MIU Login

Mahasiswa Sastra Arab UIN Malang Bagikan Perspektif Inovasi dan Problem Solving di Hadapan Ratusan Mahasiswa Baru Manajemen

HUMANIORA – (7/9/2026) Kemampuan melihat persoalan secara kritis dan menemukan solusi yang relevan menjadi salah satu keterampilan penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dinamika perkuliahan maupun dunia profesional. Hal tersebut menjadi fokus dalam sesi berbagi mengenai Innovation and Problem Solving yang diikuti oleh ratusan mahasiswa baru Program Studi Manajemen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Baca juga:

Bertempat di Lantai 5 Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (2/9/2026), sesi tersebut menghadirkan Maulidya Marta Zalsabila, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai pemateri.

Foto : Penyerahan penghargaan dalam rangkaian Future Management Training XIV 2026

Menariknya, Marta hadir dengan latar belakang keilmuan yang berbeda dari para peserta. Sebagai mahasiswa Sastra Arab, ia berbagi perspektif mengenai inovasi dan pemecahan masalah berdasarkan pengalaman yang diperolehnya selama menjalani berbagai aktivitas di luar ruang kelas, mulai dari organisasi dan kepemimpinan, pengembangan komunitas, bisnis, pemasaran, hingga pengelolaan media sosial dan konten.

Perbedaan latar belakang tersebut justru menjadi bagian penting dalam sesi berbagi. Marta mengajak mahasiswa baru untuk memahami bahwa kemampuan memecahkan masalah tidak terbatas pada satu bidang keilmuan tertentu. Menurutnya, hampir setiap pengalaman yang dijalani mahasiswa memiliki persoalan yang membutuhkan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mencari jalan keluar.

Foto: Momen penyerahan sertifikat dalam rangkaian Future Management Training XIV 2026 bertema “Building Future Leaders Through Character and Innovation”.

“Aku bukan anak Manajemen, aku dari Sastra Arab. Awalnya aku juga berpikir, memang nyambung? Ternyata hampir semua pengalaman yang aku jalani punya satu benang merah, yaitu masalah dan bagaimana kita mencari jalan keluarnya,” ungkap Marta.

Dalam pemaparannya, Marta menjelaskan bahwa inovasi bukan sekadar menghasilkan ide yang terlihat menarik. Sebuah gagasan baru dapat disebut bernilai ketika mampu diimplementasikan dan memberikan manfaat dalam menjawab suatu kebutuhan.

Ia kemudian mengajak mahasiswa membedakan antara creativity dan innovation. Kreativitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gagasan dan berbagai kemungkinan baru, sementara inovasi berkaitan dengan bagaimana gagasan tersebut diwujudkan sehingga menghasilkan nilai.

Menurut Marta, mahasiswa perlu mengubah cara pandang ketika menemukan sebuah persoalan. Bukan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya buat?”, tetapi juga bertanya, “Masalah siapa yang sedang saya coba selesaikan?”

“Orang bukan hanya datang untuk membeli sesuatu atau mengikuti sebuah kegiatan. Mereka datang karena ada value yang mereka dapatkan,” jelasnya.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam sesi tersebut adalah pentingnya tidak terburu-buru mencari solusi. Marta menjelaskan bahwa seseorang sering kali langsung melompat dari masalah menuju solusi tanpa terlebih dahulu memahami penyebab sebenarnya.

Untuk menggambarkan pentingnya memahami akar masalah, Marta memberikan contoh mengenai mahasiswa yang dianggap “malas mengerjakan tugas”. Menurutnya, perilaku tersebut belum tentu menjadi masalah utama. Di baliknya dapat terdapat berbagai faktor, seperti kelelahan, kesulitan memahami materi, kondisi lingkungan, kurangnya dukungan, maupun persoalan lain yang dialami individu.

“Perilaku yang sama belum tentu punya penyebab yang sama,” ujarnya.

Pemahaman tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep root cause atau akar masalah. Marta memperkenalkan metode 5 Why sebagai salah satu cara sederhana untuk menggali penyebab yang lebih mendalam dengan terus mempertanyakan “mengapa” terhadap suatu persoalan.

Dari proses tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak langsung “jatuh cinta” pada solusi yang mereka pikirkan sendiri sebelum memastikan bahwa solusi tersebut benar-benar menjawab kebutuhan orang yang mengalami masalah.

Untuk memberikan kerangka berpikir yang lebih sistematis, Marta memperkenalkan pendekatan Design Thinking yang terdiri atas lima tahapan, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test.

Tahap Empathize mengajak seseorang memahami pengalaman, kebutuhan, dan perspektif orang yang mengalami masalah. Selanjutnya, tahap Define digunakan untuk merumuskan persoalan secara lebih spesifik agar solusi yang dihasilkan tidak terlalu luas.

Setelah masalah dipahami dan dirumuskan, mahasiswa memasuki tahap Ideate, yaitu menghasilkan sebanyak mungkin alternatif solusi. Marta mendorong mahasiswa untuk berani mengeksplorasi berbagai kemungkinan sebelum menentukan gagasan yang akan dikembangkan.

Tahap berikutnya adalah Prototype. Menurut Marta, sebuah solusi tidak harus langsung dibuat dalam bentuk yang sempurna. Prototipe dapat berupa sketsa, simulasi, mock-up, maupun bentuk sederhana lainnya yang memungkinkan sebuah gagasan diuji lebih awal.

Sementara itu, tahap Test menjadi ruang untuk memperoleh masukan dari pengguna. Marta menekankan bahwa mendapatkan kritik terhadap sebuah gagasan tidak selalu berarti kegagalan.

“Feedback itu bukan rejection. Feedback adalah informasi,” tegasnya.

Dengan demikian, proses inovasi tidak berhenti ketika sebuah ide berhasil dibuat. Gagasan perlu diuji, mendapatkan umpan balik, diperbaiki, kemudian diuji kembali hingga semakin relevan dengan kebutuhan pengguna.

Sesi tersebut tidak hanya berlangsung secara satu arah. Para mahasiswa baru juga diajak mengikuti 5 Minutes Challenge, sebuah aktivitas singkat untuk mengidentifikasi persoalan nyata yang mereka temui di lingkungan kampus, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.

Dalam tantangan tersebut, mahasiswa diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan sederhana: siapa yang mengalami masalah, apa masalahnya, mengapa masalah tersebut terjadi, bagaimana kemungkinan solusinya, dan value apa yang dapat diberikan.

Melalui aktivitas ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep inovasi secara teoritis, tetapi juga mencoba menerapkannya pada persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Marta juga menekankan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sebuah startup atau proyek bisnis berskala besar. Inovasi dapat lahir dari organisasi mahasiswa, kegiatan kampus, proyek sosial, komunitas, maupun persoalan sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Innovation doesn’t always start with a business. Sometimes it starts with someone who is annoyed by a problem,” tuturnya.

Menutup sesi, Marta mengajak mahasiswa baru untuk menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk mengeksplorasi, mencoba, membangun, dan belajar dari berbagai pengalaman.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa harus memiliki seluruh jawaban sejak awal. Ketika belum menemukan ide, misalnya, mahasiswa tidak perlu menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki ide.

Alih-alih mengatakan, “Aku nggak punya ide,” mahasiswa dapat mengubahnya menjadi, “Aku belum menemukan ide.” Begitu pula dengan kegagalan yang dapat dipandang bukan semata-mata sebagai hasil akhir, melainkan sebagai sumber pembelajaran.

“Jangan sampai semester enam baru bertanya selama kuliah aku pernah bikin apa?” pesannya.

Pada akhirnya, sesi tersebut mengajak mahasiswa untuk melihat masalah dengan cara pandang yang berbeda. Masalah tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang menghambat, tetapi juga dapat menjadi titik awal untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan dampak.

“See the problem. Understand the people. Create the solution. Test it. Make an impact.”

Pesan tersebut menjadi ajakan bagi mahasiswa baru untuk mulai membangun pola pikir inovatif sejak awal masa perkuliahan. Sebab, inovasi tidak selalu tentang siapa yang memiliki ide paling besar, tetapi tentang siapa yang mampu melihat persoalan, memahami kebutuhan manusia di baliknya, berani mencoba solusi, dan terbuka terhadap proses perbaikan. [sof/infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait