HUMANIORA – (9/10/2026) Memilih judul skripsi tidak cukup hanya dengan menemukan objek penelitian yang menarik. Mahasiswa juga perlu memastikan bahwa topik yang dipilih memiliki kebaruan, relevansi keilmuan, dan ruang pengembangan yang jelas. Pesan inilah yang menjadi perhatian Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd., saat memberikan pembekalan dalam kegiatan Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy 2026, Kamis (8/10/2026).
Baca juga:
Di hadapan mahasiswa semester tujuh yang mengikuti kegiatan di Aula Lantai 3 Fakultas Humaniora, Abdul Basid mengajak peserta melihat penyusunan skripsi sebagai proses pengembangan keilmuan, bukan sekadar tahapan administratif menjelang kelulusan. Melalui materi yang disampaikan, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai persoalan yang perlu diperhatikan ketika menentukan judul, memilih pendekatan teoretis, menelusuri referensi, hingga mempersiapkan tahapan ujian akademik.

Salah satu perhatian utama dalam pembekalan tersebut adalah kecenderungan penggunaan tema dan pendekatan penelitian yang berulang. Abdul Basid memaparkan sejumlah pendekatan yang tercantum dalam materi sebagai kategori judul yang tidak diterima, terutama ketika penelitian masih bertumpu pada penggunaan teori atau model analisis yang telah banyak digunakan.
Dalam materi tersebut, sejumlah pendekatan psikologi sastra, teori konflik, strukturalisme genetik, semiotika, pragmatik, stilistika, analisis wacana kritis, hingga kajian nahwu dan sharaf murni masuk dalam daftar pembatasan pengajuan judul. Penyampaian materi ini menjadi bagian dari pengarahan akademik agar mahasiswa lebih cermat memilih kerangka penelitian dan tidak sekadar mengulang pola kajian terdahulu.
Pembatasan tersebut sekaligus mendorong mahasiswa untuk mencari sudut pandang alternatif. Sebuah karya sastra, misalnya, dapat dikaji melalui persoalan yang berbeda ketika peneliti menggunakan perspektif yang lebih sesuai dengan perkembangan keilmuan. Demikian pula fenomena kebahasaan yang selama ini dikaji secara struktural dapat dikembangkan melalui pendekatan interdisipliner.

Untuk membantu mahasiswa memahami peta penelitian yang telah berkembang, materi pembekalan juga didukung oleh rekapitulasi kajian skripsi BSA periode 2022–2026. Dokumen tersebut memetakan berbagai tema penelitian dalam dua bidang utama, yakni sastra Arab serta bahasa dan linguistik Arab.
Dalam bidang sastra, pemetaan mencakup psikologi sastra, sosiologi sastra, kajian gender dan feminisme, semiotika, hermeneutika, naratologi, poskolonialisme, hingga ekokritik. Sementara itu, bidang bahasa mencakup pragmatik, sintaksis, analisis wacana, penerjemahan, ekolinguistik, sosiolinguistik, stilistika, semantik, dan linguistik fungsional.
Pemetaan tersebut memberikan gambaran mengenai keragaman penelitian yang telah dilakukan mahasiswa BSA. Pada saat yang sama, dokumen ini menjadi bahan pertimbangan untuk mengidentifikasi pendekatan yang masih memiliki peluang pengembangan dan menemukan persoalan baru yang belum banyak mendapat perhatian.
Menariknya, materi rekomendasi penelitian juga memperkenalkan sejumlah pendekatan yang berkaitan erat dengan persoalan kontemporer. Dalam bidang sastra Arab, mahasiswa diarahkan untuk mempertimbangkan kajian ekokritik dan narasi ekologis, yang memungkinkan karya sastra dibaca melalui isu krisis lingkungan, perubahan iklim, dan hubungan manusia dengan alam.
Selain itu, pendekatan posmodernisme, simulakra, dan distopia membuka peluang penelitian terhadap karya sastra Arab modern yang merepresentasikan realitas sosial, perkembangan teknologi, maupun persoalan kekuasaan. Kajian tersebut dapat dikembangkan melalui pemilihan objek dan persoalan penelitian yang lebih spesifik.
Perhatian terhadap perkembangan dunia digital juga terlihat melalui rekomendasi sastra siber (cybercriticism). Pendekatan ini menawarkan peluang untuk meneliti karya sastra Arab yang lahir dan berkembang melalui media digital, seperti puisi interaktif maupun fiksi pendek yang dipublikasikan di platform media sosial.
Peluang lainnya adalah penggunaan Affect Theory atau teori afek untuk mengkaji bagaimana emosi, trauma kolektif, dan pengalaman sosial direpresentasikan dalam karya sastra. Pendekatan ini dapat digunakan untuk membaca narasi pengungsian, konflik, serta pengalaman kemanusiaan dalam sastra Arab kontemporer.
Sementara itu, dalam bidang bahasa dan linguistik Arab, mahasiswa diperkenalkan pada peluang penelitian yang berkaitan dengan ekolinguistik, multimodalitas, linguistik komputasi, dan kecerdasan buatan.
Ekolinguistik, misalnya, membuka ruang untuk menganalisis bagaimana media berbahasa Arab membingkai isu perubahan iklim dan lingkungan. Adapun pendekatan multimodal memungkinkan mahasiswa meneliti hubungan antara bahasa, gambar, warna, dan unsur visual dalam penyampaian pesan, termasuk pada berita digital dan konten media sosial.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan turut menjadi perhatian melalui rekomendasi kajian linguistik komputasi dan Natural Language Processing (NLP). Topik yang ditawarkan mencakup analisis sentimen, bias algoritma, serta pengolahan bahasa Arab baku dan dialek dalam sistem digital.
Berbagai rekomendasi tersebut memperlihatkan bahwa penelitian Bahasa dan Sastra Arab memiliki peluang untuk terus berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Mahasiswa dapat menghubungkan kompetensi kebahasaan dan kesastraan dengan persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat kontemporer.
Selain memperkenalkan alternatif kajian, Abdul Basid juga memberikan perhatian pada penguatan literasi akademik mahasiswa. Materi pembekalan memuat pengenalan sejumlah platform penelusuran publikasi ilmiah, di antaranya SINTA, Scopus, SCImago Journal Rank, Google Scholar, Garuda, Moraref, serta berbagai portal penerbit jurnal nasional dan internasional.
Pengenalan platform tersebut penting untuk membantu mahasiswa menemukan penelitian terdahulu, menelusuri perkembangan teori, dan mengidentifikasi kesenjangan penelitian. Melalui penelusuran literatur yang memadai, mahasiswa diharapkan dapat menyusun argumentasi akademik yang lebih kuat dalam menentukan topik dan merumuskan persoalan penelitian.
Materi juga memperkenalkan sejumlah aplikasi pengelolaan referensi, seperti Mendeley, Zotero, dan EndNote, serta perangkat pemeriksaan kemiripan naskah. Pengenalan perangkat tersebut menjadi bagian dari pembekalan keterampilan teknis dalam penulisan karya ilmiah, khususnya untuk mendukung ketertiban sitasi dan perhatian terhadap integritas akademik.
Di samping substansi penelitian, Abdul Basid mengingatkan mahasiswa mengenai tahapan akademik yang harus dilalui sebelum dinyatakan lulus. Pembekalan mencakup orientasi mengenai seminar proposal, ujian komprehensif, dan sidang skripsi, yang masing-masing menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian studi.
Mahasiswa perlu memahami bahwa penyusunan skripsi merupakan proses bertahap yang membutuhkan perencanaan. Penentuan judul, pengembangan proposal, penguasaan materi keilmuan, hingga kesiapan menghadapi sidang harus dipersiapkan secara berkesinambungan agar tidak menimbulkan hambatan pada tahap akhir.
Dalam materi penutupnya, Abdul Basid juga menyampaikan dorongan kepada mahasiswa untuk menargetkan penyelesaian sidang skripsi sebelum Mei 2027. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan kualitas penelitian perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan waktu studi yang baik.
Target tersebut sekaligus memberikan arah bagi mahasiswa semester tujuh untuk segera mengambil langkah konkret setelah mengikuti pembekalan. Gagasan penelitian yang telah dimiliki perlu dikembangkan menjadi rancangan yang lebih matang, didukung referensi yang relevan, dan dikonsultasikan melalui mekanisme akademik yang berlaku.
Bagi Program Studi BSA, pembekalan ini mencerminkan upaya memperkuat budaya penelitian mahasiswa melalui pendampingan yang lebih terarah. Pemetaan tema skripsi, pengenalan pendekatan kontemporer, literasi publikasi ilmiah, dan pemahaman tahapan akademik menjadi bekal untuk membantu mahasiswa menghadapi proses tugas akhir dengan lebih siap.
Melalui Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy 2026, mahasiswa BSA Humaniora didorong untuk tidak berhenti pada pertanyaan tentang judul apa yang akan ditulis, tetapi mulai memikirkan persoalan apa yang layak diteliti dan kontribusi keilmuan apa yang dapat dihasilkan.
Dengan demikian, penyusunan skripsi diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kematangan berpikir ilmiah, keberanian mengeksplorasi pendekatan baru, dan kemampuan merespons perkembangan kajian bahasa serta sastra Arab. Dari ruang pembekalan tersebut, mahasiswa membawa tantangan yang lebih konkret: menyusun penelitian yang relevan, menjaga kualitas akademik, dan menuntaskan studi melalui proses yang terencana. [unr-sof/Infopub]





