga mengantarku pada pemahaman baru tentang bagaimana menikmati saat-saat sederhana dan tetap bisa tertawa dalam segala keterbatasan.
Ketika tiba di stasiun Songkhla pada pagi hari selepas perjalanan panjang, aku keluar dengan rasa lega tapi juga bahagia. Pengalaman menaiki kereta tua itu telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam ingatanku. Kenangan tentang perjalanan yang melelahkan namun penuh tawa dan pelajaran, menjadi bagian cerita hidupku di Thailand yang akan selalu aku ingat.
*Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan merupakan peserta I-Smash 2025





