HUMANIORA – (15/10/2026) Bertahun-tahun belajar bahasa Arab, menghafal ratusan kosakata, bahkan memahami rumus nahwu dan sharaf, ternyata belum tentu membuat siswa percaya diri berbicara dalam bahasa Arab. Tidak sedikit pembelajar yang mampu menjawab soal tata bahasa dengan baik, tetapi justru kesulitan ketika harus menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan sederhana. Persoalan inilah yang menjadi titik berangkat Dr. Muhammad Mubasysir Munir, M.Pd., dan Dr. Ahmad Kholil,.M.Fil.I dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam materi Workshop Bahasa Asing (Arab–Inggris) di MAN 1 Banyuwangi, Selasa (13/10/2026).
Baca juga:
Kegiatan yang menjadi bagian dari program Khidmah Ijtima’iyyah tersebut menghadirkan perspektif baru tentang pembelajaran bahasa Arab melalui materi bertajuk Strategi Pengajaran Bahasa Arab yang Komunikatif dan Kontekstual. Melalui materi ini, Dr. Mubasysir dan Dr. Ahmad Kholil mengajak para pendidik meninjau kembali orientasi pembelajaran bahasa Arab yang selama ini kerap menempatkan penguasaan kaidah dan hafalan sebagai ukuran utama keberhasilan belajar.

Persoalan tersebut digambarkan sebagai paradoks pedagogis. Di satu sisi, peserta didik dapat menguasai aspek gramatikal dan menghafal banyak kosakata. Namun, di sisi lain, mereka masih menghadapi hambatan ketika diminta menyusun ungkapan sesuai situasi nyata. Dialog yang dihafalkan pun belum tentu disertai pemahaman terhadap tujuan komunikasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah peserta didik benar-benar mampu menggunakan bahasa Arab setelah bertahun-tahun mengikuti pembelajaran?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mengesampingkan pentingnya tata bahasa, melainkan untuk mengingatkan bahwa penguasaan bahasa seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang bahasa. Siswa juga perlu memperoleh kesempatan menggunakan bahasa sebagai alat menyampaikan gagasan, membangun interaksi, dan memenuhi kebutuhan komunikasi sehari-hari.

Dalam materinya, Dr. Mubasysir menawarkan perubahan orientasi pembelajaran dari pola yang berpusat pada materi menuju pembelajaran yang berpusat pada komunikasi.
Pada pola konvensional yang digambarkan dalam presentasi, guru lebih banyak menjelaskan teori, sementara siswa mendengarkan, mencatat, dan menghafal. Keberhasilan pembelajaran kemudian cenderung diukur melalui kemampuan menjawab soal tertulis.
Sebaliknya, pembelajaran komunikatif menempatkan guru sebagai fasilitator yang menyediakan konteks dan kesempatan berinteraksi. Siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi didorong untuk memproduksi bahasa, bertanya, merespons, dan menyelesaikan tugas komunikasi.
Perubahan ini membawa konsekuensi penting. Materi tata bahasa dan kosakata tetap diperlukan, tetapi keduanya ditempatkan sebagai sarana untuk membangun kompetensi komunikasi, bukan sebagai tujuan akhir yang berdiri sendiri.
Untuk menjelaskan pendekatan tersebut, materi workshop memperkenalkan Communicative Language Teaching (CLT) dan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Pendekatan komunikatif menekankan kemampuan menggunakan bahasa sesuai tujuan, lawan bicara, dan situasi. Sementara itu, pembelajaran kontekstual menghubungkan materi dengan pengalaman, lingkungan, dan kebutuhan nyata peserta didik.
Keduanya saling melengkapi. Pembelajaran komunikatif membantu siswa memahami untuk apa bahasa digunakan, sedangkan pembelajaran kontekstual menghadirkan situasi yang membuat penggunaan bahasa terasa relevan dengan kehidupan mereka.
Salah satu strategi menarik yang ditawarkan adalah mengubah cara mengenalkan kosakata. Jika selama ini siswa terbiasa menerima daftar kata beserta terjemahannya, materi workshop menawarkan pembelajaran kosakata melalui lingkungan yang mereka kenal.
Sebagai contoh, kosakata madrasah (sekolah), maktabah (perpustakaan), dan maqshaf (kantin) tidak hanya dituliskan di papan tulis untuk dihafalkan. Guru dapat mengaitkannya dengan peta lingkungan sekolah, gambar ruangan, atau aktivitas menemukan lokasi.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui arti kata, tetapi juga belajar menggunakannya dalam kalimat yang memiliki fungsi komunikasi.
Ketika mempelajari kata maktabah, misalnya, siswa dapat diajak bertanya dalam bahasa Arab tentang lokasi perpustakaan, kemudian menjawab dengan menyebutkan letaknya di lingkungan sekolah.
Pembelajaran semacam ini menjadikan kosakata lebih dekat dengan pengalaman siswa. Kata-kata yang sebelumnya hanya menjadi daftar hafalan memperoleh makna karena digunakan untuk menjelaskan objek, tempat, dan situasi yang benar-benar mereka pahami.
Strategi serupa juga diterapkan dalam pengajaran tata bahasa. Kaidah nahwu dan sharaf tidak dihilangkan, tetapi diajarkan melalui fungsi komunikatifnya.
Materi memberikan contoh penggunaan jumlah ismiyah untuk memperkenalkan diri atau menjelaskan identitas seseorang. Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal pola mubtada’ dan khabar, tetapi langsung menggunakannya untuk menyampaikan informasi.
Prinsip yang ditekankan adalah memberikan dasar kaidah secukupnya, kemudian menyediakan kesempatan seluas mungkin bagi siswa untuk menggunakan struktur tersebut secara bermakna.
Pembelajaran komunikatif juga memerlukan keterpaduan empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah).
Dalam materi workshop, keempat keterampilan tersebut tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang sepenuhnya terpisah, tetapi dapat dihubungkan melalui satu tema pembelajaran.
Tema aktivitas sehari-hari, misalnya, dapat dimulai dengan kegiatan menyimak contoh percakapan tentang jadwal harian. Setelah itu, siswa membaca teks atau infografis pendukung, kemudian melakukan wawancara dengan teman mengenai kegiatan mereka.
Hasil wawancara selanjutnya dapat dikembangkan menjadi ringkasan tertulis. Dengan cara ini, satu konteks pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara berkesinambungan.
Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kemampuan berbicara tidak tumbuh secara terpisah dari keterampilan lainnya. Siswa memerlukan masukan bahasa yang dapat dipahami, kesempatan berlatih, dan aktivitas yang mendorong mereka menghasilkan tuturan sendiri.
Agar pembelajaran lebih hidup, materi Dr. Mubasysir menawarkan sejumlah teknik interaktif, antara lain Think-Pair-Share, Information Gap, Role-Playing, dan pemanfaatan media digital.
Melalui Think-Pair-Share, siswa memperoleh kesempatan menyusun respons secara mandiri, mendiskusikannya dengan pasangan, lalu menyampaikan hasilnya kepada kelompok yang lebih luas.
Sementara itu, teknik Information Gap menghadirkan situasi ketika dua siswa memiliki informasi berbeda dan perlu saling bertanya untuk melengkapi informasi yang belum diketahui.
Teknik ini memberikan alasan nyata bagi siswa untuk berkomunikasi. Mereka tidak sekadar mengulangi dialog yang telah tersedia, tetapi menggunakan bahasa untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Contoh lain yang ditawarkan adalah simulasi transaksi di kantin sekolah melalui aktivitas Fi al-Maqshaf al-Madrasi. Dalam rancangan pembelajaran selama 30 menit, siswa diajak mengenali menu, menyimak contoh percakapan penjual dan pembeli, berlatih berpasangan, kemudian melakukan simulasi transaksi.
Pada tahap simulasi, siswa menggunakan uang mainan dan kartu menu untuk melakukan percakapan tanpa bergantung sepenuhnya pada naskah. Guru kemudian memberikan umpan balik terhadap kelancaran dan ketepatan penggunaan bahasa.
Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana situasi sederhana di sekitar sekolah dapat diubah menjadi pengalaman belajar yang aktif dan bermakna.
Siswa tidak hanya diminta mengingat kosakata makanan atau angka, tetapi menggunakannya untuk bertanya harga, memilih barang, menyampaikan permintaan, dan merespons lawan bicara.
Perubahan pendekatan pembelajaran juga perlu diikuti dengan perubahan cara menilai kemampuan siswa.
Materi workshop memperkenalkan penilaian autentik yang berorientasi pada performa komunikasi. Jika tujuan pembelajaran adalah kemampuan berbicara, maka penilaian tidak cukup hanya dilakukan melalui soal pilihan ganda atau tes tertulis.
Penilaian perlu memperhatikan kemampuan siswa menyelesaikan tugas komunikasi, keterpahaman pengucapan, ketepatan bahasa, kelancaran berbicara, serta kemampuan merespons lawan bicara.
Kelima aspek tersebut dapat diamati melalui rubrik penilaian sehingga guru memiliki dasar yang lebih jelas dalam memberikan umpan balik.
Dengan pendekatan ini, siswa yang belum sepenuhnya menguasai struktur gramatikal tetap dapat memperoleh apresiasi atas keberhasilannya menyampaikan maksud dan membangun komunikasi. Kesalahan bahasa menjadi bagian dari proses belajar yang perlu diperbaiki, bukan semata-mata alasan untuk menghentikan keberanian berbicara.
Materi Dr. Mubasysir juga tidak mengabaikan tantangan penerapan pembelajaran komunikatif di sekolah.
Keterbatasan waktu, perbedaan motivasi siswa, kurangnya fasilitas digital, serta kebiasaan pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi.
Sebagai alternatif, materi menawarkan pembentukan bi’ah Arabiyah atau lingkungan berbahasa Arab yang terintegrasi dengan aktivitas keseharian siswa. Penggunaan bahasa Arab dapat diperluas melalui interaksi sederhana di luar jam pelajaran formal.
Selain itu, guru dapat mengembangkan bahan ajar berbasis lingkungan sekitar, termasuk ketika fasilitas teknologi belum tersedia secara memadai. Kegiatan simulasi, penggunaan benda nyata, dan interaksi antarsiswa tetap memungkinkan pembelajaran komunikatif berlangsung tanpa selalu bergantung pada perangkat digital.
Dukungan kelembagaan juga diperlukan agar perubahan pendekatan tidak berhenti sebagai inisiatif individual. Evaluasi pembelajaran, pengembangan bahan ajar, dan pelatihan pedagogis berkelanjutan menjadi bagian penting dalam membangun praktik pembelajaran yang lebih adaptif.
Keterlibatan Dr. Muhammad Mubasysir Munir dalam Workshop Bahasa Asing di MAN 1 Banyuwangi menjadi bagian dari kontribusi akademik Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui program Khidmah Ijtima’iyyah.
Melalui kegiatan ini, gagasan dan pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab di lingkungan perguruan tinggi dihubungkan dengan kebutuhan praktis pembelajaran di madrasah.
Materi yang disajikan menawarkan perspektif bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau perubahan kurikulum secara besar-besaran. Perubahan dapat dimulai dari cara guru merancang aktivitas, memberikan kesempatan berbicara, menghubungkan materi dengan pengalaman siswa, dan menilai keberhasilan komunikasi.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab yang lebih aktif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran bahasa Arab bukan hanya terlihat dari banyaknya kosakata yang dihafal atau ketepatan siswa menjawab soal gramatikal. Keberhasilan juga tercermin dari tumbuhnya keberanian siswa untuk bertanya, menyampaikan gagasan, dan menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang kelas yang semula didominasi penjelasan guru, pembelajaran bahasa Arab diharapkan berkembang menjadi ruang interaksi yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk benar-benar menggunakan bahasa yang sedang dipelajarinya. [sof/Infopub]





