MIU Login

Prodi BSA Humaniora Perkuat Kajian Semantik Bahasa Arab dalam Forum Internasional

HUMANIORA – (15/10/2026) Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali memperkuat atmosfer akademik berwawasan internasional melalui kegiatan International Scholar Engagement (ISE) yang mengangkat topik Semantik Bahasa Arab. Menghadirkan pakar linguistik dari Mesir, Prof. Dr. Rajab Abdussalam Al-Hamshani, akademisi pada Akademi Bahasa Arab di Kairo, forum ini mengajak peserta menelusuri salah satu fenomena menarik dalam bahasa Arab: bagaimana satu huruf sederhana dapat mengubah makna sebuah kata, bahkan menghasilkan pengertian yang saling bertentangan.

Baca juga:

Melalui materi bertajuk Atsar Huruf al-Ma‘ani fi Bina’ al-Dalalah al-Mu‘jamiyyah (Pengaruh Huruf Makna dalam Pembentukan Makna Leksikal), narasumber menguraikan hubungan antara struktur gramatikal, penggunaan huruf, dan pembentukan makna dalam bahasa Arab. Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa memahami bahasa tidak cukup hanya dengan mengetahui arti kata dalam kamus, tetapi juga memerlukan ketelitian membaca hubungan antarkata serta konteks penggunaannya.

Foto : Prof. Dr. Rajab Abdussalam Al-Hamshani, akademisi dari Akademi Bahasa Arab di Kairo, Mesir, tampil sebagai narasumber dalam forum internasional Prodi BSA Fakultas Humaniora. Melalui kajian semantik bahasa Arab, ia mengulas bagaimana penggunaan huruf tertentu dapat memengaruhi pembentukan dan perubahan makna leksikal dalam struktur bahasa Arab.

Kegiatan ISE ini menjadi bagian dari upaya Prodi BSA Humaniora menghadirkan ruang dialog akademik yang menghubungkan mahasiswa dan sivitas akademika dengan perkembangan kajian keilmuan bahasa Arab di tingkat internasional. Kehadiran akademisi dari Mesir memberikan perspektif tentang kekayaan tradisi linguistik Arab, terutama dalam bidang semantik atau ilmu al-dalalah, yang memiliki peran penting dalam kajian kebahasaan, penerjemahan, dan analisis teks.

Salah satu persoalan menarik yang menjadi perhatian dalam materi Prof. Rajab adalah bagaimana perubahan huruf dapat menghasilkan perbedaan makna yang sangat signifikan. Dalam bahasa Arab, sebuah kata kerja tidak selalu memiliki makna yang tetap ketika digunakan bersama huruf yang berbeda.

Foto : Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Humaniora, Dr. Halimi, M.Pd., mengikuti forum akademik internasional yang diselenggarakan Prodi BSA secara daring. Kehadiran pimpinan fakultas mencerminkan dukungan terhadap pengembangan kajian kebahasaan Arab serta penguatan atmosfer akademik berwawasan internasional.

Fenomena tersebut terlihat pada penggunaan verba raghiba (رغب). Ketika diikuti huruf fi (في) sehingga membentuk ungkapan raghiba fi al-syai’ (رغب في الشيء), maknanya menunjukkan ketertarikan, keinginan, atau kecenderungan terhadap sesuatu.

Sebaliknya, ketika huruf yang menyertainya berubah menjadi ‘an (عن), sehingga terbentuk ungkapan raghiba ‘an al-syai’ (رغب عن الشيء), maknanya justru menunjukkan sikap berpaling atau tidak menghendaki sesuatu.

Foto : Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd., memberikan arahan dalam forum akademik internasional yang membahas peran huruf al-ma‘ani dalam pembentukan makna bahasa Arab.Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan linguistik dan pengembangan tradisi akademik mahasiswa BSA.

Padahal, kedua ungkapan tersebut menggunakan kata kerja yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada huruf yang mengikutinya.

Contoh ini memperlihatkan bahwa makna bahasa Arab tidak selalu dapat dipahami melalui akar kata secara terpisah. Hubungan antara verba dan huruf yang menyertainya menjadi unsur penting dalam menentukan maksud sebuah ungkapan.

Foto : Narasumber internasional memaparkan materi tentang Atsar Huruf al-Ma‘ani fi Bina’ al-Dalalah al-Mu‘jamiyyah (Pengaruh Huruf Makna dalam Pembentukan Makna Leksikal) dalam forum akademik internasional yang diselenggarakan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara daring

Fenomena serupa juga ditemukan pada verba ‘adala. Ungkapan ‘adala ‘an al-syai’ menunjukkan tindakan berpaling atau meninggalkan sesuatu, sedangkan ‘adala ila al-syai’ mengandung makna kecenderungan atau peralihan menuju sesuatu.

Perubahan tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh unsur gramatikal yang tampak sederhana terhadap keseluruhan makna kalimat.

Bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, persoalan ini memiliki relevansi penting. Penguasaan kosakata tidak cukup hanya dilakukan dengan menghafal arti kata, tetapi perlu disertai kemampuan memahami pola penggunaan kata dalam berbagai konstruksi bahasa.

Dalam pemaparannya, Prof. Rajab menjelaskan bahwa tradisi gramatika Arab membedakan kata menjadi tiga kategori utama, yakni isim (nomina), fi‘il (verba), dan harf (partikel). Ketiganya memiliki karakteristik dan fungsi berbeda dalam membentuk struktur bahasa.

Berbeda dengan isim dan fi‘il yang memiliki makna leksikal tertentu, huruf memperoleh fungsi maknanya melalui hubungan dengan kata atau konstruksi bahasa lainnya.

Dalam kajian linguistik Arab, huruf juga dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu huruf al-mabani dan huruf al-ma‘ani. Huruf al-mabani merupakan unsur yang membentuk struktur kata, sedangkan huruf al-ma‘ani berperan membangun hubungan makna dalam sebuah ungkapan.

Kelompok kedua inilah yang menjadi fokus pembahasan karena memiliki pengaruh penting terhadap pembentukan dan perubahan makna leksikal.

Huruf seperti min (من), ila (إلى), ‘an (عن), ‘ala (على), dan fi (في) memiliki fungsi semantis yang berbeda bergantung pada konteks penggunaannya.

Huruf min, misalnya, dapat menunjukkan titik awal perjalanan, sebagian dari sesuatu, atau bahan asal suatu benda. Sementara itu, huruf ila umumnya menunjukkan arah atau batas tujuan.

Perbedaan fungsi tersebut memperlihatkan bahwa huruf bukan sekadar pelengkap kalimat. Kehadirannya dapat menentukan hubungan makna, memperjelas maksud, bahkan mengubah pengertian suatu kata.

Lebih jauh, materi Prof. Rajab menguraikan lima pola utama pengaruh huruf jar terhadap pembentukan makna leksikal.

Pola pertama berkaitan dengan penyempurnaan makna verba. Dalam konstruksi tertentu, sebuah kata kerja memerlukan huruf jar agar makna yang dimaksud dapat dipahami secara lengkap.

Pola kedua menunjukkan keragaman makna yang muncul akibat perubahan huruf jar. Sebuah verba dapat menghadirkan beberapa pengertian berbeda ketika dipadukan dengan huruf yang berlainan.

Pola ketiga berupa pertentangan makna. Dalam situasi tertentu, perubahan huruf dapat menghasilkan pengertian yang berlawanan, sebagaimana terlihat pada penggunaan verba raghiba.

Pola keempat berkaitan dengan pengkhususan makna. Huruf jar dapat mengarahkan makna umum sebuah verba menuju pengertian yang lebih spesifik sesuai konteks penggunaannya.

Adapun pola kelima menunjukkan perluasan makna dan pembentukan pengertian baru. Kombinasi verba dengan huruf tertentu dapat menghasilkan makna idiomatis yang berbeda dari arti dasar katanya.

Kelima pola tersebut memberikan gambaran tentang kompleksitas hubungan antara struktur gramatikal dan semantik bahasa Arab. Makna tidak terbentuk hanya melalui unsur leksikal, tetapi juga melalui interaksi antarelemen bahasa yang digunakan dalam suatu konteks.

Selain menyoroti fungsi huruf, kajian ini juga memberikan perhatian pada pentingnya konteks penggunaan bahasa atau al-siyaq al-isti‘mali.

Dalam praktik komunikasi, sebuah kata tidak selalu memiliki makna tunggal. Maknanya dapat berkembang, menyempit, atau mengalami pergeseran ketika digunakan dalam konstruksi yang berbeda.

Sebagai contoh, verba qama (قام) secara dasar dapat berarti berdiri. Namun, ketika digunakan dalam ungkapan qama bi al-amr (قام بالأمر), maknanya berkembang menjadi melaksanakan atau menangani suatu urusan.

Sementara itu, ungkapan qama ‘ala al-amr (قام على الأمر) dapat mengandung makna mengawasi atau bertanggung jawab terhadap suatu urusan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kata dan huruf dapat menghasilkan pengertian yang tidak selalu dapat dipahami melalui penerjemahan secara harfiah.

Dalam perspektif semantik, fenomena ini memperlihatkan keterkaitan erat antara makna leksikal, struktur sintaksis, dan konteks penggunaan bahasa.

Pemahaman tersebut penting terutama dalam membaca teks akademik, karya sastra, maupun literatur klasik Arab yang memiliki kekayaan makna dan konstruksi kebahasaan.

Substansi kajian yang diangkat dalam forum ISE memiliki relevansi langsung dengan pengembangan kompetensi mahasiswa Prodi BSA, khususnya dalam bidang linguistik, semantik, leksikografi, dan penerjemahan bahasa Arab.

Dalam pembelajaran bahasa, mahasiswa sering berhadapan dengan kata yang memiliki beragam kemungkinan makna. Tanpa memahami hubungan antara kata kerja dan huruf yang menyertainya, penafsiran terhadap sebuah kalimat berpotensi menjadi kurang tepat.

Karena itu, pemahaman terhadap huruf al-ma‘ani dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan membaca teks secara lebih teliti, mengenali pergeseran makna, dan menentukan padanan terjemahan yang sesuai dengan konteks.

Bagi kajian sastra, perspektif tersebut juga membuka kemungkinan analisis yang lebih mendalam terhadap pilihan kata, konstruksi ungkapan, dan nuansa makna yang digunakan pengarang.

Sementara dalam bidang linguistik, pembahasan ini memberikan landasan konseptual untuk mengkaji hubungan antara struktur bahasa dan pembentukan makna melalui pendekatan semantik maupun analisis teks.

Dengan demikian, materi yang dihadirkan tidak hanya memperkaya pemahaman teoretis, tetapi juga memiliki relevansi praktis bagi pengembangan keterampilan akademik mahasiswa.

Penyelenggaraan International Scholar Engagement dengan menghadirkan akademisi dari Mesir menjadi langkah Prodi BSA Fakultas Humaniora dalam memperluas wawasan keilmuan melalui keterlibatan pakar internasional.

Forum ini mempertemukan tradisi kajian linguistik Arab dengan kebutuhan pengembangan kompetensi akademik di lingkungan perguruan tinggi. Perspektif yang dihadirkan memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk memahami persoalan kebahasaan secara lebih mendalam melalui kerangka pemikiran yang berkembang dalam tradisi keilmuan Arab.

Bagi Prodi BSA, penguatan kajian semantik memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan karakter keilmuan program studi yang mengintegrasikan kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Arab.

Melalui forum akademik internasional seperti ISE, pengembangan keilmuan tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mengembangkan pertanyaan penelitian, membaca fenomena kebahasaan secara kritis, dan menghubungkan kajian klasik dengan kebutuhan analisis bahasa kontemporer.

Pada akhirnya, pembahasan mengenai huruf al-ma‘ani menghadirkan pelajaran penting bahwa kekayaan bahasa Arab tidak hanya terletak pada keluasan kosakata atau kompleksitas kaidah gramatikalnya, tetapi juga pada kemampuan unsur-unsur kecil dalam membangun makna yang beragam.

Satu huruf dapat mengubah arah pemahaman sebuah ungkapan. Satu perubahan konstruksi dapat melahirkan pengertian baru. Melalui ketelitian membaca hubungan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahasa Arab secara lebih mendalam, kritis, dan kontekstual.

Semangat inilah yang menjadi relevansi penting penyelenggaraan ISE oleh Prodi BSA Humaniora: menghadirkan wawasan keilmuan internasional untuk memperkuat tradisi akademik, memperluas perspektif linguistik, dan membuka ruang pengembangan kajian bahasa Arab yang semakin bermakna. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait