HUMANIORA – (3/6/2026) Kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia global yang saling terhubung. Di tengah meningkatnya mobilitas internasional, individu tidak hanya dituntut menguasai bahasa asing, tetapi juga memahami perbedaan budaya, membangun empati, serta mampu menjadi penghubung antarbangsa dalam berbagai bidang kehidupan.
Read too:
- Samarkand dan Warisan Intelektual Islam Jadi Sorotan di Humaniora I-CAN 2026
- Ajarkan Creative Thinking, J. Mahameru Tantang Mahasiswa Humaniora Berani Berpikir Out of The Box
Pesan tersebut mengemuka dalam sesi kedua Humaniora International Career Access Network (I-CAN) 2026 yang menghadirkan CEO YOU-I Japan, Yamada Kazuo, melalui Zoom Meeting. Dalam materi bertajuk “Menyatukan Ishikawa dengan Dunia”, ia mengajak peserta memahami pentingnya kolaborasi lintas budaya sebagai fondasi dalam membangun masyarakat global yang inklusif dan saling terhubung.
Dalam pemaparannya, Yamada Kazuo menceritakan perjalanan berdirinya YOU-I Japan yang berawal dari kepeduliannya terhadap warga asing yang tinggal di Prefektur Ishikawa, Jepang, sekitar dua dekade lalu. Saat itu, banyak pendatang internasional mengalami kesulitan beradaptasi karena keterbatasan bahasa dan minimnya akses komunikasi dengan masyarakat lokal. Kondisi tersebut mendorong lahirnya sebuah organisasi yang berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat Jepang dan komunitas internasional.

Berangkat dari kebutuhan sederhana untuk membantu proses adaptasi warga asing, YOU-I Japan kemudian berkembang menjadi organisasi yang dipercaya oleh berbagai universitas, perusahaan, dan lembaga pemerintahan dalam menjalankan program-program kolaboratif berskala internasional. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan sosial dapat diubah menjadi solusi yang memberikan dampak luas bagi masyarakat.
Bagi peserta Humaniora I-CAN 2026, materi ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kompetensi lintas budaya dalam dunia profesional. Di era globalisasi, kemampuan memahami perbedaan budaya dan membangun komunikasi yang efektif dinilai sama pentingnya dengan kemampuan akademik maupun teknis.
Mahasiswa juga diajak melihat bahwa peluang karier global tidak hanya terbuka melalui profesi-profesi konvensional, tetapi juga melalui peran sebagai fasilitator, mediator, maupun penghubung dalam berbagai kerja sama internasional. Kemampuan bahasa, sensitivitas sosial, dan keterampilan membangun relasi menjadi modal penting yang dapat membuka banyak peluang di tingkat global.

Salah satu peserta Humaniora I-CAN 2026, Abdul Muzakki, mengaku memperoleh wawasan baru dari materi yang disampaikan. Menurutnya, pengalaman yang dibagikan oleh Yamada Kazuo menunjukkan bahwa keberhasilan di dunia internasional tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga kemampuan memahami manusia dan budaya yang berbeda.
“Materi ini membuka pandangan saya bahwa kemampuan bahasa dan komunikasi antarbudaya memiliki peran yang sangat besar dalam membangun hubungan internasional. Kita belajar bahwa memahami orang lain dan mampu menjadi jembatan antarbudaya merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.
Selain itu, sesi tanya jawab juga memperkenalkan berbagai peluang mobilitas internasional bagi mahasiswa. Salah satu informasi yang mendapat perhatian peserta adalah keterbukaan program kegiatan mahasiswa di Jepang bagi peserta internasional. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk memperoleh pengalaman global kini semakin terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara.
Melalui sesi ini, Humaniora I-CAN 2026 tidak hanya memperkenalkan peluang karier internasional, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjadi warga dunia (global citizen) memerlukan kemampuan beradaptasi, menghargai keberagaman, dan membangun kolaborasi lintas budaya. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa Humaniora untuk berkiprah di tengah masyarakat global yang semakin dinamis dan multikultural. [end/Infopub]





