MIU Login

Kelas Internasional I-YES 2026, Peserta Kenalkan Bahasa dan Budaya kepada Siswa SD Islam Baitul Makmur

HUMANIORA – (29/9/2026) Ruang-ruang kelas SD Islam Baitul Makmur, Sawojajar, Malang, berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai bahasa dan budaya pada Selasa (29/9/2026). Peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 dari sejumlah negara masuk langsung ke kelas, berinteraksi dengan siswa, serta memperkenalkan bahasa dan kebudayaan negara asal mereka melalui aktivitas yang sederhana dan menyenangkan.

Baca juga:

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hari kedua I-YES 2026 setelah sebelumnya peserta mendapat sambutan dalam Welcome Ceremony. Jika sesi penyambutan memperkenalkan peserta internasional pada keragaman budaya Indonesia, kegiatan di dalam kelas menghadirkan proses sebaliknya: siswa SD Islam Baitul Makmur mendapat kesempatan mengenal dunia melalui cerita dan pengalaman langsung mahasiswa dari berbagai negara.

Foto : Peserta internasional HUMANIORA I-YES 2026 berinteraksi langsung dengan siswa SD Islam Baitul Makmur dalam sesi kelas internasional

Interaksi berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Peserta I-YES bersama siswa melakukan sejumlah aktivitas kreatif, salah satunya melukis vas dan pot bunga. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk mencairkan suasana sebelum peserta mulai berbagi bahasa, kebiasaan, pakaian, hingga pengetahuan sederhana mengenai negara masing-masing.

Tidak ada jarak yang kaku antara mahasiswa dan siswa. Pertanyaan sederhana, nyanyian, gerakan, permainan bahasa, dan aktivitas seni membuat pertukaran budaya berlangsung secara alami.

Suasana ceria terlihat di kelas 1D ketika peserta asal Timor Leste memperkenalkan negaranya melalui lagu. Mereka mengajak siswa mengenal dan menyanyikan “Timor, Hau Hadomi O’, Hadomi-Domi tebbes O’”, sekaligus menjelaskan makna liriknya.

Agar lebih mudah diikuti anak-anak, lagu tersebut diperkenalkan lengkap dengan gerakan. Siswa pun tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut bernyanyi dan bergerak bersama.

Foto : Peserta internasional HUMANIORA I-YES 2026 berbagi bahasa dan budaya bersama siswa SD Islam Baitul Makmur dalam sesi kelas internasional

Cara sederhana tersebut membuat pengenalan budaya menjadi lebih dekat dengan dunia anak-anak. Negara yang sebelumnya mungkin hanya mereka kenal melalui nama atau peta kini hadir melalui orang yang berasal langsung dari sana.

Pengalaman berbeda berlangsung di kelas 4A. Peserta internasional asal Filipina memperkenalkan beberapa unsur budaya negaranya, mulai dari bahasa Tagalog, pakaian tradisional Barong, hingga Manila sebagai ibu kota Filipina.

Di kelas yang sama, peserta asal Nigeria turut berbagi bahasa dari negaranya. Siswa dapat mendengar langsung bagaimana kata atau ungkapan dari lingkungan budaya lain digunakan oleh penuturnya.

Ragam aktivitas juga berlangsung di kelas 2F. Peserta dari Madagaskar, Komoro, dan Indonesia memilih pendekatan yang lebih visual dengan mengajak siswa membuat karya seni melalui aktivitas mengecap tangan menggunakan cat di atas kertas.

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berkreasi bersama. Seni digunakan sebagai medium yang memungkinkan peserta dan siswa berinteraksi tanpa terlalu bergantung pada perbedaan kemampuan bahasa.

Sementara itu, kelas 4B menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dari Mali, Pakistan, dan Indonesia dengan para siswa. Mereka berbagi pengetahuan mengenai kebudayaan negara masing-masing, termasuk memperkenalkan Bamako sebagai ibu kota Mali.

Di kelas 4C, wawasan siswa diperluas melalui pengenalan sejumlah provinsi di Pakistan serta keragaman bahasa di Chad. Materi tersebut memberi gambaran sederhana bahwa sebuah negara tidak selalu memiliki satu identitas bahasa atau budaya yang seragam.

Interaksi lintas budaya berlanjut di kelas 4D, ketika peserta asal Gambia berbagi pengetahuan dengan mengajarkan bahasa Arab kepada siswa. Antusiasme terlihat ketika anak-anak mencoba mengikuti materi dan berkomunikasi bersama peserta I-YES.

Bagi siswa SD Islam Baitul Makmur, pengalaman tersebut memberikan bentuk pembelajaran yang berbeda. Pengetahuan tentang negara lain tidak hanya diperoleh dari buku, gambar, atau video. Mereka dapat bertemu langsung dengan mahasiswa yang membawa bahasa dan pengalaman budaya dari negaranya.

Di sisi lain, peserta I-YES juga mendapat pengalaman untuk menjadi jembatan budaya. Mereka ditantang menyampaikan identitas dan kebudayaan negaranya dengan cara yang sederhana agar dapat dipahami anak-anak.

Pertemuan tersebut membuat proses pertukaran berlangsung dua arah. Pada Welcome Ceremony, peserta I-YES disambut melalui pakaian adat dan kesenian Indonesia. Ketika memasuki kelas, giliran mereka membawa sebagian dari negaranya untuk dibagikan kepada siswa.

Pola interaksi ini sejalan dengan tema I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Dialog antarbudaya tidak hanya berlangsung dalam forum mahasiswa atau diskusi akademik, tetapi dibawa lebih dekat ke lingkungan pendidikan dasar.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman internasional tidak selalu membutuhkan perjalanan ke luar negeri. Melalui perjumpaan langsung, siswa dapat memperoleh pengalaman awal mengenai keberagaman bahasa, budaya, dan masyarakat dunia dari ruang kelas mereka sendiri.

Bagi Fakultas Humaniora, model kegiatan semacam ini memperluas makna internasionalisasi. I-YES tidak hanya menjadi ruang interaksi antarmahasiswa dari berbagai negara, tetapi juga membawa manfaat dari perjumpaan tersebut kepada komunitas pendidikan di luar kampus.

Dari lagu Timor Leste, bahasa Tagalog, budaya Mali dan Pakistan, keragaman bahasa Chad, hingga aktivitas seni bersama, ruang kelas SD Islam Baitul Makmur menjadi tempat berbagai identitas bertemu dalam suasana yang hangat.

Di tengah keceriaan anak-anak, pesan hari kedua I-YES 2026 terasa sederhana namun kuat: mengenal dunia dapat dimulai dari keberanian untuk bertemu, berbagi, dan belajar dari perbedaan.[tba-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait