MIU Login

Dari Bahasa Gamer hingga AI, Makhiulil Kirom Buka Peluang Riset Linguistik Arab

HUMANIORA – (13/10/2026) Siapa sangka percakapan para gamer Arab di platform streaming, penggunaan emoji dalam media sosial, hingga bahasa yang dihasilkan kecerdasan buatan dapat menjadi bahan penelitian skripsi? Fenomena yang dekat dengan kehidupan digital tersebut justru menyimpan beragam persoalan kebahasaan yang menarik untuk diteliti. Peluang inilah yang diperkenalkan Makhiulil Kirom, M.Pd., kepada mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam kegiatan Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy 2026, Kamis (8/10/2026).

Baca juga:

Melalui materi bertajuk Tema-tema Riset dalam Bidang Linguistik, Makhiulil mengajak mahasiswa semester tujuh untuk melihat bahasa Arab dari perspektif yang lebih dekat dengan perkembangan masyarakat. Bahasa tidak hanya hadir dalam buku tata bahasa, teks klasik, atau percakapan formal, tetapi juga hidup dalam ruang digital yang terus melahirkan bentuk komunikasi baru.

Foto : Seorang mahasiswa BSA Fakultas Humaniora menyampaikan pandangan dan pertanyaan dalam sesi dialog interaktif bersama Makhiulil Kirom. Diskusi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi fenomena kebahasaan di era digital, mengembangkan kepekaan terhadap perubahan praktik komunikasi, serta menemukan inspirasi penelitian linguistik Arab yang inovatif, relevan, dan memiliki nilai kebaruan ilmiah.

Pembekalan yang berlangsung di Aula Lantai 3 Fakultas Humaniora tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali berbagai kemungkinan penelitian sebelum menentukan judul skripsi. Makhiulil tidak hanya memperkenalkan cabang-cabang linguistik, tetapi juga menunjukkan contoh persoalan yang dapat dikembangkan menjadi penelitian akademik.

Ia mengawali materi dengan pemahaman dasar bahwa linguistik merupakan bidang ilmu yang mengkaji bahasa sebagai sistem sekaligus praktik komunikasi. Cakupannya meliputi bunyi, kata, kalimat, makna, hingga penggunaan bahasa dalam berbagai situasi.

Dari pengertian tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada dua wilayah besar, yakni linguistik mikro dan linguistik makro. Linguistik mikro berkaitan dengan kajian internal bahasa, sedangkan linguistik makro membuka hubungan bahasa dengan disiplin ilmu dan konteks kehidupan yang lebih luas.

Pemetaan ini menjadi penting karena mahasiswa sering kali berhadapan dengan banyak pilihan teori, tetapi belum sepenuhnya memahami letak persoalan yang ingin diteliti. Melalui pengenalan wilayah kajian, mereka dapat mulai membedakan apakah penelitian yang direncanakan berfokus pada struktur bahasa, penggunaan bahasa dalam masyarakat, teks dan wacana, atau fenomena komunikasi kontemporer.

Foto : Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang aktif menyampaikan pertanyaan dalam sesi diskusi akademik. Forum bersama Makhiulil Kirom ini membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang penelitian linguistik Arab yang semakin luas, mulai dari fenomena bahasa dalam komunitas gamer hingga perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai objek kajian kebahasaan kontemporer.

Dalam penjelasannya, Makhiulil memperkenalkan kajian fonetik, fonologi, morfologi, dan sintaksis sebagai bagian dari penelitian struktur bahasa. Ia juga memetakan semantik, leksikologi, dan pragmatik sebagai wilayah yang berkaitan dengan makna serta penggunaan bahasa.

Namun, pembahasan menjadi semakin menarik ketika materi bergerak menuju persoalan bahasa dalam kehidupan sosial. Sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, ekolinguistik, hingga linguistik forensik diperkenalkan sebagai bidang yang memungkinkan mahasiswa membaca hubungan bahasa dengan identitas, masyarakat, lingkungan, dan berbagai persoalan manusia.

Salah satu contoh yang diangkat adalah register bahasa komunitas gamer Arab di platform streaming. Dalam kajian sosiolinguistik, register berkaitan dengan variasi penggunaan bahasa yang menyesuaikan konteks sosial, topik, tujuan komunikasi, serta hubungan antara penutur dan lawan tutur.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunitas digital dapat memiliki karakter bahasa tersendiri. Istilah yang digunakan, cara anggota komunitas berinteraksi, serta pilihan ungkapan dalam percakapan daring berpotensi menjadi data penelitian yang relevan dengan perkembangan bahasa Arab kontemporer.

Dari persoalan identitas dan komunitas, pembekalan berlanjut pada hubungan antara bahasa dan kekuasaan. Makhiulil memperkenalkan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) sebagai pendekatan untuk mengungkap relasi kuasa, dominasi, dan ideologi dalam penggunaan bahasa.

Ia mengingatkan bahwa pendekatan tersebut telah banyak digunakan dalam penelitian. Meski demikian, relevansinya tetap dapat dikembangkan melalui pemilihan objek yang aktual. Salah satu contoh dalam materi adalah representasi perempuan Arab dalam konteks Visi Arab Saudi 2030.

Pembahasan juga mencakup Critical Metaphor Analysis atau Analisis Metafora Kritis. Pendekatan ini dapat digunakan untuk membaca bagaimana pilihan metafora membentuk cara suatu peristiwa dipahami, termasuk dalam pemberitaan konflik di Timur Tengah.

Sebagai ilustrasi, Makhiulil menawarkan kemungkinan kajian mengenai konstruksi pemberitaan konflik Hamas dan Israel pada media Al Jazeera melalui analisis metafora kritis. Contoh tersebut menunjukkan bahwa penelitian bahasa dapat berkontribusi dalam memahami bagaimana media membangun representasi suatu peristiwa.

Perkembangan komunikasi digital menjadi perhatian berikutnya. Dalam materi linguistik multimodal, mahasiswa diperkenalkan pada gagasan bahwa makna tidak hanya dibangun melalui kata-kata. Gambar, warna, tata letak, emoji, suara, gestur, dan video juga dapat berperan dalam proses komunikasi.

Salah satu contoh penelitian yang ditawarkan adalah analisis multimodal terhadap foto berita konflik Gaza dalam portal berita BBC Arabic. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dapat mengkaji bagaimana unsur verbal dan visual bekerja bersama dalam membentuk pesan kepada pembaca.

Perspektif ini membuka peluang penelitian yang dekat dengan keseharian mahasiswa. Konten media sosial, video digital, pemberitaan daring, hingga interaksi berbasis emoji dapat menjadi objek penelitian ketika memiliki persoalan kebahasaan yang jelas dan didukung pendekatan ilmiah yang tepat.

Perhatian khusus juga diberikan pada linguistik digital dan kecerdasan buatan. Dalam materi presentasinya, Makhiulil menyoroti kemunculan berbagai istilah baru dalam bahasa Arab seiring berkembangnya teknologi AI generatif dan media sosial.

Perubahan tersebut dapat diteliti melalui kajian semantik dan leksikologi modern, terutama yang berkaitan dengan perubahan makna, neologisme atau pembentukan istilah baru, serta perkembangan kosakata teknologi.

Lebih jauh, kajian AI dan bahasa memungkinkan mahasiswa meneliti karakteristik teks yang dihasilkan mesin, kesalahan bahasa dalam keluaran AI, interaksi manusia dengan sistem kecerdasan buatan, large language models (LLM), hingga pemrosesan bahasa Arab secara komputasional atau Arabic Natural Language Processing.

Pembahasan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan perangkat baru untuk membantu pekerjaan manusia, tetapi juga memunculkan fenomena bahasa yang layak diteliti.

Makhiulil turut memperkenalkan linguistik korpus, yakni pendekatan penelitian yang menggunakan kumpulan data bahasa terstruktur untuk dianalisis secara sistematis dengan bantuan perangkat digital.

Mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah perangkat analisis korpus, seperti AntConc, Sketch Engine, dan LancsBox. Sebagai contoh, materi menampilkan kemungkinan penelitian kolokasi kata yang berkaitan dengan aktivitas berbagi dan platform dalam wacana media digital Arab kontemporer.

Penggunaan korpus memberikan peluang bagi mahasiswa untuk mengamati pola kebahasaan berdasarkan kumpulan data, bukan hanya melalui contoh yang dipilih secara terbatas. Dengan demikian, mahasiswa dapat mempertimbangkan pendekatan yang sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian yang ingin dicapai.

Di tengah banyaknya pilihan tema tersebut, Makhiulil menyampaikan satu pesan praktis yang menjadi penekanan penting dalam pembekalannya: judul skripsi harus realistis untuk dikerjakan.

 “Judul yang baik bukan hanya menarik secara akademik, tetapi juga realistis untuk diteliti dalam waktu yang tersedia.” Ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa topik yang terlihat menarik belum tentu mudah dilaksanakan. Mahasiswa perlu mempertimbangkan ketersediaan data, kemampuan mengakses objek penelitian, kesesuaian teori, serta waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian.

Prinsip tersebut dirangkum dalam ungkapan singkat “Feasible first”, yang dalam materi dijelaskan melalui dua langkah utama: mempersempit cakupan penelitian dan memastikan ketersediaan data.

Alih-alih memilih persoalan yang terlalu luas, mahasiswa diarahkan untuk menentukan fokus yang spesifik dan dapat dijangkau. Penelitian mengenai bahasa Arab di media sosial, misalnya, perlu dibatasi pada fenomena, komunitas, platform, atau jenis data tertentu agar dapat dianalisis secara mendalam.

Makhiulil juga memberikan panduan praktis dalam menyusun judul. Mahasiswa dapat memulainya dengan menentukan fenomena atau fokus penelitian, memilih objek data, kemudian menetapkan pendekatan yang sesuai.

Dalam materi pembekalan, pola tersebut diperlihatkan melalui contoh penelitian tentang konstruksi pemberitaan konflik pada media Al Jazeera menggunakan analisis metafora kritis. Contoh ini membantu mahasiswa memahami hubungan antara persoalan yang ingin dikaji, sumber data, dan perangkat analisis yang digunakan.

Pendekatan praktis tersebut menjadi salah satu nilai penting dari sesi wilayah kajian bahasa. Mahasiswa tidak hanya memperoleh daftar cabang linguistik yang dapat dipilih, tetapi juga gambaran tentang bagaimana mengubah fenomena kebahasaan menjadi rancangan penelitian yang lebih terukur.

Bagi Program Studi BSA Humaniora, pembekalan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan dasar keilmuan bahasa Arab dengan perubahan dunia komunikasi. Mahasiswa didorong untuk tetap memiliki pemahaman yang kuat terhadap teori linguistik sekaligus peka terhadap fenomena baru yang muncul dalam masyarakat.

Pada akhirnya, pesan dari sesi Makhiulil Kirom tidak berhenti pada ajakan mengeksplorasi tema penelitian yang sedang berkembang. Mahasiswa juga diingatkan bahwa penelitian yang baik membutuhkan keseimbangan antara rasa ingin tahu, ketepatan pendekatan, ketersediaan data, dan kemampuan menyelesaikannya.

Dari percakapan komunitas gamer, wacana media, hingga bahasa yang dihasilkan AI, peluang penelitian linguistik Arab terbuka luas. Tantangan bagi mahasiswa BSA kini adalah memilih satu persoalan yang benar-benar dipahami, merumuskannya secara spesifik, dan mengembangkannya menjadi karya ilmiah yang relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. [unr-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait