MIU Login

PBAK-F Humaniora 2026 Teguhkan Identitas Akademik dan Tanggung Jawab Kebangsaan

HUMANIORA – (20/8/2026) Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang resmi membuka Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) 2026, Kamis pagi (20/8/2026) di ruang Auditorium Fakultas Humaniora lantai 3. Pembukaan tersebut menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenali kehidupan perguruan tinggi sekaligus membangun identitas sebagai insan akademik yang humanis, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial.

Baca juga:

Rangkaian kegiatan dimulai dengan welcoming session, registrasi peserta, dan breakfast gathering. Melalui suasana yang cair dan bersahabat, mahasiswa baru memperoleh kesempatan untuk saling mengenal sebelum mengikuti agenda resmi. Pola penyambutan tersebut memperlihatkan bahwa proses adaptasi di lingkungan akademik tidak hanya membutuhkan pengenalan sistem, tetapi juga rasa aman, keterhubungan sosial, dan kesiapan untuk bertumbuh bersama.

Pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Seluruh peserta kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Fakultas Humaniora, serta Bangun Pemudi Pemuda. Perpaduan rangkaian religius, akademik, dan kebangsaan itu membentuk kerangka nilai PBAK: kedalaman spiritual, kecintaan terhadap institusi, serta tanggung jawab kepada bangsa.

Pesan penting mengenai proses transisi mahasiswa disampaikan Ketua Pelaksana PBAK-F 2026, Zildan Amar, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2024. Ia menegaskan bahwa PBAK merupakan ruang awal perubahan identitas dari siswa menjadi mahasiswa. Perubahan tersebut tidak berhenti pada status administratif, tetapi menuntut kemandirian berpikir, kematangan bersikap, serta kesediaan bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan.

Menurut Zildan, mahasiswa merupakan agent of change yang harus menjunjung etika dan nilai-nilai luhur. Pesan ini menjadi penting di tengah modernisasi yang membuka akses pengetahuan secara luas, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa banjir informasi, perubahan sosial yang cepat, dan kecenderungan pragmatis dalam memandang pendidikan.

Dalam konteks tersebut, identitas insan akademik humanis dibutuhkan agar penguasaan ilmu tidak terlepas dari kepekaan moral. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi atau penerima informasi. Mereka perlu mampu menguji informasi secara kritis, memahami persoalan manusia secara mendalam, dan menggunakan pengetahuannya untuk menghadirkan kemaslahatan.

Zildan turut menjelaskan makna “Wirayudha” yang menyertai semangat pelaksanaan PBAK tahun ini. Kata “wira” dimaknai sebagai prajurit atau kesatria, sedangkan “yudha” berarti peperangan atau perjuangan. Dalam konteks mahasiswa Humaniora, Wirayudha bukan seruan untuk melakukan pertentangan, melainkan manifestasi keberanian memperjuangkan kebaikan bersama.

Makna tersebut memperkuat posisi PBAK sebagai proses penanaman karakter. Perjuangan mahasiswa dapat diwujudkan melalui kedisiplinan belajar, kejujuran akademik, penghormatan terhadap keberagaman, keberanian menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, serta kemauan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai itu menjadi fondasi penting bagi mahasiswa yang kelak akan berinteraksi dalam ruang lokal, nasional, maupun internasional.

Dimensi kebangsaan kemudian diperkuat Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Humaniora, Moh Abadi, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2023. Ia mengajak mahasiswa baru memanfaatkan universitas sebagai ruang untuk belajar menjadi bagian dari budaya akademik. Kampus, dalam pesannya, bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi lingkungan untuk melatih nalar, membangun keberanian intelektual, dan menemukan bentuk kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Abadi mengingatkan bahwa generasi muda kini menghadapi berbagai tantangan, tetapi harapan bangsa tetap harus dijaga. “Negara membutuhkan kita. Tanyakan pada diri: apa yang bisa kita lakukan?” tuturnya.

Pertanyaan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai subjek perubahan, bukan sekadar penonton atas persoalan yang berkembang. Orientasi mahasiswa baru dengan demikian diarahkan dari pertanyaan tentang apa yang akan mereka peroleh selama kuliah menuju kesadaran mengenai apa yang dapat mereka berikan melalui ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang dimiliki.

Pesan Abadi juga menghubungkan perjalanan akademik mahasiswa dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Kontribusi menuju cita-cita tersebut tidak hanya ditentukan oleh penguasaan sains dan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami bahasa, budaya, komunikasi, identitas, dan dinamika kemanusiaan. Di titik inilah mahasiswa Humaniora memiliki posisi strategis: menjaga agar kemajuan bangsa tetap berpijak pada nilai, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kemampuan berbahasa dan memahami budaya juga menjadi modal penting dalam membangun komunikasi lintas masyarakat serta memperluas jejaring global. Sejalan dengan arah pengembangan Fakultas Humaniora yang membekali mahasiswa dengan wawasan lokal hingga internasional, budaya akademik yang diperkenalkan melalui PBAK menjadi fondasi bagi kesiapan mahasiswa memasuki ruang kolaborasi yang semakin beragam.

Sementara itu, Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Humaniora, A. Habil Maulana, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2023, menekankan pentingnya pertumbuhan diri yang berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa menjadi lebih baik hari ini dibandingkan kemarin merupakan kunci keberuntungan.

Meskipun disampaikan secara singkat, pesan tersebut memiliki relevansi kuat bagi mahasiswa baru. Kehidupan perguruan tinggi berlangsung melalui proses panjang yang menuntut konsistensi. Kemajuan tidak selalu hadir dalam pencapaian besar, tetapi juga melalui kebiasaan membaca, keberanian berdiskusi, kemampuan menerima evaluasi, kedisiplinan menyelesaikan tanggung jawab, dan kesediaan memperbaiki kekurangan.

Pesan Ketua SEMA melengkapi dua gagasan sebelumnya. Jika Zildan menekankan pembentukan identitas dan keberanian memperjuangkan kebaikan, sedangkan Abadi menegaskan tanggung jawab kebangsaan, Habil mengingatkan bahwa semua cita-cita tersebut harus dibangun melalui pertumbuhan pribadi dari hari ke hari. Ketiganya membentuk satu rangkaian orientasi: memahami siapa diri mahasiswa, menyadari untuk siapa ilmu digunakan, dan menyiapkan proses untuk mencapainya.

Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., secara resmi membuka PBAK-F 2026. Dalam arahannya, ia menekankan kemampuan mengelola diri sebagai salah satu bekal utama mahasiswa dalam menghadapi kehidupan akademik. Menurutnya, kegagalan sering berakar pada mentalitas dan spiritualitas yang lemah. Karena itu, mahasiswa perlu berani menghadapi rintangan dan memandang setiap pengalaman sebagai bagian berharga dari pembentukan diri.

Pesan Dekan mempertemukan semangat kepemimpinan mahasiswa dengan fondasi mental dan spiritual. Kemandirian nalar membutuhkan pengendalian diri, keberanian berkontribusi memerlukan ketangguhan, sedangkan pertumbuhan akademik perlu ditopang integritas. Dengan fondasi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalani pendidikan secara utuh, tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan kepedulian sosial.

Pembukaan ditandai dengan pembunyian angklung bersama jajaran dekanat. Selain menjadi simbol kebersamaan, penggunaan angklung menghadirkan penghormatan terhadap kekayaan budaya lokal. Setiap nada hanya dapat membentuk harmoni ketika dimainkan bersama—sebuah simbol bahwa kehidupan akademik memerlukan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, organisasi kemahasiswaan, dan seluruh unsur fakultas.

Semangat kegiatan dirangkum melalui tagline PBAK Fakultas Humaniora 2026, “Nalar Berdikari, Nurani Membumi, Siap Beraksi.” Nalar berdikari mencerminkan kemandirian intelektual; nurani membumi menegaskan keberpihakan pada kemanusiaan; sedangkan siap beraksi menunjukkan bahwa pengetahuan harus diwujudkan menjadi kontribusi nyata.

Rangkaian pembukaan diakhiri dengan doa bersama untuk kelancaran seluruh kegiatan. Melalui PBAK-F 2026, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan kepada lingkungan kampus, tetapi juga diajak memahami mandat moral dan sosial yang menyertai identitas mereka sebagai bagian dari keluarga besar Fakultas Humaniora. [nada/Infopub]

One Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait