MIU Login

Mahasiswa Sastra Inggris Humaniora Bawa Kompetensi Bahasa ke Forum Kepemimpinan ASEAN

HUMANIORA – (8/10/2026) Kemampuan berbahasa menemukan maknanya ketika digunakan untuk membuka percakapan, memahami perbedaan, dan membangun gagasan bersama. Pengalaman itulah yang dirasakan Auliana Firdaus, mahasiswa semester lima Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saat mengikuti One Young World ASEAN Leadership Forum 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM),Yogyakarta.

Baca juga:

Auliana menjadi salah satu dari 150 peserta yang mengikuti forum secara langsung, setelah menerima surat penerimaan pada 20 September 2026. Sekitar 150 peserta lainnya dari berbagai negara bergabung secara virtual. Kesempatan tersebut bermula dari keberaniannya mendaftar tanpa memasang ekspektasi terlalu tinggi.

Foto : Peserta berfoto bersama dalam rangkaian The 4th International Conference on Community Engagement and Education for Sustainable Development (ICCEESD), One Young World ASEAN Leadership Forum, dan RCE Yogyakarta International Youth Conference

Forum yang berlangsung di Smart Green Learning Center UGM mempertemukannya dengan peserta dari beragam negara dan latar profesional. Hampir seluruh rangkaian menggunakan bahasa Inggris, mulai dari sambutan, sesi pleno dan diskusi kelompok hingga percakapan informal antarpeserta.

Bagi Auliana, situasi tersebut membuat kompetensi yang selama ini dikembangkan di Program Studi Sastra Inggris tidak lagi berhenti di ruang perkuliahan. Bahasa menjadi perangkat untuk masuk ke dalam percakapan global, membangun jejaring, sekaligus memahami orang lain yang membawa pengalaman budaya berbeda.

Pengalaman itu terasa ketika ia berbincang dengan delegasi asal Thailand. Percakapan yang awalnya sederhana berkembang menjadi pertukaran cerita tentang Indonesia, Thailand, pengalaman Auliana mengikuti program mengajar di Malaysia saat SMA, hingga culture shock yang dialami peserta selama berada di Indonesia. Kemampuan bahasa yang dimilikinya bahkan membawa percakapan ke arah yang tidak terduga. Ketika seorang peserta mengetahui Auliana juga dapat berbahasa Arab, keduanya kemudian melanjutkan perkenalan menggunakan bahasa tersebut.

Foto : Suasana kebersamaan peserta dalam One Young World ASEAN Leadership Forum 2026, yang mempertemukan generasi muda dalam ruang dialog mengenai kepemimpinan dan berbagai isu strategis.

Interaksi sederhana itu meninggalkan kesan penting bagi Auliana. Bahasa yang dipelajari secara akademik ternyata memiliki fungsi yang jauh lebih luas: memperpendek jarak antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Ruang belajar berikutnya hadir melalui sesi pleno bertajuk Turning Ideas into Action: Youth Collaborating for ASEAN’s Future. Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya mendengarkan gagasan dari akademisi, UNESCO, komunitas, dan sektor swasta, tetapi juga ditantang bekerja lintas negara untuk merespons persoalan yang dekat dengan masyarakat.

Auliana tergabung dalam Kelompok 5 bidang Education bersama 22 delegasi dari enam negara, yakni Indonesia, Timor Leste, Filipina, Vietnam, Pakistan, dan Malaysia. Bahkan sebelum bertemu di Yogyakarta, mereka telah berkoordinasi secara daring untuk menyusun proyek bersama.

Kolaborasi tersebut melahirkan ASEAN REACH (Regional Engagement for Academic & Career Pathways), gagasan yang berangkat dari persoalan kesenjangan keterampilan lulusan SMA dan SMK di wilayah yang belum memperoleh layanan pengembangan karier secara memadai.

Foto : Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Humaniora berfoto bersama para peserta dalam rangkaian forum internasional di Yogyakarta

Program tersebut diarahkan pada penguatan peran guru Bimbingan dan Konseling serta guru kelas XII melalui modul panduan karier dan lokakarya daring. Harapannya, pendampingan mengenai pilihan pendidikan dan karier dapat hadir secara lebih rutin di lingkungan sekolah. Dalam proyek tersebut, Auliana bergabung dalam tim evaluasi dan bertanggung jawab menyusun pre-test serta post-test untuk membantu mengukur dampak program. Ia juga belajar bahwa gagasan yang kompleks harus mampu dikomunikasikan secara efektif. Setiap koordinator kelompok hanya mendapat waktu sekitar dua menit untuk menjelaskan masalah, solusi, dan dampak proyek yang dikembangkan.

Pengalaman belajar justru tidak berhenti ketika sesi resmi selesai. Saat jeda, Auliana bertemu seorang peneliti UGM yang tengah mengembangkan pemanfaatan serat batang pisang abaka sebagai bahan karpet. Dari percakapan tersebut, ia memperoleh gambaran mengenai hubungan antara penelitian, kebutuhan industri, kapasitas produksi, dan potensi pengembangan produk.

Percakapan kemudian berkembang pada pendidikan pascasarjana dan berbagai peluang studi di luar negeri. Pertemuan-pertemuan semacam ini membuat forum internasional baginya tidak hanya menjadi tempat mendengarkan pembicara, tetapi juga ruang bertemunya orang-orang yang membawa pengalaman, persoalan, dan perspektif berbeda.

Auliana juga berinteraksi dengan tutor pendidikan, pendiri sekolah, penyusun kurikulum, pendiri perusahaan berbasis teknologi, mahasiswa, hingga profesional dari berbagai bidang. Dari sana, ia melihat bahwa perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dapat berkembang melalui jalur yang sangat beragam.

Pengalaman semakin lengkap ketika pada hari ketiga Auliana menjadi salah satu dari 80 peserta yang mengikuti kunjungan lapangan. Setelah menjelajahi lingkungan UGM, peserta mengunjungi Agradaya untuk mempelajari bagaimana rempah Indonesia diolah agar memiliki nilai tambah dan peluang memasuki pasar yang lebih luas.

Peserta diperkenalkan pada proses menjaga kebersihan bahan, mengurangi risiko kontaminasi, pengolahan menggunakan peralatan tertentu, hingga proses pemanasan di rumah kaca. Pengalaman tersebut memperlihatkan kepada Auliana bahwa kualitas produk lokal tidak hanya ditentukan bahan baku, tetapi juga proses pengolahan dan konsistensi menjaga mutu.

Bagi Fakultas Humaniora, pengalaman Auliana menunjukkan pentingnya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membawa kompetensi akademiknya ke lingkungan yang lebih luas. Kemampuan bahasa Inggris, komunikasi lintas budaya, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan memperoleh konteks nyata ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan peserta dari negara dan disiplin berbeda.

Keikutsertaan dalam forum tersebut juga memperlihatkan bahwa internasionalisasi tidak selalu harus dimulai dengan perjalanan panjang ke luar negeri. Forum internasional di dalam negeri dapat menjadi pintu bagi mahasiswa untuk membangun jejaring global, menguji kemampuan komunikasi, serta memperoleh keberanian untuk menjangkau kesempatan berikutnya.

Auliana pun pulang dari Yogyakarta dengan cara pandang yang berbeda terhadap peluang internasional. Kesempatan belajar melalui program dan beasiswa di luar negeri yang sebelumnya terasa jauh kini mulai ia lihat sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan. Ia berencana terus mencoba berbagai forum dan summit internasional sekaligus mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Dari sebuah pendaftaran yang semula dilakukan tanpa banyak ekspektasi, Auliana akhirnya menemukan ruang untuk menguji kemampuan, membangun jejaring, dan bekerja bersama orang-orang dari berbagai negara. Pengalaman tersebut membawa satu pelajaran sederhana: kompetensi yang dibangun di ruang kuliah akan memperoleh arti yang lebih luas ketika mahasiswa berani membawanya keluar, mempertemukannya dengan dunia, dan menggunakannya untuk berkontribusi. [sof-unr/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait