MIU Login

I-YES 2026 Hadirkan Pengalaman Lintas Budaya di MTs Almaarif 01 Singosari

HUMANIORA – (30/9/2026) Pengalaman internasional tidak selalu harus dimulai dengan perjalanan ke luar negeri. Bagi siswa MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, pengalaman itu hadir langsung di lingkungan madrasah ketika peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 dari 13 negara datang membawa bahasa, pengalaman, dan latar budaya mereka, Rabu (30/9/2026).

Baca juga:

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari hari ketiga I-YES 2026 yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Setelah sebelumnya berinteraksi dengan lingkungan pendidikan dasar, peserta kali ini bergerak menuju madrasah untuk memperluas ruang perjumpaan lintas budaya sekaligus membawa pengalaman internasional lebih dekat kepada siswa.

Foto: Tarian tradisional menjadi salah satu suguhan budaya dalam menyambut peserta I-YES 2026.

Berlokasi di Jalan Masjid No. 33, Pagentan, Singosari, kedatangan peserta disambut melalui welcoming ceremony yang menghadirkan nuansa budaya dan kebangsaan. Siswa menampilkan tari, atraksi Pagar Nusa, hingga Paskibra sebagai bagian dari penyambutan.

Ragam penampilan tersebut membuat pertemuan pertama berlangsung hangat. Seni, tradisi, dan ekspresi siswa menjadi bahasa awal untuk menyambut tamu dari berbagai negara sebelum interaksi berkembang melalui rangkaian kegiatan berikutnya.

Kepala MTs Almaarif 01 Singosari, Dwi Retno Palupi, M.Pd., menyampaikan sambutan kepada peserta sekaligus membuka ruang perjumpaan antara keluarga besar madrasah dengan komunitas internasional I-YES 2026.

Kehadiran peserta dari 13 negara memberi pengalaman tersendiri bagi lingkungan madrasah. Siswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai masyarakat dunia melalui materi pembelajaran, tetapi berkesempatan bertemu langsung dengan orang-orang yang membawa bahasa dan pengalaman budaya berbeda.

Foto: Peserta I-YES 2026 dari berbagai negara mengikuti rangkaian penyambutan di MTs Almaarif 01 Singosari.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, Drs. H. Sahid, M.M., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi kolaborasi Fakultas Humaniora dan MTs Almaarif 01 Singosari dalam menghadirkan pengalaman internasional bagi siswa.

“Pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih, apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan, utamanya Dekan Fakultas Humaniora dan Kepala MTs Almaarif 01 Singosari yang telah menyelenggarakan kegiatan yang sangat luar biasa,” ungkapnya.

Foto : Pimpinan, guru, dan sivitas MTs Almaarif 01 Singosari, Kepala Kantor Kementerian Agama dan Pimpinan dan Tim Fakultas Humaniora turut menyaksikan rangkaian penyambutan I-YES 2026.

Ia melihat kehadiran mahasiswa dari berbagai negara sebagai pengalaman yang berbeda bagi lingkungan madrasah. Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman global tidak hanya dapat dibangun di perguruan tinggi, tetapi juga dapat diperkenalkan sejak jenjang pendidikan menengah.

“Inilah miniatur Indonesia, seluruh suku-suku hadir di MTs Almaarif 01 Singosari. Bukti bahwa madrasah mendunia sudah ada di sini,” ujarnya.

Kehadiran peserta I-YES membuat gagasan mengenai keberagaman menjadi lebih konkret bagi siswa. Perbedaan bahasa, kebiasaan, dan latar budaya yang biasanya dikenal melalui buku atau media kini hadir melalui interaksi dengan orang-orang yang mengalaminya secara langsung.

Dekan Fakultas Humaniora yang berhalangan hadir diwakili Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Halimi, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya pendidikan dalam membantu peserta didik mengenal masyarakat dunia yang semakin terbuka dan saling terhubung.

Foto : Penampilan seni dari siswa MTs Almaarif 01 Singosari memeriahkan penyambutan peserta I-YES 2026.

Perspektif tersebut menjadi relevan dengan karakter I-YES 2026. Program internasional tidak ditempatkan hanya sebagai ruang pertemuan mahasiswa dari berbagai negara, tetapi juga sebagai medium untuk membawa manfaat dari perjumpaan tersebut menuju lingkungan pendidikan di luar kampus.

Melalui interaksi langsung, siswa memiliki kesempatan untuk melihat bahwa dunia dihuni masyarakat dengan bahasa, tradisi, dan pengalaman yang beragam. Pada saat yang sama, peserta internasional juga memperoleh kesempatan mengenal kehidupan pendidikan di Indonesia dari jarak yang lebih dekat.

Perjumpaan tersebut selaras dengan tema I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Dialog lintas budaya tidak berhenti pada forum formal di perguruan tinggi. Dialog juga dapat tumbuh ketika orang-orang dari latar berbeda bertemu, berbicara, berbagi pengalaman, dan berusaha memahami satu sama lain.

Foto: Siswa dan peserta I-YES 2026 berkumpul dalam suasana penyambutan yang semarak di halaman MTs Almaarif 01 Singosari.

Semangat tersebut juga menemukan relevansinya dengan identitas Almaarif yang berangkat dari nilai ma’ruf atau kebaikan. Pendidikan dalam konteks ini menjadi ruang untuk mempertemukan manusia sekaligus menumbuhkan keterbukaan terhadap perbedaan.

Bagi Fakultas Humaniora, kunjungan ke MTs Almaarif 01 Singosari memperlihatkan bagaimana internasionalisasi dapat bergerak keluar dari batas kampus. Peserta internasional tidak hanya mengikuti seminar atau aktivitas akademik di perguruan tinggi, tetapi hadir dan berinteraksi dengan komunitas pendidikan yang lebih luas.

Model tersebut sekaligus menempatkan sekolah dan madrasah mitra sebagai bagian penting dalam ekosistem I-YES. Madrasah tidak sekadar menjadi lokasi kunjungan, tetapi menjadi ruang tempat mahasiswa internasional dan siswa lokal bertemu serta memperoleh pengalaman belajar dari satu sama lain.

Pertemuan melalui I-YES 2026 juga membuka kemungkinan hubungan yang lebih berkelanjutan antara Fakultas Humaniora dan MTs Almaarif 01 Singosari, khususnya dalam bidang pendidikan, bahasa, dan pertukaran budaya. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti ketika kunjungan selesai, tetapi dapat menjadi pintu bagi kolaborasi berikutnya.

Dari Singosari, I-YES 2026 menunjukkan bentuk sederhana namun bermakna dari internasionalisasi pendidikan. Ketika peserta dari 13 negara hadir di lingkungan madrasah, siswa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk belajar tentang dunia, tetapi juga untuk bertemu, berbicara, dan belajar langsung bersama dunia. [nad-unr/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait