MIU Login

WIRAYUDHA Jadi Simbol Semangat Mahasiswa Baru Humaniora pada Hari Pertama PBAK-F 2026

HUMANIORA – (20/8/2026) Sebanyak 353 mahasiswa baru Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memulai perjalanan akademiknya dengan semangat WIRAYUDHA dalam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas (PBAK-F) 2026, Kamis (20/8/2026). Berlangsung di Aula Fakultas Humaniora Kampus 3 UIN Malang, kegiatan tersebut menjadi ruang awal pembentukan identitas mahasiswa sebagai insan akademik yang berilmu, berkarakter, dan menjunjung nilai kemanusiaan.

Baca juga:

Semangat WIRAYUDHA menjadi inti sambutan Ketua Pelaksana PBAK Fakultas Humaniora 2026, Zildan Amar. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2024 itu menyambut mahasiswa baru dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) serta Sastra Inggris yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Humaniora.

Di hadapan para peserta, Zildan menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa baru di lingkungan fakultas bukan sekadar menandai dimulainya perkuliahan. Momentum tersebut merupakan awal dari proses transisi yang menuntut perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab.

Dari siswa yang sebelumnya banyak menerima arahan, mereka kini memasuki lingkungan perguruan tinggi yang menuntut kemandirian. Mahasiswa diharapkan mampu menentukan arah pengembangan dirinya, mengelola proses belajar, serta mempertanggungjawabkan setiap pilihan akademik maupun sosial yang diambil.

Menurut Zildan, PBAK menjadi ruang awal yang penting dalam proses perubahan tersebut. Melalui rangkaian kegiatan yang disiapkan, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan kepada lingkungan fisik fakultas, tetapi juga kepada budaya akademik, kehidupan kemahasiswaan, serta nilai-nilai yang menjadi identitas Fakultas Humaniora.

Ia mengajak seluruh peserta mengikuti PBAK dengan penuh semangat dan sikap terbuka. Berbagai materi, interaksi, dan pengalaman selama kegiatan diharapkan tidak dipahami sebagai formalitas penyambutan mahasiswa baru, melainkan sebagai bekal awal untuk menjalani kehidupan akademik secara matang dan bertanggung jawab.

Zildan juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agent of change. Identitas tersebut membawa tanggung jawab moral untuk tidak hanya mengembangkan kapasitas intelektual, tetapi juga menjaga etika dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan kampus maupun masyarakat.

Menjadi agen perubahan, dalam konteks tersebut, tidak selalu dimulai dengan tindakan besar. Perubahan dapat berawal dari keberanian menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, menjaga kejujuran akademik, menghargai perbedaan, membangun kebiasaan belajar, serta peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pesan itu menjadi relevan di tengah arus modernisasi yang membawa banyak peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Perkembangan teknologi telah memperluas akses mahasiswa terhadap pengetahuan, jejaring, dan ruang kolaborasi. Namun, perubahan tersebut juga menuntut kemampuan berpikir kritis agar mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu menilai, memahami, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Karena itu, Zildan menekankan bahwa kemajuan intelektual harus berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan. Mahasiswa Humaniora diharapkan tidak hanya terampil secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kesadaran etis, serta kemampuan memahami manusia dan kebudayaan dalam berbagai konteks.

Orientasi tersebut selaras dengan tema PBAK Fakultas Humaniora 2026 yang menegaskan pentingnya identitas insan akademik humanis di tengah modernisasi. Identitas humanis menjadi landasan agar mahasiswa mampu merespons perubahan zaman tanpa kehilangan nurani dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.

Seluruh orientasi itu dirangkum dalam identitas utama PBAK Fakultas Humaniora 2026, yakni “WIRAYUDHA”. Zildan menjelaskan bahwa istilah tersebut dibentuk dari kata “wira” yang berarti prajurit atau kesatria dan “yudha” yang berarti peperangan atau perjuangan.

Dalam konteks PBAK, WIRAYUDHA tidak dimaknai sebagai perjuangan dalam bentuk pertentangan fisik. Istilah tersebut merupakan manifestasi semangat mahasiswa untuk memperjuangkan kebaikan bersama melalui ilmu pengetahuan, integritas, keberanian, dan kepedulian sosial.

Seorang kesatria akademik dituntut memiliki keberanian menghadapi berbagai tantangan selama perkuliahan. Tantangan itu dapat berupa kesulitan beradaptasi, tuntutan akademik, perubahan pola belajar, perbedaan latar belakang, hingga dinamika sosial yang dijumpai di lingkungan kampus. Kesatria tidak menghindari proses tersebut, tetapi menghadapinya sebagai bagian dari pembentukan diri.

Semangat WIRAYUDHA sekaligus menempatkan mahasiswa sebagai pribadi yang tidak berhenti pada kepentingan individual. Ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi perlu diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Dengan demikian, pencapaian akademik memperoleh makna yang lebih luas karena terhubung dengan tanggung jawab sosial.

Bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kemampuan membangun komunikasi lintas bahasa dan budaya. Kompetensi humaniora memberi mereka ruang untuk menjadi komunikator, analis, inovator, pendidik, dan penggerak dialog yang mampu menjembatani perbedaan di tengah masyarakat yang semakin terhubung.

Kemampuan memahami bahasa, budaya, dan kemanusiaan juga menjadi bekal penting untuk menghadapi lingkungan global. Namun, kesiapan global tersebut perlu bertumpu pada identitas yang kuat. Mahasiswa diharapkan mampu membuka diri terhadap berbagai perkembangan tanpa kehilangan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang menjadi fondasi pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Melalui sambutannya, Zildan menempatkan PBAK sebagai titik awal untuk membangun keseimbangan antara kecakapan akademik dan karakter. Mahasiswa baru didorong untuk mengenal lingkungan fakultas, membangun relasi yang sehat, serta mempersiapkan diri menjadi bagian aktif dari budaya akademik.

Kehadiran 353 mahasiswa baru juga memiliki arti strategis bagi keberlanjutan Fakultas Humaniora. Mereka bukan hanya peserta didik yang akan mengikuti perkuliahan, tetapi generasi penerus yang kelak turut membawa nama fakultas melalui karya, prestasi, pengabdian, dan kontribusi di tengah masyarakat.

Karena itu, proses pengenalan pada hari pertama menjadi penting untuk menanamkan orientasi yang tepat sejak awal. Ketika mahasiswa memahami identitas dan tanggung jawabnya, mereka akan lebih siap memanfaatkan kesempatan akademik, kegiatan kemahasiswaan, program pengembangan kompetensi, serta ruang kolaborasi nasional dan internasional yang tersedia selama masa studi.

WIRAYUDHA kemudian tidak hanya menjadi nama atau simbol kegiatan. Ia menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik merupakan sebuah perjuangan yang membutuhkan keberanian, ketekunan, disiplin, dan keteguhan nilai. Perjuangan tersebut diarahkan bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk mengatasi keterbatasan diri dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Melalui semangat tersebut, Zildan berharap seluruh mahasiswa baru mampu tumbuh menjadi generasi Humaniora yang berintelektual sekaligus berkarakter. Generasi yang mampu merespons modernisasi secara kritis, menggunakan pengetahuan dengan bijaksana, dan tetap menempatkan kemanusiaan sebagai orientasi utama.

Hari pertama PBAK Fakultas Humaniora 2026 akhirnya menjadi penanda dimulainya perjalanan baru bagi 353 mahasiswa angkatan 2026. Dengan membawa semangat WIRAYUDHA, mereka memasuki dunia akademik sebagai kesatria-kesatria muda yang dipersiapkan untuk belajar, bertumbuh, serta memperjuangkan kebaikan melalui ilmu dan tindakan nyata. [asf/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait