MIU Login

“Perjalanan bukan hanya soal jarak yang ditempuh, tetapi tentang bagaimana kita menemukan diri di tengah lintasan waktu.”

Ada sesuatu yang ajaib dari setiap perjalanan. Bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah transformasi batin. Malam sebelum keberangkatan, saya duduk menatap koper yang terbuka di lantai kamar. Di dalamnya, pakaian yang sudah dipilih dengan hati-hati, beberapa buku catatan, serta peralatan kaligrafi yang selalu menemaniku. Entah mengapa, perasaan kali ini berbeda: bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, melainkan perjalanan budaya, pendidikan, sekaligus pengalaman hidup yang mungkin akan kubawa seumur hidup.

Baca juga :

Saya teringat sebuah kutipan Jalaluddin Rumi: “Jangan puas hanya dengan cerita bagaimana orang lain telah menjalani hidup. Lipat layar dan berlayarlah sendiri.” Dan malam itu, saya merasa sedang benar-benar melipat layar.

Sebelum tidur, saya sempat membayangkan bagaimana nanti mendarat di negeri orang, bertemu wajah-wajah baru, saling bertukar cerita dan sapa, mengenalkan budaya Indonesia, sekaligus belajar budaya mereka. Saya tahu perjalanan ini tak akan mulus, tetapi justru di situlah letak indahnya: tantangan, kejutan, dan pelajaran.

Pesawat mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok. Aroma asing langsung menyapa: campuran makanan jalanan, parfum orang-orang yang lalu lalang, dan udara tropis yang meskipun mirip Indonesia, tetap memiliki nuansa berbeda.

Begitu keluar, saya merasa seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk pasar malam—mata tak berhenti menoleh ke kanan dan kiri. Semua serba ramai, semua serba hidup. City tour Bangkok menjadi pembuka yang manis. Dari hiruk pikuk jalanan dengan motor yang saling selip, hingga bangunan megah kuil-kuil berornamen emas, semuanya terasa seperti lembaran sejarah yang tiba-tiba hidup.

Di sela perjalanan, saya sempat mencicipi Thai Tea. Manisnya menempel di lidah, seperti manisnya momen pertama benar-benar berada jauh dari tanah air dengan sebuah misi.

Kalau ada satu bagian perjalanan yang paling “gila”, mungkin ini: perjalanan menuju Chana, tempat RWS berada. Bayangkan kereta tua dengan bangku keras, jendela yang kadang tak bisa tertutup rapat, dan suara mesin yang seperti lagu latar tanpa henti. Perjalanan itu memakan waktu 16 jam.

Awalnya kami antusias. Namun beberapa jam kemudian, posisi duduk mulai terasa menyiksa. Ada yang mencoba tidur tapi terganggu suara roda besi, ada yang mengobrol untuk mengusir kantuk, ada pula yang hanya melamun menatap jendela. Saya sendiri mencoba menulis catatan kecil di buku. Anehnya, di tengah ketidaknyamanan itu, saya justru menemukan keindahan.

Jendela kereta menyuguhkan pemandangan pedesaan Thailand: sawah luas, sungai kecil, rumah kayu, hingga anak-anak yang melambaikan tangan saat kereta lewat. Seolah mereka tahu, di dalam gerbong ini ada sekelompok pemuda Indonesia yang sedang mencari makna di negeri orang.

Seseorang di samping saya berkata, “Perjalanan ini memang berat, tapi justru di sini letak ceritanya.” Saya tersenyum. Benar juga. Kadang, perjalanan paling sulit justru melahirkan kenangan paling kuat.

Sesampainya di RWS, rasa lelah langsung terbayar oleh sambutan hangat siswa dan staf sekolah. Anak-anak menyapa dengan terbata-bata, tetapi penuh ketulusan. Kami pun mencoba membalas dengan bahasa mereka, meskipun sama-sama kikuk karena perbedaan bahasa. Dari situ saya belajar: komunikasi sejati bukan soal kefasihan, tetapi niat untuk terhubung.

Hari-hari di RWS berjalan cepat dan penuh warna. Kami mengajar, menyelenggarakan seminar dan workshop, mengikuti big cleaning day, pembelajaran bahasa, hingga olahraga bersama. Setiap kegiatan memiliki ceritanya sendiri.

Saat big cleaning day, kami bersama-sama membersihkan kelas dan halaman sekolah. Meski sederhana, momen itu menjadi awal terbentuknya ikatan. Tawa pecah ketika ada yang salah menggunakan sabun hingga busa meluber ke lantai. Di situ saya sadar, manusia terhubung bukan hanya lewat kata, tetapi juga lewat kerja sama yang sederhana namun bermakna.

Kegiatan cultural study membuka mata saya tentang luasnya dunia. Kami memperkenalkan budaya Indonesia, mulai dari bahasa, makanan, hingga aksara. Saya bahkan sempat mengajarkan huruf Arab dan kaligrafi sederhana. Wajah-wajah siswa yang berbinar saat berhasil menulis menjadi hadiah yang tak ternilai. Di sisi lain, saya juga banyak belajar dari mereka.

Di lapangan, batas bahasa seakan hilang. Kami bermain bola bersama, tertawa saat terjatuh, dan bersorak saat mencetak gol. Outbound pun tak kalah seru, terutama saat bekerja dalam tim. Di sana, kepercayaan tumbuh tanpa banyak kata.

Momen berharga juga hadir saat peringatan 17 Agustus di Konsulat Indonesia Songkhla. Berdiri mengikuti upacara di negeri orang membuat dada terasa berbeda. Saat lagu Indonesia Raya berkumandang, saya benar-benar merasakan makna menjadi bagian dari bangsa ini.

Meski kami datang terlambat dan hanya sempat menikmati suasana serta berfoto, kebersamaan itu tetap membekas. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, seolah Indonesia begitu dekat meski jauh dari rumah.

Perjalanan berlanjut dengan city tour: Pantai Samila yang berangin lembut, Masjid Jamik Songkhla yang megah, Patung Buddha Tidur yang hening, hingga Pasar Lee Garden yang ramai. Malamnya kami menuju Malaysia melalui perjalanan sleeper bus selama delapan jam, dengan dua kali pemeriksaan paspor.

Kami sempat singgah di Kuala Lumpur, mengunjungi KLCC yang gemerlap dan Bukit Bintang yang tak pernah tidur, lalu menuju TBS dan KLIA sebelum kembali ke Indonesia. Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Juanda pada 18 Agustus pukul 23.30.

Saat roda pesawat menyentuh landasan, perasaan campur aduk muncul: lega, haru, bahagia, sekaligus sedih karena perjalanan telah usai. Namun bukankah setiap akhir hanyalah awal dari cerita berikutnya?

Dari semua yang saya lalui, saya belajar bahwa perjalanan sejati bukan sekadar berpindah tempat, tetapi tentang bertemu orang baru, menghadapi ketidaknyamanan, lalu tumbuh karenanya.

Saya teringat kata-kata Ibn Battuta: “Traveling—it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” Dan benar, banyak momen yang membuat saya terdiam, lalu berubah menjadi cerita.

Dari perjalanan ini saya belajar tiga hal penting:

  1. Dunia jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.
  2. Ketidaknyamanan adalah bagian dari proses pertumbuhan.
  3. Identitas adalah harta yang membentuk diri kita hari ini.

I-SMASH Humaniora bukan sekadar program, tetapi perjalanan kehidupan. Dari koper yang ditutup di kamar sebelum berangkat hingga koper yang dibuka kembali di rumah, saya merasa banyak hal dalam diri saya telah berubah.

Perjalanan ini mengajarkan keberanian, persahabatan lintas budaya, dan pemahaman tentang diri sendiri.“Pada akhirnya, kita semua adalah peziarah. Dunia ini luas, dan tugas kita hanyalah berjalan, belajar, dan membawa pulang cerita.” [Zaqhlul Ammar]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait