HUMANIORA – (29/6/2026) Di tengah industri pariwisata yang terus berkembang, peran tour guide tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai pemandu perjalanan. Tour guide adalah wajah pertama yang merepresentasikan destinasi, budaya, sekaligus kualitas layanan sebuah daerah wisata. Dari cara menyambut tamu, menjelaskan sejarah tempat, hingga menangani dinamika wisatawan selama perjalanan, profesi ini menuntut kombinasi keterampilan yang kompleks. Karena itu, kemampuan bahasa yang baik—terutama bahasa asing seperti Inggris dan Arab—menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah secara profesional di dunia pariwisata.
Baca juga:
- Arsitektur Teks dan EYD V Jadi Bekal Penting PKL, Humaniora Siapkan Mahasiswa Tulis Teks Profesional dan Berintegritas
- Dari Humaniora ke Kementerian: Alumni UIN Malang Kini Jadi Widyaswara Kementerian Perdagangan RI
Hal itu tersebut disampaikan oleh Direktur Bromo Holiday Malang, Muallif, dalam sesi Kompetensi Bidang Pariwisata pada kegiatan Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang digelar di Kampus 3, Kamis (25/6/2026). Dalam kesempatan itu, Muallif menekankan bahwa mahasiswa Humaniora yang akan terjun ke dunia pariwisata perlu memahami bahwa menjadi tour guide profesional bukan hanya soal menemani wisatawan berkunjung ke suatu tempat, tetapi juga tentang menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, informatif, nyaman, dan berkesan.
Muallif mengawali materinya dengan berbagi pengalaman saat dirinya menjadi tour guide, sebuah profesi yang menurutnya menuntut kesiapan lebih dari sekadar hafal rute perjalanan. Ia menjelaskan bahwa tour guide profesional memiliki tanggung jawab besar, mulai dari memberikan informasi akurat mengenai sejarah, budaya, dan lokasi wisata, menjaga keselamatan dan kenyamanan wisatawan, mengelola dinamika kelompok, hingga membantu wisatawan ketika menghadapi kendala di lapangan.
Menurutnya, di antara berbagai kompetensi yang harus dimiliki seorang tour guide, kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing menjadi salah satu yang paling utama. Hal ini karena wisatawan modern tidak hanya membutuhkan orang yang bisa menunjukkan arah atau lokasi, tetapi juga sosok yang mampu menjelaskan informasi dengan jelas, menjawab pertanyaan secara sopan, serta membangun percakapan lintas budaya secara nyaman dan profesional.
“Tour guide yang baik harus bisa berbicara dengan struktur yang jelas, menggunakan diksi yang tepat, dan mampu menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter wisatawan. Karena itu, bahasa menjadi modal utama, terutama dalam industri pariwisata global yang mempertemukan banyak latar budaya,” jelasnya.

Muallif menegaskan bahwa mahasiswa Humaniora memiliki potensi besar untuk menekuni bidang pariwisata karena latar keilmuan mereka dekat dengan bahasa, budaya, dan komunikasi. Namun, potensi itu perlu diperkuat dengan keterampilan praktis, terutama dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab, agar mahasiswa mampu berinteraksi dengan wisatawan internasional secara lebih percaya diri dan profesional.
Selain kemampuan bahasa, Muallif juga menekankan pentingnya penguasaan sejarah, budaya, dan geografi lokal. Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya ingin melihat tempat-tempat indah, tetapi juga ingin memahami cerita, konteks, dan keunikan budaya di balik destinasi yang mereka kunjungi. Di sinilah peran tour guide menjadi sangat penting, yakni sebagai penyampai narasi yang mampu menghubungkan wisatawan dengan pengalaman lokal yang lebih bermakna.
“Seorang tour guide harus mampu bercerita. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pengalaman. Ketika wisatawan memahami sejarah sebuah tempat, tradisi masyarakatnya, atau nilai budaya yang hidup di sana, maka perjalanan mereka akan jauh lebih berkesan,” terang Muallif.
Karena itu, kemampuan storytelling menjadi salah satu kompetensi penting yang harus diasah. Tour guide profesional dituntut untuk mampu menyusun narasi yang menarik, informatif, dan mudah dipahami, sehingga wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi juga merasakan keterhubungan emosional dengan destinasi yang mereka datangi.
Dalam pemaparannya, Muallif juga mengingatkan bahwa dunia pariwisata sangat dinamis dan penuh situasi tak terduga. Tour guide harus memiliki kemampuan manajemen kelompok dan problem solving yang baik, mulai dari menghadapi perubahan cuaca, keterlambatan jadwal, wisatawan yang memiliki kebutuhan khusus, hingga konflik ringan di dalam rombongan. Kemampuan mengelola situasi seperti ini, menurutnya, menjadi salah satu indikator profesionalisme seorang tour guide.
Tak kalah penting, Muallif menyoroti perlunya etika lintas budaya (intercultural competence) dalam dunia pariwisata modern. Wisatawan datang dari latar belakang budaya, kebiasaan, dan cara pandang yang berbeda-beda. Karena itu, tour guide harus memiliki sensitivitas budaya, menghindari stereotipe, memahami norma komunikasi dari negara asal wisatawan, serta mampu menciptakan suasana yang inklusif dan nyaman bagi semua peserta tur.

Ia menambahkan, profesionalisme seorang tour guide juga tercermin dari kepribadiannya. Sikap ramah, sabar, sopan, empatik, dan fleksibel menjadi kualitas penting yang tidak bisa dipisahkan dari profesi ini. Kepribadian yang hangat dan adaptif akan membangun kepercayaan wisatawan, sekaligus menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan.
Bagi mahasiswa peserta PKL, materi ini menjadi penguatan bahwa sektor pariwisata adalah ruang karier yang menuntut kompetensi multidimensi. Tidak cukup hanya menguasai teori, mahasiswa juga perlu melatih komunikasi, memperkaya wawasan budaya, meningkatkan kemampuan bahasa asing, serta membangun mental profesional dalam menghadapi wisatawan dari berbagai latar belakang.
Melalui sesi ini, Fakultas Humaniora kembali menunjukkan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan wawasan profesi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bidang pariwisata dipahami bukan sekadar peluang karier, tetapi juga ruang strategis bagi mahasiswa Humaniora untuk mengintegrasikan kemampuan bahasa, budaya, dan komunikasi dalam praktik profesional yang nyata.
Kehadiran Muallif sebagai praktisi industri pariwisata sekaligus Direktur Bromo Holiday Malang memberi perspektif langsung kepada mahasiswa tentang bagaimana dunia pariwisata bekerja dan kompetensi apa saja yang dibutuhkan untuk dapat bertahan serta berkembang di dalamnya. Melalui pembekalan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menjalani PKL, tetapi juga memiliki gambaran yang lebih jelas tentang masa depan profesi di sektor pariwisata.
Dengan menekankan pentingnya kemampuan bahasa, storytelling, penguasaan budaya, dan kepekaan terhadap kebutuhan wisatawan, materi ini menjadi pengingat bahwa tour guide adalah profesi yang membutuhkan kecakapan intelektual sekaligus keterampilan interpersonal. Di sinilah Humaniora hadir sebagai ruang pembentukan kompetensi—membantu mahasiswa tumbuh menjadi insan pariwisata yang komunikatif, profesional, dan mampu menghadirkan pengalaman bermakna bagi setiap wisatawan. [asf/Infopub]





