MIU Login

HUMANIORA – (8/9/2026) Hai, aku Nabila, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab yang telah menyelesaikan program I-SMASH. Dengan senang hati, aku ingin membagikan cerita tentang 22 hariku selama di Prawet, salah satu dari 50 distrik di Kota Bangkok, Thailand.

Baca juga:

Tahun ini, aku mendapat kesempatan mengikuti program I-SMASH di bidang pengajaran. Tentu saja aku merasa sangat bersemangat. Begitu kesempatan ini dibuka, bahkan untuk mahasiswa semester empat, tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan untuk bergabung. Alasanku sederhana: program ini berfokus pada pengajaran dan ditempatkan di Thailand. Selain dapat mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia ke luar negeri, kami juga otomatis memperoleh wawasan baru tentang budaya dan bahasa mereka, karena selama 25 hari kami akan tinggal di sana. Waktu yang cukup lama, terlebih bagiku yang belum pernah tinggal jauh dari orang tua.

Selama di pesawat, jujur aku merasa gugup sekaligus bersemangat. Dari jendela, aku melihat kuningnya lampu jalanan sambil bertanya-tanya dalam hati, “Seperti apa ya orang-orang di sana?” Pertanyaan itu baru terjawab ketika mobil yang mengantar kami tiba di sekolah tujuan. Baru saja aku memasuki area sekolah, Ustaz Fuad, guru pamong kami, menyambut dengan hangat dan langsung mempersilakan kami makan malam setelah meletakkan barang bawaan di ruangan.

Kehangatan itu ternyata bukan hanya kesan sesaat. Saat aku turun dari kamar untuk bersiap mengajar, sayup-sayup terdengar ucapan salam dari para murid yang baru tiba di sekolah. Aku membalas senyum dan salam mereka. Awalnya, aku mengira antusiasme mereka kepada kami hanya akan bertahan satu hari. Ternyata, hari-hari berikutnya pun tetap sama. Lama-kelamaan, mereka terasa seperti adik sendiri. Cara mereka terus berusaha berkomunikasi dengan kami di tengah keterbatasan bahasa, ditambah kehangatan senyum yang selalu mereka tunjukkan, membuat 22 hari itu terasa ringan dan menyenangkan untuk dijalani.

Meski begitu, jika boleh jujur, minggu pertama mengajar terasa cukup menantang. Para guru di sana tidak menaruh ekspektasi berlebihan. Mereka hanya berharap kehadiran kami dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri para murid, terutama dalam berbicara menggunakan bahasa asing. Banyak murid di Thailand yang masih berusaha belajar bahasa Inggris. Bahkan, menurut Indeks Kemahiran Bahasa Inggris EF yang diberitakan oleh Bangkok Post, kemampuan bahasa Inggris di Thailand berada di peringkat tiga terbawah di Asia. Hal inilah yang membuatku semakin bersemangat mencari metode pembelajaran yang sesuai.

Salah satu metode yang kugunakan adalah Metode Jibril, metode yang dicetuskan KH Bashori Alwi, yaitu pembelajaran dengan cara mengikuti dan menirukan bacaan guru. Metode Jibril pada dasarnya diaplikasikan dalam pembelajaran Al-Qur’an, tetapi menurutku metode ini juga sangat efektif untuk pembelajaran bahasa, terutama dalam membantu memperbaiki pelafalan para murid sekaligus menguatkan ingatan mereka. Dengan metode ini, murid-murid menjadi lebih percaya diri untuk menirukan kosakata dan kalimat sederhana, lalu perlahan mencoba mengucapkannya sendiri.

Selain belajar beradaptasi di kelas, aku juga belajar memahami budaya baru selama tinggal di Thailand. Salah satu hal yang paling berkesan bagiku adalah kebiasaan masyarakat di sana yang menurutku sangat terbuka. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka terbiasa mengutarakan apa yang dibutuhkan tanpa merasa sungkan. Sebagai pendatang, tentu aku memiliki daftar tempat yang ingin kukunjungi, apalagi Bangkok sebagai ibu kota memiliki banyak destinasi wisata dan pusat perbelanjaan menarik. Karena itu, aku memberanikan diri berbicara kepada Ustazah Saleemah, salah satu guru yang fasih berbahasa Inggris, untuk mengajak kami jalan-jalan. Dari situlah kami jadi lebih sering berbincang dan semakin akrab.

Selama di Thailand, Ustazah Saleemah mengajak kami mengunjungi Platinum Fashion Mall, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Bangkok, serta menikmati suasana Asiatique pada malam hari. Hal lain yang sangat berkesan bagiku adalah selama bepergian kami lebih sering menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi, salah satunya BTS Skytrain. Pengalaman menaiki transportasi umum modern seperti itu tentu menjadi hal baru yang tidak akan kurasakan di Malang.

Selain Platinum dan Asiatique, kami juga mengunjungi Wat Arun, salah satu kuil Buddha yang terletak di tepi barat Sungai Chao Phraya. Menariknya, di sekitar kawasan itu banyak penyewaan baju tradisional Thailand yang bisa dipakai para pengunjung. Rasanya seperti sekali dayung dua tiga pulau terlampaui—warga lokal mendapatkan keuntungan dari penyewaan pakaian, sementara aku juga berkesempatan mencoba langsung pakaian tradisional Thailand.

Kami juga diajak mengunjungi Rattanakosin Exhibition Hall, sebuah museum modern yang menceritakan sejarah, seni, dan budaya Era Rattanakosin sejak tahun 1782, termasuk adat istiadat, pengaruh Barat, sejarah keluarga kerajaan, hingga perkembangan kota Bangkok sampai saat ini. Selain itu, aku juga mengunjungi Suan Luang Rama IX, taman publik terbesar di Bangkok yang dibangun untuk memperingati ulang tahun ke-60 Raja Bhumibol pada tahun 1987. Dari sini aku semakin memahami bahwa masyarakat Thailand memang sangat menghormati keluarga kerajaan. Ustazah Saleemah bahkan bercerita bahwa jika ada anggota kerajaan yang berulang tahun, beberapa aktivitas seperti sekolah bisa diliburkan. Mereka juga memiliki hukum lèse-majesté, yaitu aturan yang melarang siapa pun menghina atau berbicara negatif tentang raja dan keluarga kerajaan.

Selain beradaptasi dengan lingkungan, tentu aku juga tidak bisa dipisahkan dari pengalaman mencoba makanan khas Thailand. Menurutku, masakan Thailand tidak terlalu jauh berbeda dengan Indonesia, tetapi tetap memiliki cita rasa khas tersendiri. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika aku tanpa sengaja memakan daun phak chee atau daun ketumbar, yang ternyata benar-benar tidak cocok di lidahku. Sampai-sampai, ibu yang menyiapkan makan siang untuk kami hafal bahwa aku tidak bisa memakannya. Selain itu, aku juga menjumpai sate kalajengking, gorengan ulat sagu, serta udang dan cumi-cumi yang disajikan hidup-hidup di Iconsiam. Terlihat unik, tetapi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku memilih memotretnya saja.

Tak terasa, 22 hari di Prawet pun berlalu begitu cepat. Kami tiba di stasiun pukul 15.07 untuk mengejar kereta menuju Songkhla yang berangkat pukul 15.10. Begitu duduk di dalam kereta, aku merasa lega sekaligus sedih. Awalnya, aku mengira tinggal jauh dari rumah dan orang tua selama 22 hari akan menjadi sesuatu yang menakutkan. Namun, semua itu berubah karena para murid dan guru di Amanah Suksa memperlakukanku seperti keluarga sendiri. Ada bibi yang selalu mengantarkan makanan sampai ke depan kamar, karyawan supermarket Seven Eleven yang dengan sabar membantu mencarikan makanan halal, dan begitu banyak orang baik lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.

Tak pernah sekalipun terlintas di pikiranku untuk menjadikan Thailand sebagai salah satu negara yang ingin kukunjungi, apalagi dalam rangka program setara PKL di bidang pengajaran. Namun, justru di tempat yang jauh dari rumah ini, aku dipertemukan dengan begitu banyak orang baik. Jauh dari keluarga, aku tetap diperlakukan seperti keluarga sendiri. Ternyata, aku datang ke Thailand bukan sekadar untuk melaksanakan PKL. Aku belajar banyak hal di sana: tentang kosakata bahasa Thailand, tentang kebahagiaan sederhana ketika mereka mendengar aku melafalkan kata-kata sesuai logat mereka, tentang semangat murid-murid yang kadang naik turun saat belajar di kelas, tetapi tetap memiliki empati dan kedisiplinan yang tinggi.

Terima kasih, Prawet. Terima kasih, Amanah Suksa, yang telah memberiku ruang untuk belajar tentang kehidupan selama 22 hari itu. Bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang keberanian, kehangatan, dan rasa syukur. Dua puluh dua hari itu mungkin singkat, tetapi kenangannya akan tinggal lama di hati. [Nabila Farida Farah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait