MIU Login

Bahasa, Adab, dan Anak Digital

Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A.

Setiap 23 Juli, Hari Anak Nasional (HAN) diperingati sebagai pengingat bahwa tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab bersama. Namun ada satu dimensi yang sering luput dari perbincangan publik: bahasa. Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah wadah tempat adab, cara berpikir, dan nilai ditransmisikan kepada anak—termasuk di ruang digital yang kini menjadi kampung kedua bagi mereka.

Baca juga:

Anak-anak masa kini tumbuh di tengah lautan bahasa yang jauh lebih deras dan beragam dibanding generasi sebelumnya. Setiap video yang ditonton, setiap obrolan dalam gim daring, setiap komentar yang dibaca di media sosial, membawa serta gaya bahasa, diksi, bahkan nilai tertentu yang secara tidak sadar diserap anak. Bahasa yang dahulu terutama dipelajari dari orang tua dan guru, kini sebagian besar justru dipelajari dari layar—dan tidak semua yang diajarkan layar itu baik.

Tradisi keilmuan Arab mengenal ungkapan masyhur: al-adabu qabla al-‘ilmi—adab didahulukan sebelum ilmu. Ungkapan ini bukan sekadar slogan pesantren, melainkan cermin dari kesadaran bahwa penguasaan bahasa tanpa penanaman adab hanya melahirkan kefasihan tanpa kesantunan. Di era digital, ironi inilah yang justru banyak terjadi: anak-anak fasih meniru diksi, singkatan, bahkan makian dari tayangan dan gim daring, jauh lebih cepat daripada mereka menyerap nilai kesopanan berbahasa.

Perintah Berkata Baik

Al-Qur’an memberi rambu yang jelas tentang kualitas ucapan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (lurus).” (QS. Al-Ahzab [33]: 70)

Qaulan sadida—perkataan yang lurus dan benar—adalah standar berbahasa yang seharusnya ditanamkan sejak usia dini, termasuk dalam interaksi digital anak: cara mereka berkomentar di media sosial, cara mereka berbicara dalam gim daring bersama teman sebaya, hingga cara mereka menyampaikan pendapat di ruang-ruang belajar daring. Standar ini tidak berubah meski medium komunikasinya berubah dari lisan menjadi ketikan di layar.

Rasulullah ﷺ menegaskan hal serupa dengan lebih tegas:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi prinsip literasi digital yang sangat kontekstual: sebelum mengetik komentar, sebelum mengirim pesan, sebelum ikut berkomentar ramai-ramai (biasa disebut warganet) di sebuah unggahan, anak perlu dibiasakan bertanya, apakah kata yang akan diucapkan atau diketik ini baik? Jika tidak, diam—atau dalam bahasa digital, tidak mengirim—adalah pilihan yang lebih mulia. Prinsip sederhana ini, jika ditanamkan sejak kecil, dapat menjadi filter alami bagi anak dalam berinteraksi di ruang digital yang serba cepat dan minim jeda berpikir.

Belajar dari Kisah dan Nasihat Klasik

Tradisi sastra Arab klasik sesungguhnya kaya dengan model komunikasi orang tua kepada anak yang santun namun tegas. Kisah nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya, yang diabadikan dalam Al-Qur’an surah Luqman, menjadi salah satu rujukan paling indah tentang bagaimana menyampaikan nilai kepada anak: dengan panggilan penuh kasih (ya bunayya), disertai penjelasan yang logis, bukan sekadar larangan tanpa alasan. Pola komunikasi semacam ini semestinya menjadi inspirasi dalam merancang konten digital untuk anak masa kini—konten yang tidak menggurui, tetapi menyentuh dan membekas.

Selain itu, adab al-hiwar (etika berdialog) dan balaghah (retorika yang santun namun kuat) yang menjadi kajian utama dalam bahasa dan sastra Arab, sesungguhnya sangat relevan diajarkan kembali kepada anak-anak, bukan hanya sebagai materi hafalan kosakata, melainkan sebagai fondasi cara berkomunikasi yang beradab. Qashash al-athfal (cerita anak) dan hikayat-hikayat teladan dalam khazanah sastra Arab, selama ini terbukti efektif menanamkan nilai kejujuran, kesabaran, dan kesantunan lisan tanpa terasa menggurui.

Tantangan dan Peluang Konten Berbahasa

Sayangnya, di tengah derasnya konten digital berbahasa asing dan lokal yang instan dan penuh hiburan, konten pembelajaran bahasa Arab yang ramah anak dan berbasis kisah teladan masih kalah bersaing dari sisi kemasan visual maupun jumlah produksi. Anak-anak lebih mudah menemukan animasi berbahasa asing dengan produksi yang memukau, dibanding konten edukatif berbahasa Arab yang dikemas menarik dan sesuai dunia anak.

Padahal, jika dikemas menarik—melalui aplikasi interaktif, animasi, atau permainan edukatif berbasis kosakata dan kisah Qur’ani—bahasa Arab dapat menjadi salah satu benteng adab digital bagi anak, sekaligus media dakwah yang menyenangkan. Hal ini membutuhkan kolaborasi lintas keahlian: akademisi bahasa dan sastra Arab yang memahami kaidah dan nilai kebahasaan, bersama praktisi kreatif yang memahami selera dan kebutuhan anak zaman sekarang.

Menutup dengan Harapan

Hari Anak Nasional semestinya menjadi pengingat bahwa membesarkan anak di era digital bukan hanya soal membatasi layar, tetapi juga soal apa yang mengisi telinga dan lisan mereka setiap hari. Sebagai pendidik bahasa dan sastra Arab sekaligus penggerak dakwah, sudah saatnya kita—akademisi, praktisi, dan pembuat konten—berkolaborasi menghadirkan lebih banyak bahan ajar dan konten digital berbahasa yang tidak hanya cerdas secara linguistik, tetapi juga menanamkan qaulan sadida sejak dini.

Sebab anak yang tumbuh dengan lisan yang terjaga, kelak akan menjadi generasi yang mampu menjaga peradaban—di dunia nyata maupun di dunia maya. Dan tugas menjaga lisan itu, sesungguhnya berawal dari kesungguhan kita menjaga bahasa yang kita wariskan kepada mereka.

Wallahu A’lam wa Ahkam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait