MIU Login

Sastra Seluas Dunia, Dr. Ahmad Kholil Buka Perspektif Riset Mahasiswa BSA Humaniora

HUMANIORA – (12/10/2026) Apa yang sebenarnya dapat diteliti dari sebuah karya sastra? Apakah penelitian sastra hanya berbicara tentang tokoh, alur, dan gaya bahasa, atau justru mampu menjangkau berbagai persoalan kehidupan manusia? Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut menjadi pintu masuk yang digunakan dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Ahmad Kholil, M.Fil.I., ketika memberikan pembekalan mengenai wilayah kajian sastra dalam kegiatan Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy 2026, Kamis (8/10/2026).

Baca juga:

Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 Fakultas Humaniora tersebut, Ahmad Kholil mengajak mahasiswa semester tujuh untuk memperluas cara pandang terhadap karya sastra. Melalui materi yang disampaikan, mahasiswa diajak memahami bahwa sastra memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia, sehingga persoalan yang dapat diteliti di dalamnya tidak terbatas pada unsur-unsur pembentuk karya.

Foto : Suasana kegiatan akademik yang diikuti mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora. Melalui forum ini, mahasiswa didorong untuk memperluas wawasan, mempertajam kepekaan terhadap fenomena sastra, serta mengeksplorasi beragam pendekatan dan objek penelitian. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya akademik yang kritis, kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan kajian sastra kontemporer.

Mengawali pembekalannya, Ahmad Kholil menghadirkan sejumlah pertanyaan reflektif tentang hakikat sastra. Apa itu sastra? Apa fungsi sastra? Dapatkah sastra mengubah keadaan? Dan mengapa sastra perlu diteliti?

Rangkaian pertanyaan tersebut mengarahkan mahasiswa untuk terlebih dahulu memahami kedudukan sastra sebelum menentukan objek dan fokus penelitian. Sebab, kemampuan menemukan persoalan ilmiah dalam karya sastra berkaitan erat dengan cara peneliti memandang karya tersebut.

Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam materi pembekalan adalah analogi sastra sebagai dunia. Melalui ilustrasi bumi, Ahmad Kholil menunjukkan bahwa karya sastra dapat merepresentasikan beragam pengalaman, peristiwa, dan persoalan yang hadir dalam kehidupan manusia.

Foto : Dr. Ahmad Kholil menyampaikan pemaparan tentang luasnya ruang kajian sastra di hadapan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui perspektif “Sastra Seluas Dunia”, mahasiswa diajak melihat karya sastra sebagai ruang eksplorasi ilmiah yang dapat dikaitkan dengan beragam fenomena sosial, budaya, dan kehidupan manusia, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan penelitian yang inovatif.

Dalam pembekalannya, Dr. Ahmad Kholil, M.Fil.I., mengajak mahasiswa memahami bahwa karya sastra memiliki cakupan persoalan yang sangat luas. Menurutnya, berbagai pengalaman dan dinamika kehidupan manusia dapat menjadi bahan penelitian ketika direpresentasikan dalam karya sastra.

“Sastra itu seperti dunia. Berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan manusia, selama hadir di dalam karya sastra, dapat menjadi objek penelitian. Karena itu, mahasiswa perlu membuka cara pandang agar mampu menemukan persoalan yang menarik dan relevan untuk dikaji,” ungkap Ahmad Kholil.

Perspektif tersebut memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian sastra Arab. Karya sastra tidak hanya dapat dibaca sebagai susunan bahasa yang memiliki nilai estetis, tetapi juga sebagai ruang representasi pengalaman manusia, hubungan sosial, pergulatan pemikiran, dan dinamika kebudayaan.

Sebuah novel, misalnya, dapat menghadirkan persoalan kemanusiaan melalui konflik yang dialami tokohnya. Puisi dapat merekam pengalaman spiritual, pandangan filosofis, maupun kegelisahan sosial. Sementara itu, cerita pendek dapat memuat persoalan kekuasaan, lingkungan, dan perubahan nilai dalam masyarakat.

Keberagaman tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa untuk menemukan fokus penelitian yang sesuai dengan ketertarikan akademik sekaligus memiliki relevansi dengan bidang keilmuan Bahasa dan Sastra Arab.

Namun, luasnya wilayah kajian sastra juga menuntut kemampuan menentukan batas penelitian secara tepat. Karena itu, Ahmad Kholil memberikan arahan mengenai langkah awal yang perlu dilakukan mahasiswa sebelum menetapkan tema skripsi.

Langkah pertama adalah memahami isi karya sastra secara menyeluruh. Pemahaman terhadap karya menjadi landasan penting agar mahasiswa tidak terburu-buru menentukan teori atau pendekatan sebelum mengenali persoalan yang benar-benar hadir di dalam teks.

Setelah memahami isi karya, mahasiswa perlu mengidentifikasi unsur-unsur yang menonjol dan berpotensi dikembangkan menjadi fokus penelitian.

Dalam materi pembekalannya, Ahmad Kholil memetakan sejumlah wilayah kajian yang dapat dieksplorasi, mulai dari kemanusiaan, sosial-budaya, keagamaan dan spiritualitas, filsafat dan pemikiran, tokoh dan penokohan, psikologi, kebahasaan, politik dan kekuasaan, hingga persoalan lingkungan atau ekologi.

Pemetaan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian sastra memiliki karakter yang terbuka terhadap berbagai perspektif. Persoalan psikologis dalam karya dapat diteliti untuk memahami pengalaman dan perkembangan tokoh, sedangkan persoalan sosial-budaya dapat menjadi pintu masuk untuk membaca hubungan antara karya sastra dan masyarakat.

Demikian pula persoalan keagamaan dan spiritualitas yang memungkinkan peneliti menelaah nilai, pengalaman religius, maupun pandangan hidup yang direpresentasikan melalui karya sastra. Sementara itu, persoalan politik dan kekuasaan dapat membuka pembacaan terhadap hubungan dominasi, perlawanan, serta dinamika sosial yang hadir dalam teks.

Perhatian terhadap lingkungan juga menjadi bagian dari wilayah kajian yang diperkenalkan. Melalui perspektif ekologi, mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana alam, kerusakan lingkungan, atau hubungan manusia dengan lingkungannya direpresentasikan dalam karya sastra.

Keberagaman tema tersebut menegaskan pentingnya ketepatan dalam memilih fokus penelitian. Tidak semua persoalan yang ditemukan dalam sebuah karya harus dikaji sekaligus. Mahasiswa perlu menentukan persoalan yang paling relevan, memiliki bukti tekstual yang memadai, dan memungkinkan untuk dianalisis melalui pendekatan ilmiah yang sesuai.

Selain menguraikan unsur-unsur yang terkandung di dalam karya, Ahmad Kholil juga mengajak mahasiswa memperhatikan faktor-faktor di luar teks sastra.

Melalui pertanyaan mengenai apakah karya sastra muncul begitu saja, ia memperkenalkan pentingnya kajian ekstrinsik yang menghubungkan karya dengan pengarang dan masyarakat.

Dalam perspektif ini, karya sastra dipahami memiliki hubungan dengan lingkungan sosial tempat pengarang hidup, pengalaman yang memengaruhi proses penciptaan, serta masyarakat yang menerima atau menolak kehadiran karya tersebut.

Materi pembekalan secara khusus menyinggung dua wilayah yang berkaitan dengan aspek tersebut, yakni sosiologi sastra dan resepsi sastra.

Sosiologi sastra memberikan ruang untuk menelaah hubungan antara karya, pengarang, dan kondisi sosial yang melatarbelakangi kemunculannya. Sementara itu, resepsi sastra mengarahkan perhatian pada bagaimana pembaca atau masyarakat memberikan tanggapan terhadap karya sastra.

Kedua perspektif tersebut memperluas pemahaman mahasiswa bahwa makna dan keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari kehidupan sosial.

Dalam konteks penelitian Bahasa dan Sastra Arab, pendekatan ini memberikan peluang untuk mengkaji karya-karya yang merepresentasikan perubahan masyarakat, pengalaman budaya, persoalan identitas, maupun respons pembaca terhadap gagasan yang disampaikan pengarang.

Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih jelas antara objek penelitian, persoalan yang ditemukan, dan pendekatan yang digunakan. Dengan demikian, pemilihan judul skripsi dapat berangkat dari pembacaan dan identifikasi persoalan secara mendalam, bukan semata-mata dari keinginan menerapkan teori tertentu.

Materi Ahmad Kholil juga memberikan penguatan terhadap tujuan penyelenggaraan Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy 2026, yakni membantu mahasiswa semester akhir mempersiapkan penelitian secara lebih terarah.

Bagi Program Studi BSA, pengenalan wilayah kajian sastra menjadi bagian penting dari pendampingan akademik sebelum mahasiswa memasuki proses penyusunan proposal dan bimbingan tugas akhir. Pemahaman yang baik terhadap keluasan objek penelitian diharapkan membantu mahasiswa menemukan tema yang sesuai dengan kompetensi keilmuan dan minat akademiknya.

Lebih jauh, pembekalan ini memperlihatkan bahwa Program Studi Sastra Arab memiliki relevansi dengan berbagai persoalan kemanusiaan. Karya sastra dapat menjadi ruang untuk memahami kehidupan sosial, membaca pengalaman manusia, serta menelaah nilai dan gagasan yang berkembang dalam masyarakat.

Pada akhirnya, gagasan sastra seluas dunia yang dihadirkan Ahmad Kholil memberikan pesan penting bagi mahasiswa BSA Humaniora: peluang penelitian tidak selalu harus dicari jauh dari karya yang dibaca. Beragam persoalan kehidupan dapat ditemukan melalui pembacaan yang cermat, sepanjang mahasiswa mampu mengenali fokus kajian dan mengembangkannya menjadi pertanyaan ilmiah yang terarah.

Melalui pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya lebih siap menentukan topik skripsi, tetapi juga mampu melihat penelitian sastra sebagai upaya memahami manusia dan dunianya melalui karya-karya yang terus hidup dalam perkembangan masyarakat. [unr-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait