HUMANIORA – (30/9/2026) International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan pengalaman lintas budaya bagi para peserta internasional. Pada Selasa (29/9/2026), peserta diajak mengenal lebih dekat seni musik tradisional Indonesia melalui kelas budaya gamelan yang berlangsung di Ruang Musik Fakultas Humaniora.
Baca juga:
- Fun Games dan Perpisahan Hangat Tutup Kunjungan I-YES 2026 di SD Islam Baitul Makmur
- Kelas Internasional I-YES 2026, Peserta Kenalkan Bahasa dan Budaya kepada Siswa SD Islam Baitul Makmur
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya I-YES 2026 mempertemukan pembelajaran akademik dengan pengalaman budaya secara langsung. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai keberagaman budaya Indonesia, tetapi juga berkesempatan mencoba dan memainkan langsung salah satu warisan seni musik Nusantara.
Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan bimbingan langsung dari Bagus Wiknyo dari Sanggar Taruna Krida Kasih. Ia memperkenalkan sejumlah instrumen gamelan, di antaranya gong, kenong, kendang, bonang, serta berbagai instrumen pendukung lainnya.

Pengenalan tidak berhenti pada bentuk dan nama instrumen. Para peserta juga diajak memahami dasar-dasar permainan gamelan, mulai dari pengenalan nada hingga sistem hitungan dalam tabuhan. Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk memahami pola permainan sebelum mencoba memainkan instrumen secara langsung.
Dengan pendampingan yang diberikan secara bertahap, peserta kemudian berlatih memainkan dua tembang tradisional, yakni “Suwe Ora Jamu” dan “Gugur Gunung”. Proses latihan berlangsung dalam suasana yang akrab dan interaktif. Peserta terlihat antusias mengikuti arahan sekaligus menyesuaikan permainan masing-masing instrumen agar menghasilkan irama yang selaras.
Pengalaman memainkan gamelan secara langsung memberikan dimensi pembelajaran yang berbeda bagi peserta internasional. Mereka tidak hanya mengenal gamelan sebagai bagian dari budaya Indonesia melalui penjelasan, tetapi juga merasakan secara langsung proses membangun harmoni melalui kerja bersama.

Suasana kebersamaan semakin terasa ketika tabuhan berbagai instrumen mulai berpadu. Gong, kenong, kendang, bonang, dan instrumen lainnya menghasilkan alunan khas Nusantara yang dimainkan bersama oleh peserta dengan latar belakang negara dan budaya yang beragam.
Kelas gamelan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium komunikasi lintas budaya. Ketika peserta memainkan instrumen secara bersama-sama, perbedaan bahasa dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun keselarasan. Setiap peserta memiliki peran dalam membentuk satu komposisi musik yang utuh.
Pengalaman tersebut selaras dengan semangat I-YES 2026 yang mengusung tema “Voices Across Cultures: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Melalui kelas budaya, peserta diajak memahami bahwa dialog lintas budaya dapat berlangsung tidak hanya melalui percakapan, tetapi juga melalui seni, pengalaman, dan kolaborasi.
Bagi Fakultas Humaniora, pengenalan gamelan menjadi bagian dari pembelajaran yang memperluas perspektif peserta internasional terhadap kekayaan budaya Indonesia. Setelah berinteraksi melalui forum akademik dan berbagai aktivitas lintas budaya, peserta kembali memperoleh kesempatan untuk mengenal Indonesia melalui ekspresi seni tradisional.
Kelas budaya gamelan pun menjadi salah satu pengalaman yang melengkapi perjalanan I-YES 2026. Dari mengenal instrumen hingga memainkan tembang tradisional bersama, para peserta tidak hanya menyaksikan budaya Indonesia, tetapi turut menjadi bagian dari pengalaman tersebut. [unr/Infopub]





