MIU Login

Dari Membaca ke Memaknai, Mahasiswa Sastra Inggris Belajar Bersama Pakar dari University of York

HUMANIORA(8/9/2026) Membaca karya sastra tidak berhenti pada kemampuan memahami cerita atau menerjemahkan kata demi kata. Bagi mahasiswa Sastra Inggris, membaca merupakan proses akademik untuk menemukan konteks, memahami cara teks bekerja, membangun interpretasi, hingga mempertanggungjawabkan argumentasi. Kemampuan inilah yang diperkuat Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui International Scholar Engagement.

Baca juga:

Mengangkat tema “Reading Literature Effectively Strategies for Understanding and Appreciating Literary Works”, kegiatan tersebut menghadirkan Jemima Holliday dan Freya Lovstrom dari University of York, Inggris. Ratusan mahasiswa Sastra Inggris mengikuti kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 Fakultas Humaniora tersebut.

Pertemuan ini membawa mahasiswa pada satu pemahaman penting membaca sastra adalah aktivitas yang membutuhkan keterlibatan aktif pembaca.

Foto : Forum akademik ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan global, berinteraksi dengan perspektif akademik internasional, serta membangun atmosfer pembelajaran yang lebih terbuka dan lintas budaya

Mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui apa yang diceritakan sebuah karya, tetapi juga memahami konteks yang melatar belakanginya, hubungan antar elemen dalam teks, pilihan bahasa, hingga berbagai kemungkinan interpretasi yang muncul.

Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting bagi mahasiswa Sastra Inggris. Sepanjang perjalanan akademiknya, mereka akan berhadapan dengan beragam karya, teori, dan perspektif yang membutuhkan kemampuan membaca secara kritis. Mereka perlu bergerak dari sekadar memahami isi menuju kemampuan mengembangkan interpretasi dan mendiskusikannya secara akademik.

Kehadiran dua International Scholars Engagement tersebut sekaligus memperluas pengalaman mahasiswa dalam melihat karya sastra. Sebuah teks dapat dibaca secara berbeda ketika berhadapan dengan pembaca yang membawa latar budaya, pengetahuan, dan pengalaman yang berbeda.

Foto : Mahasiswa Fakultas Humaniora mengikuti International Scholar Engagement sebagai ruang untuk memperluas wawasan global dan memperkuat atmosfer akademik internasional.

Di sinilah pembelajaran sastra menjadi ruang pertemuan gagasan. Mahasiswa belajar bahwa membaca tidak selalu berarti menemukan satu jawaban tunggal. Mereka justru ditantang untuk menemukan argumentasi, mendengarkan interpretasi lain, dan menjelaskan alasan di balik pembacaan mereka.

Ketua Program Studi Sastra Inggris, Dr. Agwin Degaf, M.A., menilai pengalaman tersebut penting diperkenalkan sejak mahasiswa berada pada semester awal.

“Sejak semester pertama, kami ingin mahasiswa Sastra Inggris merasakan bahwa mereka menjadi bagian dari lingkungan akademik yang terbuka dan berorientasi internasional. Kegiatan seperti ini bukan hanya memberikan wawasan tentang bagaimana membaca dan memahami karya sastra secara efektif, tetapi juga membangun keberanian mahasiswa untuk berinteraksi, berdiskusi, dan menggunakan bahasa Inggris secara langsung. Kami berharap pengalaman ini menjadi awal yang baik bagi perjalanan akademik mereka di Program Studi Sastra Inggris,” ungkapnya.

Bagi Program Studi Sastra Inggris, kemampuan membaca secara kritis memiliki keterkaitan dengan berbagai kompetensi akademik lain. Ketika mahasiswa mampu membaca dengan baik, mereka memiliki dasar yang lebih kuat untuk berdiskusi, menulis, melakukan analisis, dan pada tahap berikutnya mengembangkan penelitian.

Karena itu, International Scholar Engagement tidak hanya memberikan pengalaman bertemu dengan narasumber internasional. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses membangun budaya membaca, berpikir kritis, dan berdiskusi secara akademik.

Pertemuan bersama Jemima Holliday dan Freya Lovstrom juga memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi jembatan untuk memahami pengalaman manusia dan kebudayaan yang berbeda. Melalui teks, mahasiswa dapat membaca persoalan identitas, masyarakat, budaya, maupun pengalaman sosial dari berbagai perspektif.

Bagi ratusan mahasiswa yang hadir, pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi untuk perjalanan akademik mereka berikutnya. Semakin banyak karya yang akan dibaca, semakin beragam teori yang akan dipelajari, dan semakin kompleks pula argumentasi yang perlu mereka bangun.

Dari sinilah kemampuan membaca menemukan maknanya. Bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman, tetapi belajar memahami, mempertanyakan, menginterpretasikan, dan menghargai sebuah karya secara lebih mendalam.

Melalui perjumpaan dengan International Scholars Engagement University of York tersebut, mahasiswa Sastra Inggris memperoleh ruang untuk memperkuat salah satu keterampilan paling mendasar dalam disiplin merekam membaca sastra secara kritis, efektif, dan apresiatif. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait