HUMANIORA – (30/6/2026) Setiap film selalu berawal dari sebuah cerita. Namun, mengubah cerita menjadi karya audio visual yang mampu menyampaikan pesan, membangun emosi, dan meninggalkan makna membutuhkan lebih dari sekadar kamera. Dibutuhkan kemampuan membaca realitas, menyusun narasi, hingga menerjemahkan gagasan ke dalam bahasa visual. Perspektif inilah yang menjadi benang merah kelas kompetensi bidang sinema dalam rangkaian Stadium Generale dan Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang diselenggarakan pada Kamis (25/6/2026) di Auditorium Kampus 3.
Baca juga:
- Humaniora Perkuat Kualitas PKL melalui Koordinasi Dosen Pembimbing Lapangan
- Bekali Mahasiswa Kompetensi Pariwisata, Humaniora Siapkan SDM Unggul dan Profesional
Kegiatan tersebut menghadirkan Novin Farid Styo Wibowo, S.Sos., M.Si., CEO Raya Media Creative sekaligus Direktur LSP Desain Digital Singhasari Malang, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Dr. Ahmad Diny Hidayatullah, S.Hum., S.H., M.Pd., dan diikuti mahasiswa peserta PKL bidang sinema yang akan melaksanakan praktik di berbagai mitra industri kreatif.
Mengawali pemaparannya, Novin mengajak mahasiswa melihat film dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, film bukan sekadar produk hiburan, melainkan media komunikasi audio visual yang mampu merekam, menyampaikan, sekaligus membangun cara pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan kehidupan. Sebuah film lahir dari proses kreatif yang memadukan berbagai disiplin seni, mulai dari sastra, teater, seni rupa, fotografi, musik, hingga arsitektur menjadi satu kesatuan yang utuh.
“Ketika membuat film, yang sesungguhnya kita bangun bukan hanya rangkaian gambar, tetapi pengalaman yang dapat dirasakan penonton. Karena itu, kemampuan bercerita menjadi fondasi utama dalam setiap proses kreatif,” ungkapnya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan konsep bahasa film (film language) sebagai cara menyampaikan pesan melalui visual, suara, ruang, dan waktu. Mereka diajak memahami bahwa setiap sudut pengambilan gambar, pencahayaan, komposisi, hingga tata suara bukan sekadar unsur teknis, melainkan bagian dari proses komunikasi yang membentuk makna sebuah karya.

Novin juga mengajak peserta menelusuri perjalanan sebuah film sejak masih berupa ide sederhana hingga menjadi karya yang siap dinikmati publik. Menurutnya, proses tersebut dimulai dari tahap pra-produksi melalui pengembangan gagasan, penulisan naskah, penyusunan konsep visual, dan perencanaan produksi. Selanjutnya, pada tahap produksi, seluruh gagasan diwujudkan melalui kerja kolaboratif berbagai profesi di balik layar. Sementara itu, tahap pascaproduksi menjadi ruang penyempurnaan cerita melalui proses penyuntingan gambar, tata suara, hingga pewarnaan visual sehingga menghasilkan karya yang utuh dan komunikatif.
Lebih dari sekadar mengenalkan tahapan produksi film, Novin menekankan bahwa industri kreatif saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kreatif, bekerja secara kolaboratif, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kemampuan tersebut, menurutnya, justru menjadi keunggulan mahasiswa Humaniora yang selama ini ditempa untuk memahami manusia, budaya, bahasa, dan dinamika sosial melalui berbagai perspektif keilmuan.
Diskusi yang dimoderatori Dr. Ahmad Diny Hidayatullah berlangsung dinamis. Mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog mengenai proses kreatif di balik produksi film, tantangan membangun portofolio, hingga peluang berkarier di industri kreatif yang terus berkembang seiring transformasi digital. Interaksi yang terbangun menunjukkan antusiasme mahasiswa untuk memahami dunia sinema tidak hanya sebagai ruang berkarya, tetapi juga sebagai media menyampaikan gagasan yang memberi dampak bagi masyarakat.

Bagi Fakultas Humaniora, penyelenggaraan kelas kompetensi ini merupakan bagian dari komitmen menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan selaras dengan perkembangan industri kreatif. Kehadiran praktisi profesional membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah bertransformasi menjadi praktik profesional di dunia kerja.
Sebagai rumah tumbuh mahasiswa, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu bahasa, sastra, dan budaya, tetapi juga mampu mengolah pengetahuan tersebut menjadi karya kreatif yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui kelas kompetensi bidang sinema, mahasiswa diajak menyadari bahwa kemampuan bercerita merupakan kekuatan utama ilmu humaniora yang dapat diwujudkan melalui medium audio visual untuk menghadirkan narasi yang menginspirasi, membangun kesadaran, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. [unr/Infopub]





