HUMANIORA – (29/9/2026) Setelah berbagi bahasa, budaya, dan pengalaman di ruang kelas, peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 menutup kunjungan mereka di SD Islam Baitul Makmur, Sawojajar, Malang, dengan cara yang lebih cair: bermain dan tertawa bersama. Fun games interaktif menjadi penutup rangkaian kegiatan hari kedua, Selasa (29/9/2026), sekaligus mempererat kedekatan yang telah tumbuh antara peserta I-YES dan siswa sepanjang hari.
Baca juga:
Sejak pagi, peserta I-YES telah mengikuti sejumlah agenda bersama keluarga besar SD Islam Baitul Makmur. Mereka disambut melalui Welcome Ceremony yang menghadirkan ragam kesenian dan budaya Indonesia, kemudian masuk ke ruang-ruang kelas untuk memperkenalkan bahasa dan budaya dari berbagai negara kepada siswa.

Setelah interaksi yang banyak diisi dengan aktivitas edukatif tersebut, suasana bergeser menjadi lebih santai melalui sesi fun games. Peserta I-YES dan siswa dibagi menjadi lima kelompok dan harus bekerja sama menyelesaikan sejumlah tantangan.
Tidak lagi ada sekat antara mahasiswa internasional, mahasiswa Indonesia, dan siswa sekolah dasar. Mereka berada dalam satu kelompok, menyusun strategi, memberi semangat, dan berusaha menyelesaikan permainan bersama.
Salah satu permainan mengharuskan setiap kelompok mengumpulkan gelas plastik menggunakan karet dan tali. Tantangan sederhana tersebut membutuhkan koordinasi antarpeserta. Mereka harus mengatur gerakan bersama agar gelas dapat dipindahkan tanpa terjatuh.

Permainan berikutnya tidak kalah mengundang gelak tawa. Peserta ditantang memasukkan sedotan ke dalam botol dengan wajah tertutup corong, sementara hanya tersedia sedikit celah untuk melihat.
Keterbatasan pandangan membuat tantangan yang tampak mudah berubah menjadi permainan yang membutuhkan konsentrasi. Sorak dukungan dari anggota kelompok membuat suasana semakin ramai setiap kali peserta berusaha mengarahkan sedotan menuju mulut botol.
Kompetisi berlangsung sportif. Menang dan kalah menjadi bagian kecil dari permainan, sementara interaksi yang muncul justru menjadi bagian paling menarik. Setelah melalui berbagai tantangan, kelompok 5 akhirnya mengumpulkan hasil terbaik dan keluar sebagai pemenang.

Di balik keseruannya, permainan tersebut menjadi medium sederhana untuk membangun komunikasi. Peserta dengan usia, bahasa, dan latar budaya berbeda harus menemukan cara agar dapat bekerja sebagai satu tim.
Pengalaman ini melengkapi pertukaran budaya yang sebelumnya berlangsung di ruang kelas. Jika sebelumnya interaksi dibangun melalui lagu, bahasa, cerita tentang negara asal, dan aktivitas seni, kali ini kedekatan tumbuh melalui kerja sama dan permainan.
Rangkaian hari kedua kemudian sampai pada sesi terakhir. Setelah seluruh kegiatan selesai, peserta I-YES bersiap meninggalkan SD Islam Baitul Makmur.
Suasana perpisahan memperlihatkan perubahan hubungan yang terbentuk sepanjang kegiatan. Peserta yang pada pagi hari datang sebagai tamu kini dilepas dengan sorak, senyum, dan lambaian tangan siswa.
Momen tersebut menjadi penutup sederhana dari serangkaian interaksi yang berlangsung sejak pagi. Tidak membutuhkan seremoni panjang, antusiasme siswa ketika melepas peserta cukup menggambarkan kedekatan yang tumbuh dari pengalaman bersama selama satu hari.
Bagi peserta I-YES, kunjungan ke SD Islam Baitul Makmur juga memberikan pengalaman yang berbeda dari aktivitas internasional yang berlangsung di ruang seminar atau kampus. Mereka bertemu langsung dengan komunitas sekolah, berbagi tentang negara masing-masing, belajar mengenal budaya Indonesia, dan berinteraksi dengan anak-anak melalui kegiatan sehari-hari.
Sementara bagi siswa, kehadiran peserta dari berbagai negara membawa dunia internasional lebih dekat ke lingkungan sekolah mereka. Negara-negara yang sebelumnya dikenal melalui buku, peta, atau media hadir melalui orang-orang yang dapat mereka ajak berbicara, bernyanyi, berkarya, dan bermain bersama.
Rangkaian kegiatan di SD Islam Baitul Makmur memperlihatkan bagaimana semangat “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future” dapat diterjemahkan melalui interaksi yang sederhana.
Dialog lintas budaya tidak selalu harus berlangsung dalam diskusi formal. Ia juga dapat tumbuh ketika seseorang mencoba mempelajari bahasa baru, mendengarkan cerita dari negara lain, membuat karya bersama, atau bekerja sama menyelesaikan sebuah permainan.
Bagi Fakultas Humaniora, pola kegiatan tersebut sekaligus memperluas dampak I-YES 2026. Program internasional tidak hanya menghadirkan perjumpaan bagi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi, tetapi membawa pengalaman lintas budaya lebih dekat kepada komunitas pendidikan.
Mulai dari penyambutan budaya, kelas internasional, aktivitas kreatif hingga fun games, satu hari di SD Islam Baitul Makmur akhirnya membentuk rangkaian pengalaman yang saling terhubung.
Ketika peserta I-YES meninggalkan sekolah diiringi lambaian tangan para siswa, hari kedua program ditutup bukan hanya dengan selesainya sebuah agenda. Ada pengalaman baru yang dibawa pulang oleh kedua belah pihak—tentang perjumpaan, kerja sama, dan persahabatan yang dapat tumbuh di tengah perbedaan bahasa dan budaya. [tba-sof/Infopub]





