HUMANIORA – (18/8/2026) Semangat menjaga bumi berpadu dengan kekayaan budaya Nusantara saat kontingen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tampil dalam Kick Off Dies Maulidiyah Ke-65 UIN Malang, Senin (17/8/2026). Mengenakan busana adat Sumatra Barat, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Humaniora membawa pesan Eco Green Campus melalui defile, poster edukatif, serta pertunjukan tari kreatif bernuansa Minangkabau. Partisipasi tersebut menjadi cara Humaniora memaknai perayaan institusi tidak hanya dengan kemeriahan, tetapi juga melalui pesan budaya dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Baca juga:
Kick Off Dies Maulidiyah Ke-65 dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pihak universitas sebelumnya menegaskan bahwa momentum 17 Agustus 2026 sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian Dies Maulidiyah Ke-65 UIN Malang.

Dalam perayaan bertajuk Lustrum XIII, rangkaian Dies Maulidiyah tahun ini mengusung semangat “Dari UIN Malang untuk Dunia: Peran Strategis Kampus dalam Membangun Peradaban Kesehatan”. Seluruh sivitas akademika terlibat dalam kegiatan tersebut melalui kolaborasi antarunit dan fakultas yang menampilkan identitas, kreativitas, serta gagasan masing-masing.
Kontingen Fakultas Humaniora dipimpin langsung Dekan Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag. Bersama jajaran dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, rombongan tampil dengan pakaian adat khas Sumatra Barat yang merepresentasikan kebudayaan Minangkabau.
Pilihan budaya Minangkabau memberikan warna tersendiri dalam defile Humaniora. Tradisi Minangkabau dikenal melalui prinsip “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang menempatkan adat dan nilai keagamaan dalam relasi yang saling menguatkan. Dalam konteks Fakultas Humaniora, representasi budaya tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak sekadar hadir sebagai simbol visual, tetapi mengandung nilai, identitas, dan pandangan hidup yang terus diwariskan lintas generasi.

Namun, Humaniora tidak berhenti pada representasi kebudayaan. Kontingen membawa tema “Kampus Hijau dan Bebas Polusi/Eco Green Campus” sebagai pesan utama dalam defile. Para dosen dan tenaga kependidikan berjalan membawa berbagai poster edukatif mengenai kepedulian lingkungan, pengurangan sampah, penghematan energi, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan kampus.
Pilihan tema tersebut memiliki relevansi kuat dengan arah pengembangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) 2020–2044, fase pengembangan universitas periode 2025–2029 mengusung tema “A Green Campus Toward Sustainable Development Goals”. Orientasi Green Campus tidak hanya menyangkut kondisi fisik yang ramah lingkungan, tetapi juga transformasi tata kelola, budaya organisasi, kualitas akademik, dan perilaku sivitas yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Bagi Fakultas Humaniora, kepedulian lingkungan juga bukan gagasan yang baru diperkenalkan dalam momentum defile. Fakultas sebelumnya telah menjalankan sejumlah praktik pendukung Green Campus, termasuk kebijakan layanan administrasi akademik berbasis paperless untuk mengurangi penggunaan kertas sekaligus memperkuat transformasi layanan digital.
Karena itu, poster-poster yang dibawa dalam defile memiliki pesan yang lebih luas daripada pelengkap visual. Kampanye tersebut mengajak sivitas akademika melihat bahwa keberlanjutan dimulai dari kebiasaan sehari-hari: menggunakan energi secara bijak, mengurangi limbah, menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah, serta membangun kesadaran bahwa fasilitas kampus merupakan ruang bersama yang harus dirawat.

Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., menilai keterlibatan Humaniora dalam Kick Off Dies Maulidiyah Ke-65 menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sivitas sekaligus menerjemahkan nilai yang ingin dibangun fakultas melalui ekspresi budaya dan kepedulian lingkungan.
Menurutnya, tema Green Campus yang dibawa kontingen sejalan dengan komitmen Fakultas Humaniora untuk mendukung arah pengembangan universitas. Kepedulian terhadap lingkungan perlu tumbuh menjadi budaya bersama dan hadir dalam kebiasaan sehari-hari seluruh warga kampus, bukan hanya menjadi slogan dalam momentum tertentu.
Nuansa Humaniora semakin terasa ketika defile tidak hanya membawa pesan lingkungan, tetapi juga menghadirkan ekspresi seni. Seusai parade, kontingen Fakultas Humaniora menampilkan tarian kreatif dengan iringan musik khas Sumatra Barat “Dindin Badindin”.
Dosen perempuan dan tenaga kependidikan perempuan berkolaborasi dalam pertunjukan tersebut. Gerak tari yang dinamis berpadu dengan ritme musik Minangkabau menghadirkan suasana meriah sekaligus menunjukkan sisi kreatif sivitas akademika Humaniora.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi lintas unsur yang menarik. Dosen dan tenaga kependidikan yang dalam keseharian menjalankan fungsi akademik dan administratif hadir dalam ruang yang berbeda: bersama-sama menampilkan kreativitas, kekompakan, dan apresiasi terhadap budaya Nusantara.
Bagi fakultas yang mengembangkan bidang bahasa, sastra, dan kebudayaan, ekspresi seni memiliki makna yang relevan. Budaya tidak hanya menjadi objek yang dibicarakan di ruang akademik, tetapi dapat dihadirkan, dialami, dan dikomunikasikan melalui praktik kreatif.
Perpaduan tema Green Campus dan kebudayaan Minangkabau juga memperlihatkan dua dimensi yang dapat berjalan beriringan dalam studi humaniora: menjaga warisan budaya sekaligus merespons persoalan kontemporer. Di satu sisi, sivitas akademika diajak menghargai kekayaan identitas dan tradisi Nusantara; di sisi lain, mereka diajak memikirkan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dan masa depan yang berkelanjutan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika perguruan tinggi menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran dan kebiasaan yang dapat memberikan dampak pada lingkungan dan masyarakat.
Partisipasi Fakultas Humaniora dalam rangkaian Dies Maulidiyah juga menunjukkan bahwa komunikasi mengenai isu lingkungan dapat dilakukan melalui cara yang kreatif. Poster, pakaian tradisional, musik, tari, dan defile menjadi medium yang membawa pesan institusional ke ruang publik dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima.
Pada saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi ruang memperkuat kebersamaan antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Persiapan kostum, poster, konsep defile, hingga pertunjukan tari membutuhkan kerja bersama yang pada akhirnya mempertemukan berbagai unsur fakultas dalam pengalaman yang sama.
Kolaborasi semacam itu menjadi penting dalam membangun kultur institusi. Fakultas bukan hanya ruang tempat setiap individu menjalankan tugas masing-masing, tetapi komunitas akademik yang tumbuh melalui interaksi, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap lembaga.
Melalui keikutsertaan dalam Kick Off Dies Maulidiyah Ke-65, Fakultas Humaniora menghadirkan pesan bahwa perayaan institusi dapat menjadi ruang untuk merawat budaya sekaligus menyuarakan masa depan. Semangat Minangkabau yang dibawa dalam defile mengingatkan pentingnya nilai dan identitas, sementara kampanye Eco Green Campus mengajak seluruh sivitas memikirkan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dengan perpaduan budaya, kreativitas, dan kepedulian ekologis tersebut, Fakultas Humaniora turut memberi warna pada perayaan 65 tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lebih dari sekadar tampil dalam parade, Humaniora membawa gagasan bahwa membangun peradaban juga berarti merawat kebudayaan, menjaga lingkungan, memperkuat kebersamaan, dan mewariskan kampus yang lebih baik kepada generasi berikutnya. [sof/Infopub]





