HUMANIORA – (11/9/2026) Integritas tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui nilai yang dihidupkan dalam keseharian. Semangat inilah yang diangkat Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (11/9/2026), dengan menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai pijakan untuk memperkuat budaya akademik yang amanah, jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas.
Baca juga:
Mengusung tema “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika”, kegiatan berlangsung di Aula Gedung Y Ar-Rahim Fakultas Humaniora lantai 3 dan diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.

Peringatan Maulid tahun ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh, momentum tersebut diarahkan menjadi refleksi bersama mengenai bagaimana nilai-nilai profetik dapat hadir secara nyata dalam kehidupan akademik, pelayanan, pekerjaan, maupun proses belajar mahasiswa.
Suasana religius telah terasa sejak rangkaian praacara. Hadrah dan pembacaan Maulid mengawali kegiatan, disusul sholawat bersama serta pembacaan puisi dan sholawat. Lantunan tersebut membangun suasana hangat sekaligus mempertemukan berbagai unsur sivitas akademika dalam satu ruang kebersamaan.

Memasuki acara inti, kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag.
Peringatan Maulid menjadi momentum untuk menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah dalam konteks kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai profetik tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku nyata dalam menjalankan setiap amanah.


Dalam kehidupan perguruan tinggi, refleksi tersebut memiliki relevansi yang kuat.
Integritas menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun lingkungan akademik yang sehat. Ia hadir dalam kejujuran menjalankan tugas, tanggung jawab terhadap pekerjaan, konsistensi antara nilai dan tindakan, serta kesungguhan memberikan yang terbaik sesuai peran masing-masing.
Dosen memiliki amanah dalam pendidikan, pengembangan keilmuan, dan pembinaan mahasiswa. Tenaga kependidikan memegang peran penting dalam memastikan layanan berjalan profesional dan bertanggung jawab. Sementara mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kapasitas intelektual sekaligus membentuk karakter selama menjalani proses pendidikan.

Ketiga unsur tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama.
Karena itu, membangun fakultas yang unggul tidak cukup hanya melalui capaian akademik, prestasi, maupun penguatan kelembagaan. Kualitas institusi juga ditentukan oleh karakter orang-orang yang tumbuh dan bekerja di dalamnya.
Di titik inilah nilai keteladanan Rasulullah menemukan relevansinya dalam kehidupan akademik.
Tema “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika” juga membawa pesan bahwa spiritualitas dan profesionalitas tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah.
Nilai amanah dapat tercermin dalam kesungguhan menjalankan tanggung jawab. Kejujuran dapat hadir dalam proses akademik maupun pekerjaan. Sikap menghargai orang lain dapat tumbuh dalam pelayanan dan interaksi sehari-hari. Sementara tanggung jawab dapat diwujudkan melalui kesadaran untuk menjalankan setiap peran dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian, keteladanan Nabi Muhammad SAW memperoleh ruang aktualisasinya dalam kehidupan kampus.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting ketika Fakultas Humaniora terus bertumbuh sebagai institusi pendidikan. Penguatan kualitas akademik membutuhkan fondasi karakter agar setiap perkembangan kelembagaan tetap berjalan bersama etika dan tanggung jawab.
Peringatan Maulid kemudian menjadi ruang untuk mengingat kembali fondasi tersebut.
Setelah mauidhoh hasanah, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Mahallul Qiyam. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa mengikuti rangkaian tersebut bersama-sama sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Momen itu sekaligus memperlihatkan sisi lain kehidupan akademik Humaniora. Di tengah aktivitas perkuliahan, pelayanan, penelitian, dan berbagai agenda kelembagaan, terdapat ruang yang mempertemukan seluruh unsur fakultas dalam suasana religius dan penuh kebersamaan.
Nuansa kebersamaan semakin terasa karena peringatan Maulid Nabi tahun ini juga dikemas dengan semangat berbagi.
Fakultas Humaniora menghadirkan dua gunungan jajanan sebagai bagian dari kemeriahan acara. Selain itu, tersedia camilan serta lebih dari 350 doorprize yang diperuntukkan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Kehadiran gunungan jajanan dan ratusan hadiah memberikan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan. Setelah mengikuti sholawat, refleksi, Mahallul Qiyam, dan doa, peserta dapat menikmati suasana yang lebih cair dan akrab bersama keluarga besar Humaniora.
Di balik kemeriahannya, tradisi berbagi tersebut membawa pesan sederhana mengenai kebersamaan.
Fakultas bukan hanya ruang tempat dosen mengajar, tenaga kependidikan bekerja, dan mahasiswa belajar. Di dalamnya terdapat komunitas akademik yang dibangun melalui interaksi, kepedulian, dan rasa memiliki.
Karena itu, peringatan hari besar keagamaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat hubungan antarsivitas akademika di luar rutinitas formal sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini pada akhirnya membawa refleksi yang lebih luas bagi Fakultas Humaniora.
Upaya membangun institusi yang unggul membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga karakter. Pengetahuan perlu berjalan bersama kejujuran. Profesionalitas membutuhkan tanggung jawab. Prestasi perlu dibarengi dengan integritas.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika perguruan tinggi menghadapi tuntutan perubahan yang cepat. Kemajuan teknologi, transformasi pendidikan, dan kompetisi global dapat mengubah banyak aspek kehidupan akademik, tetapi nilai yang menjadi fondasi perilaku manusia tetap memiliki posisi mendasar.
Karena itu, keteladanan Rasulullah dapat terus menemukan relevansinya dalam kehidupan kampus—bukan hanya ketika Maulid diperingati, tetapi dalam cara sivitas akademika belajar, mengajar, melayani, bekerja, berinteraksi, dan menjalankan amanah setiap hari.
Melalui semangat “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika”, Fakultas Humaniora menjadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk mempertemukan spiritualitas, integritas, dan budaya akademik.
Dari lantunan sholawat hingga refleksi profetik, dari Mahallul Qiyam hingga tradisi berbagi, seluruh rangkaian membawa satu pesan yang sama: keteladanan Rasulullah akan menemukan maknanya ketika nilai-nilainya hadir dalam tindakan.
Dengan fondasi tersebut, Humaniora terus menumbuhkan lingkungan akademik yang tidak hanya mengejar keunggulan pengetahuan dan prestasi, tetapi juga menjaga amanah, kebersamaan, kemanusiaan, dan integritas sebagai bagian dari identitas sivitas akademikanya. [unr-sof/Infopub]





