HUMANIORA – (16/9/2026) Pengalaman personal dan profesional tidak selalu berhenti sebagai cerita perjalanan seorang akademisi. Ketika direfleksikan secara kritis dan ditempatkan dalam kerangka ilmiah, pengalaman tersebut dapat berkembang menjadi pengetahuan, bahkan menembus publikasi akademik global. Perspektif inilah yang dibagikan Dr. Ribut Wahyudi, Ph.D., dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam forum ilmiah yang diselenggarakan English Studies Association in Indonesia (ESAI).
Baca juga:
Pada 19 Agustus 2026, Ribut kembali dipercaya ESAI untuk mempresentasikan topik “Writing and Publishing Auto-Ethnographic Works in Applied Linguistics Globally: Lessons from the Field.” ESAI merupakan asosiasi program studi kajian Bahasa Inggris se-Indonesia.
Kepercayaan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar kesempatan menjadi pembicara. Forum itu menjadi ruang bagi dosen Humaniora untuk mendiseminasikan pengalaman akademik yang telah dibangun selama bertahun-tahun, sekaligus berbagi perspektif mengenai alternatif penelitian dalam Linguistik Terapan kepada komunitas akademik yang lebih luas.

Dalam webinar tersebut, Ribut membagikan pengalamannya menerbitkan karya-karya Linguistik Terapan selama sekitar satu dekade melalui penerbit global, antara lain Routledge, Palgrave Macmillan, Springer, dan Multilingual Matters. Pengalaman publikasi tersebut salah satunya dikembangkan melalui pendekatan critical auto-ethnography.
Salah satu gagasan penting yang dibawa Ribut dalam forum tersebut adalah cara melihat pengalaman sebagai bagian dari sumber pengetahuan akademik.
Dalam pemaparannya, ia mengawali pembahasan dengan menjelaskan kerangka konseptual critical auto-ethnography berdasarkan literatur utama yang digunakan dalam bidang tersebut.
Pendekatan ini membuka kemungkinan bagi peneliti untuk menggunakan pengalaman diri maupun pengalaman profesional—termasuk pengalaman mengajar di kelas—sebagai basis untuk mengembangkan karya ilmiah. Karakter tersebut membedakannya dengan model penelitian yang menempatkan objek penelitian sepenuhnya berada di luar diri penulis.
Perspektif tersebut menjadi menarik dalam konteks kehidupan akademisi.
Dosen berhadapan dengan banyak pengalaman yang sebenarnya memiliki nilai pengetahuan: interaksi dengan mahasiswa, proses merancang pembelajaran, dinamika di ruang kelas, pengalaman lintas budaya, hingga persoalan-persoalan yang muncul dalam praktik profesional.
Melalui pendekatan yang tepat, pengalaman tersebut tidak hanya menjadi memori personal. Ia dapat direfleksikan, dianalisis secara kritis, dikontekstualisasikan dengan literatur, kemudian dikembangkan menjadi karya akademik.
Dengan demikian, aktivitas mengajar dan meneliti tidak selalu berdiri sebagai dua dunia yang terpisah. Pengalaman pedagogis dapat menjadi ruang lahirnya pertanyaan penelitian, sementara refleksi terhadap praktik akademik dapat menghasilkan pengetahuan baru.
Ribut juga menjelaskan perbedaan cara memandang data dalam critical auto-ethnography dibandingkan pemahaman penelitian tradisional.
Dalam pendekatan tersebut, peneliti menggunakan critical reflexive analysis dalam proses analisis. Penulis bahkan dapat menggunakan kata ganti orang pertama “I” dalam tulisan ilmiahnya untuk memperlihatkan agensi peneliti.
Hal tersebut menempatkan peneliti bukan sebagai sosok yang sepenuhnya berada di luar pengalaman yang dikaji.
Sebaliknya, posisi, pengalaman, dan keterlibatan peneliti menjadi sesuatu yang disadari dan direfleksikan secara kritis. Di sinilah refleksivitas memperoleh peran penting.
Pendekatan semacam ini sekaligus membuka alternatif bagi akademisi yang memiliki aktivitas profesional cukup tinggi. Menurut Ribut, critical auto-ethnography relevan bagi mereka yang memiliki kesibukan seperti ketua program studi maupun pemegang jabatan lainnya karena aspek personal dan profesional dapat dipertemukan dalam proses penelitian.
Bukan berarti pengalaman pribadi secara otomatis dapat disebut penelitian ilmiah. Pengalaman tersebut tetap membutuhkan refleksi kritis dan kerangka konseptual agar dapat berkembang menjadi pengetahuan akademik.
Ribut tidak berhenti pada penjelasan konseptual. Ia membawa pengalaman publikasinya sendiri sebagai contoh bagaimana critical auto-ethnography dapat dikembangkan menjadi karya akademik.
Salah satunya berangkat dari pengalaman lintas budaya ketika menjalani studi di Australia dan Selandia Baru pada jenjang master dan doktoral.
Pengalaman tersebut kemudian diramu untuk mengembangkan pemahaman kritis mengenai kompetensi lintas budaya yang dinamis dan interdisipliner. Karya itu selanjutnya terbit sebagai book chapter melalui Palgrave Macmillan pada 2016.
Contoh tersebut menunjukkan bagaimana mobilitas akademik dan pengalaman hidup dalam lingkungan budaya berbeda dapat bergerak melampaui pengalaman personal.
Ketika diolah melalui proses refleksi dan analisis, pengalaman lintas budaya dapat menghasilkan perspektif akademik yang memiliki relevansi bagi kajian bahasa, budaya, dan komunikasi.
Contoh lain berasal dari pengalaman yang sangat dekat dengan profesinya sebagai dosen.
Dalam karya yang terbit sebagai book chapter melalui Routledge pada 2022, Ribut menjelaskan bagaimana ia mendesain mata kuliah Linguistik Terapan, memilih materi, serta mengajarkan materi tersebut untuk membangun pemahaman kritis mahasiswa mengenai Linguistik Terapan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan yang kuat antara pembelajaran, penelitian, dan publikasi.
Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat menyampaikan materi. Praktik pembelajaran juga dapat menjadi ruang refleksi akademik yang membantu dosen mengevaluasi pendekatan pedagogis sekaligus mengembangkan gagasan keilmuan.
Pengalaman Ribut memberikan perspektif penting bagi pengembangan budaya akademik di Fakultas Humaniora.
Publikasi internasional tidak selalu harus dimulai dari persoalan yang jauh dari keseharian akademisi. Pengalaman mengajar, perjalanan akademik, perjumpaan lintas budaya, maupun praktik profesional dapat memiliki nilai ilmiah ketika mampu dibaca secara kritis dan ditempatkan dalam dialog dengan teori serta penelitian sebelumnya.
Di titik inilah penelitian memperoleh sifat yang dekat dengan kehidupan akademik.
Dosen tidak hanya menjadi pengguna teori, tetapi juga dapat menjadikan pengalaman profesionalnya sebagai ruang untuk menghasilkan pengetahuan. Pada saat yang sama, pembelajaran tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan kepada mahasiswa, tetapi dapat berkembang menjadi sumber refleksi untuk memperbaiki praktik pendidikan.
Bagi Humaniora, pola semacam ini relevan dengan upaya membangun ekosistem keilmuan yang produktif. Pengalaman akademik yang tumbuh di ruang kelas dapat direfleksikan menjadi penelitian; penelitian dapat dikembangkan menjadi publikasi; sementara publikasi kembali memperkaya pembelajaran.
Siklus tersebut membuat keilmuan tidak berhenti pada dokumen publikasi, tetapi kembali memberi dampak pada kehidupan akademik.
Webinar ESAI tersebut diikuti sekitar 70 dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta dua peserta dari luar negeri.
Kehadiran Ribut dalam forum tersebut sekaligus memperluas ruang pertukaran pengetahuan antara Fakultas Humaniora dan komunitas akademik di luar institusi.
Rekognisi seorang dosen pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mengundangnya atau forum tempat ia berbicara. Nilai yang lebih substantif terletak pada pengetahuan dan pengalaman akademik yang dapat dibagikan serta memberi manfaat kepada komunitas keilmuan yang lebih luas.
Kepercayaan ESAI kepada Ribut menunjukkan bahwa pengalaman akademik yang tumbuh dari Fakultas Humaniora memiliki ruang untuk masuk dalam percakapan keilmuan nasional dan terhubung dengan praktik publikasi global. Sumber kegiatan sendiri menempatkan partisipasi tersebut sebagai penguatan rekognisi dosen Sastra Inggris dan Fakultas Humaniora pada ranah nasional dan internasional.
Dari pengalaman lintas budaya hingga praktik mengajar di kelas, dari refleksi personal hingga publikasi bersama penerbit global, perjalanan tersebut membawa satu pesan penting: pengetahuan dapat tumbuh dari pengalaman ketika akademisi memiliki keberanian untuk merefleksikannya secara kritis, mengolahnya secara ilmiah, dan membagikannya kepada dunia.
Bagi Fakultas Humaniora, kehadiran dosen dalam ruang-ruang akademik semacam ini sekaligus memperkuat perannya sebagai laboratorium inovasi keilmuan—tempat pengalaman, pembelajaran, penelitian, dan publikasi saling terhubung untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan dan berdampak. [unr-sof/Infopub]





