Oleh: Lativa Husna
Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita. Namun, ada perjalanan tertentu yang bukan hanya menghadirkan pengalaman baru, melainkan juga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora di Thailand adalah salah satunya. Program ini bukan sekadar kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di luar negeri, melainkan sebuah perjalanan batin yang mempertemukan saya dengan tantangan, keberanian, persahabatan, dan versi baru dari diri saya sendiri.
Baca juga:
- Berkarier di Industri Media, Alumni Humaniora UIN Malang Ungkap Bekal Penting dari Kampus
- Mahasiswa BSA Humaniora Raih Juara 1 Voice Over Competition Tingkat Nasional
Jika berbicara tentang pengalaman selama mengikuti I-SMASH, rasanya kisah itu tidak akan pernah habis diceritakan. Perjalanan ini bahkan telah dimulai jauh sebelum keberangkatan. Ada drama mengurus paspor, rasa cemas menjelang hari keberangkatan, hingga ketegangan saat melewati pemeriksaan imigrasi. Semua proses itu menjadi bagian dari cerita yang, pada saat dijalani, terasa melelahkan, tetapi kini justru dikenang sebagai fase penting yang mengajarkan kesabaran dan kesiapan mental.
Sesampainya di Bangkok, saya menyadari bahwa petualangan sesungguhnya baru saja dimulai. Sebelum menuju lokasi utama pengabdian, saya berkesempatan menyaksikan wajah Bangkok yang begitu memikat. Saya mengunjungi Wat Arun, salah satu kuil ikonik di Thailand yang sarat nilai sejarah dan budaya. Di tempat itu, saya mencoba mengenakan pakaian tradisional Thailand dan merasakan secara langsung atmosfer budaya lokal yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar atau cerita. Perjalanan kemudian berlanjut ke IconSiam dan Asiatique, dua ruang publik modern yang menunjukkan sisi lain Bangkok sebagai kota besar yang dinamis. Di sepanjang city tour, saya menyaksikan perpaduan menarik antara gedung-gedung modern dan bangunan tradisional yang tetap terjaga. Kehadiran foto-foto besar Raja Thailand di berbagai sudut kota juga meninggalkan kesan mendalam tentang kuatnya penghormatan masyarakat terhadap simbol negara dan kepemimpinan mereka.
Namun, inti dari perjalanan ini baru dimulai ketika pada 27 Juli 2025 kami meninggalkan Bangkok menuju Chana, wilayah yang menjadi pusat pengabdian kami selama program berlangsung. Perjalanan menuju Chana ditempuh selama kurang lebih 16 jam menggunakan kereta. Bagi saya, perjalanan ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Kereta yang kami tumpangi sangat berbeda dari kereta yang biasa saya temui di Indonesia. Suasananya terasa klasik dan vintage, dengan jendela yang dapat dibuka sehingga angin bebas masuk, serta kursi sederhana yang justru menghadirkan kesan hangat dan penuh cerita. Perjalanan panjang itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga transisi batin: dari seorang mahasiswa yang penuh keraguan menjadi seseorang yang sedang bersiap memasuki ruang belajar yang sama sekali baru.
Setibanya di Chana, saya berhadapan dengan lingkungan yang berbeda dalam banyak hal. Bahasa, tradisi, cara berbicara, kebiasaan sehari-hari, hingga pola interaksi sosial terasa asing pada awalnya. Saya sempat diliputi rasa takut dan canggung. Namun, kekhawatiran itu perlahan mencair berkat sambutan hangat dari orang-orang di sana. Mereka menerima kami dengan tangan terbuka, bahkan memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Kehangatan itu membuat saya sadar bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menjalankan tugas akademik, melainkan juga tentang belajar membangun persaudaraan lintas budaya.
Pengalaman utama saya selama di Thailand berlangsung di QLCC (Qur’anic and Language Center of Chariyatamsuksa Foundation School) dan Chariyatamsuksa Foundation School. Di sanalah saya bertemu dengan para siswa yang penuh semangat, antusias, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tatapan mata mereka, semangat mereka untuk belajar, dan keterbukaan mereka untuk berinteraksi menjadi energi tersendiri bagi saya. Di sisi lain, saya juga harus menghadapi berbagai tantangan: rasa takut tidak mampu memenuhi harapan, kekhawatiran gagal menjalankan peran, dan tekanan untuk bisa menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang berbeda. Namun, justru dari tantangan itulah saya belajar bahwa proses tumbuh selalu menuntut keberanian untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Seiring berjalannya waktu, saya tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar memahami sistem pendidikan di sekolah tersebut, mengenali karakter para siswa, serta menyesuaikan metode pendekatan agar proses pembelajaran terasa menyenangkan. Berinteraksi dengan mereka, mengamati kebiasaan mereka, dan menyelami dinamika kelas perlahan menjadi bagian yang saya nikmati. Apa yang semula terasa asing, lambat laun berubah menjadi ruang belajar yang sangat berharga.
Di tengah seluruh proses itu, dukungan dari tim menjadi fondasi yang tidak kalah penting. Kami belajar saling menguatkan, menjaga kekompakan, dan bertumbuh bersama di tengah tantangan yang tidak selalu mudah. Dari sana saya memahami bahwa perjalanan internasional seperti ini tidak bisa dijalani sendirian. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh solidaritas tim, kemampuan beradaptasi bersama, dan kesediaan untuk saling menopang ketika satu sama lain mulai lelah.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama di Chana adalah ketika sekolah menyelenggarakan English Camp. Kegiatan ini membuka ruang interaksi yang jauh lebih luas, tidak hanya dengan siswa dari sekolah tempat kami mengabdi, tetapi juga dengan peserta dari berbagai latar belakang. Di sana saya bertemu dengan orang-orang dari Thailand dan Filipina, serta berinteraksi dengan peserta dari beragam keyakinan, termasuk teman-teman beragama Buddha. Pertemuan ini memperluas cara pandang saya tentang keberagaman. Saya belajar bahwa perbedaan budaya dan agama bukanlah penghalang untuk saling memahami, justru menjadi ruang yang kaya untuk saling belajar.
Pengalaman lintas budaya itu semakin lengkap ketika kami mendapat kesempatan menjadi narasumber di Suthrak Montessori School. Bersama siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar, kami mengadakan pembelajaran bertema Fun Learning bahasa Indonesia dan bahasa Inggris melalui metode bermain sambil belajar. Melihat antusiasme mereka mengikuti kegiatan menjadi kebahagiaan tersendiri. Di sekolah ini, saya juga berkesempatan mengamati bagaimana nilai-nilai adab dan kedisiplinan diajarkan dalam lingkungan pendidikan Buddha. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sangat berharga karena memperlihatkan bahwa pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan universal: membentuk manusia yang baik, berkarakter, dan menghargai sesama.
Dari sekian banyak pengalaman, ada satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya, yaitu kegiatan penutup bertajuk “Kita Pasti Bisa.” Kegiatan ini menjadi puncak dari seluruh proses pembelajaran yang kami jalani bersama para santri. Dalam kegiatan tersebut, mereka tampil di depan umum sebagai pembawa acara tiga bahasa—Arab, Indonesia, dan Inggris—serta menyampaikan pidato dan membaca Al-Qur’an dengan tartil. Kegiatan ini kami beri nama Kita Pasti Bisa karena bagi mereka, tampil di depan umum menggunakan bahasa yang baru dipelajari adalah tantangan besar yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
Melihat mereka berani tampil dengan percaya diri, meski hanya berlatih selama empat hari, menjadi kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Saya menyaksikan secara langsung bagaimana rasa takut dan ragu bisa dikalahkan oleh latihan, dukungan, dan kemauan untuk mencoba. Dari mereka, saya belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak takut; keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada. Dan sering kali, hasil paling indah lahir dari usaha yang ditekuni dengan sungguh-sungguh.
Jika ada yang bertanya pengalaman apa yang paling tidak bisa saya lupakan selama di Thailand, saya mungkin akan kesulitan menjawab. Bukan karena tidak ada yang istimewa, tetapi justru karena hampir setiap momen memiliki makna yang mendalam. Semua pengalaman itu—mulai dari drama keberangkatan, perjalanan panjang, pertemuan dengan orang-orang baru, proses belajar mengajar, kebersamaan dengan tim, hingga momen haru saat melihat para siswa berani tampil—adalah pengalaman yang tidak tergantikan.
Lebih dari itu, I-SMASH telah menjadi titik balik dalam hidup saya. Program ini mengubah saya dari pribadi yang sebelumnya cenderung tertutup menjadi seseorang yang lebih berani membuka diri, mencoba hal baru, dan tumbuh menjadi versi diri yang lebih percaya diri. Saya merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar menambah kenangan, tetapi juga membentuk karakter. Saya belajar bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang berani diambil, dari keputusan untuk mencoba, dari kesediaan untuk keluar dari zona nyaman, dan dari keberanian menghadapi ketidakpastian.
Pada akhirnya, pengalaman mengikuti I-SMASH Humaniora di Thailand bukan hanya mempertemukan saya dengan negeri, budaya, dan sistem pendidikan yang berbeda, tetapi juga mempertemukan saya dengan diri saya yang baru. Saya pulang bukan hanya dengan cerita tentang perjalanan internasional, tetapi juga dengan keyakinan bahwa saya mampu berkembang, beradaptasi, dan memberi makna di ruang yang sebelumnya terasa asing.
Karena itu, bagi saya, I-SMASH bukan sekadar program mobilitas mahasiswa. Ia adalah ruang pembelajaran kehidupan. Sebuah perjalanan yang menghadirkan tawa, lelah, tantangan, dan keberanian dalam satu rangkaian pengalaman yang utuh. Dan dari seluruh proses itu, saya belajar satu hal penting: bahwa setiap langkah berani yang kita ambil hari ini bisa menjadi pijakan besar untuk masa depan yang lebih baik.





