MIU Login

Merajut Mimpi di Negeri Gajah Putih: Belajar, Berkarya, dan Bertumbuh Bersama I SMASH HUMANIORA

Oleh: Novia Fatma Azzahra

Di tengah arus globalisasi yang semakin dinamis, pengalaman internasional bukan lagi sekadar nilai tambah bagi mahasiswa, melainkan kebutuhan untuk membangun kompetensi dan perspektif global. Kesempatan itulah yang saya peroleh melalui program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora 2025, sebuah program yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkontribusi, dan bertumbuh di lingkungan internasional.

Baca juga:

Bagi saya, mengikuti I-SMASH bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Program ini merupakan langkah nyata untuk keluar dari zona nyaman, mengembangkan kemampuan diri, serta menguji kesiapan menghadapi tantangan global. Sebagai mahasiswa Fakultas Humaniora, saya melihat program ini sebagai kesempatan emas untuk memperluas wawasan, memperkuat keterampilan komunikasi, sekaligus membangun kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan masyarakat lintas budaya.

Selama 21 hari, mulai 28 Juli hingga 16 Agustus 2025, saya bersama tim melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Chariyatam Suksa Foundation School, sebuah sekolah Islam swasta yang berlokasi di Provinsi Songkhla, Thailand. Sekolah ini memiliki sekitar 2.000 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai tingkat dasar hingga menengah, termasuk program Tahfiz Al-Qur’an. Kami ditempatkan pada program Intensive Arabic English Program (IAEP), sebuah lingkungan belajar yang membiasakan siswa menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam program tersebut, kami mendapat amanah mengajarkan Bahasa Melayu-Indonesia, meliputi kosakata, percakapan dasar, hingga materi Hadis Arbain tentang konsep Iman, Islam, dan Ihsan. Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah menyampaikan materi berbahasa Indonesia dengan penjelasan menggunakan bahasa Inggris. Sebagai seseorang yang masih berada pada tahap dasar dalam penguasaan bahasa Inggris, pengalaman ini sempat menimbulkan keraguan.

Namun justru dari tantangan tersebut saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Saya menyadari bahwa keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada ketakutan untuk melakukan kesalahan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sederhana. Pengalaman ini menjadi titik awal yang mendorong saya untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa asing sebagai bekal menghadapi peluang internasional di masa depan.

Selain mengajar, saya juga banyak belajar dari lingkungan sekolah. Bersama para siswa, saya terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaran, khususnya kelas reading yang melatih kemampuan membaca dan pengucapan bahasa Inggris. Interaksi tersebut tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan bahasa saya, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi lintas budaya.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah pendekatan pendidikan yang diterapkan di Thailand. Sekolah memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk mengeksplorasi kreativitas dan berpikir kritis. Penggunaan tablet maupun iPad dalam pembelajaran diperbolehkan, didukung dengan fasilitas teknologi yang memadai di setiap kelas. Siswa dibiasakan bekerja secara kolaboratif melalui berbagai proyek kreatif, seperti presentasi digital dan desain menggunakan Canva.

Lebih dari itu, budaya bertanya dan berargumentasi secara konstruktif sangat didorong dalam proses pembelajaran. Lingkungan seperti ini menciptakan suasana belajar yang aktif dan inovatif. Pada saat yang sama, penghormatan siswa terhadap guru tetap terjaga dengan baik. Setiap kali berpapasan dengan guru, para siswa selalu menyapa dan memberikan salam dengan sopan. Kombinasi antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap pendidik menjadi nilai yang sangat menarik untuk dipelajari.

Meski demikian, ritme belajar di sekolah tersebut juga cukup padat. Kegiatan belajar berlangsung sejak pukul 08.15 hingga 15.30 dengan durasi setiap mata pelajaran sekitar 45 menit. Pada waktu Zuhur, seluruh siswa melaksanakan salat berjamaah di masjid sekolah sebelum melanjutkan aktivitas belajar. Bagi saya, jadwal yang padat tersebut menjadi pengalaman berharga untuk melatih disiplin, ketahanan fisik, dan kemampuan mengelola energi selama mengajar.

Pengalaman paling berkesan selama berada di Thailand adalah keterlibatan dalam kegiatan English Camp yang berlangsung pada 10–13 Agustus 2025 di kawasan Pantai Chana. Program ini dirancang untuk mendorong siswa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai aktivitas kreatif, termasuk pembuatan vlog mengenai sejarah Kota Chana dan tokoh penting setempat, Syekh Ahmad Fathoni.

Bagi saya, English Camp menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Di sana saya belajar bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya dibangun melalui teori di kelas, tetapi juga melalui keberanian untuk praktik secara langsung. Kesalahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar yang harus diterima.

Pengalaman lintas budaya juga semakin kaya ketika kami berkesempatan mengunjungi tempat ibadah umat Hindu sebagai bagian dari pembelajaran toleransi dan keberagaman. Kegiatan ini memperluas pemahaman saya bahwa hidup dalam masyarakat global membutuhkan sikap terbuka, saling menghargai, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai latar belakang budaya maupun keyakinan.

Tidak berhenti di situ, saya juga memperoleh kesempatan mengajar di Sutrak Montessori School, sebuah sekolah yang mayoritas siswanya beragama Buddha. Bersama tim, kami mengajarkan kosakata bahasa Indonesia kepada siswa sekolah dasar. Mengajar anak-anak tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Dibutuhkan kreativitas, energi, dan kesabaran lebih besar untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus kondusif.

Melalui kunjungan tersebut, saya juga melihat bagaimana sekolah memberikan perhatian besar terhadap pengembangan minat dan bakat siswa. Selain pelajaran akademik, tersedia berbagai kelas pendukung seperti musik, tari tradisional Thailand, hingga renang. Pendekatan pendidikan yang holistik seperti ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya bagi peserta didik.

Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya semakin memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Pengalaman internasional telah mengajarkan saya pentingnya keterbukaan terhadap perbedaan, keberanian menghadapi tantangan, serta kemampuan membangun komunikasi dengan siapa pun, di mana pun.

Program I-SMASH Humaniora membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi di tingkat global. Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemauan untuk belajar, keberanian mencoba hal baru, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul.

Bagi saya pribadi, I-SMASH bukan sekadar program mobilitas internasional. Program ini adalah perjalanan transformasi yang mempertemukan mimpi dengan realitas. Di Negeri Gajah Putih, saya tidak hanya belajar menjadi pendidik, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh, terbuka, dan percaya diri.

Melalui pengalaman ini, saya ingin mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan soft skill, hard skill, dan jejaring internasional. Dunia saat ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, komunikatif, dan mampu bekerja sama dalam lingkungan yang beragam. Jangan takut keluar dari zona nyaman, karena sering kali kesempatan terbaik justru hadir dari langkah-langkah yang berani kita ambil.

Pada akhirnya, pengalaman global seperti I-SMASH menjadi bukti bahwa mimpi dapat diraih oleh siapa saja yang berani mempersiapkan diri dan mengambil peluang. Semoga semakin banyak mahasiswa yang terinspirasi untuk mengikuti program internasional, membawa nama baik Indonesia di kancah global, serta menjadi agen perubahan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait