MIU Login

RWS di Hati: Belajar tentang Pengabdian, Kebersamaan, dan Arti Rumah di Negeri Seberang

HUMANIORA – (4/9/2026) Langit Surabaya pagi itu tampak teduh, seolah ikut merestui langkah kami menuju perjalanan yang sejak lama hanya hidup dalam bayangan. Di halaman Faculty of Humanities, wajah-wajah penuh harap berkumpul dalam suasana yang hangat sekaligus khidmat. Sebelum keberangkatan, Dekan Faculty of Humanities menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi membekas kuat di benak saya: menjaga nama baik fakultas dan memberikan yang terbaik di mana pun kami berada. Kalimat itu terasa lebih dari sekadar pesan seremonial ia adalah amanah yang kami bawa sejak langkah pertama meninggalkan kampus.

Read too:

Perjalanan menuju Thailand melalui program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora pada mulanya saya bayangkan sebagai pengalaman akademik biasa program pengabdian, praktik mengajar, lalu pulang membawa cerita. Namun, yang saya temukan di lapangan jauh melampaui itu. Thailand, khususnya Rungrotte Wittaya School (RWS) di Chana, Songkhla, tidak hanya menjadi tempat saya mengajar, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan arti pengabdian, kebersamaan, dan makna rumah di negeri seberang.

Dari Surabaya, kami terbang menuju Bangkok dengan membawa harapan, kegugupan, sekaligus rasa ingin tahu yang besar. Bagi saya, perjalanan ini bukan hanya tentang berpindah negara, melainkan tentang menyeberangi batas-batas dalam diri sendiri: batas kenyamanan, batas bahasa, dan batas keyakinan tentang sejauh mana saya mampu beradaptasi di tempat baru. Bangkok menyambut kami dengan udara lembap dan suasana kota yang bergerak cepat. Selama tiga hari pertama, kami tinggal di Yayasan Amanah Suksa School, tempat kami merasakan keramahan yang begitu tulus. Malam-malam diisi dengan futsal bersama para guru, obrolan ringan, dan tawa yang membuat rasa asing perlahan mencair. Kami memang datang sebagai tamu, tetapi perlakuan hangat mereka membuat kami merasa seperti pulang ke rumah yang telah lama menanti.

Di sela masa transit itu, kami juga berkesempatan mengikuti city tour ke beberapa titik ikonik Bangkok, seperti Wat Arun, Icon Siam, dan Asiatique. Di sana, saya melihat wajah Thailand yang kaya akan sejarah sekaligus modernitas. Sungai Chao Phraya yang berkilau pada malam hari, bangunan-bangunan megah, serta ritme kota yang dinamis menghadirkan kesan bahwa perjalanan ini akan dipenuhi warna yang tak terduga. Namun, di balik semua keindahan itu, saya sadar bahwa inti dari keberangkatan kami bukanlah wisata, melainkan pengabdian.

Perjalanan sesungguhnya dimulai ketika kami meninggalkan Bangkok menuju Rungrotte Wittaya School di Chana, Songkhla. Perjalanan panjang itu kami tempuh dengan kereta api sederhana selama kurang lebih enam belas jam. Gerbongnya jauh dari bayangan tentang kereta modern yang nyaman. Kursi-kursi tegak, jendela terbuka, kipas angin tua yang berputar tanpa henti, serta udara panas yang sesekali bercampur debu menjadi teman sepanjang perjalanan. Di situ saya belajar bahwa kenyamanan bukanlah syarat utama sebuah pengalaman berharga. Justru dalam kesederhanaan itulah kebersamaan terasa tumbuh. Ketika baterai ponsel mulai menipis dan tidak ada lagi hiburan digital yang bisa diandalkan, percakapan, candaan, dan kebersamaan menjadi penawar lelah yang paling nyata.

Sesampainya di Chana, kami disambut oleh dua sosok yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita ini Khru Anuwat dan Khru Saleh. Dengan senyum hangat dan sikap penuh keterbukaan, mereka menerima kami bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai keluarga. Kami diantar menuju homestay sederhana yang akan menjadi tempat tinggal selama menjalani program. Malam itu, kami dijamu dengan makanan hangat dan sambutan yang menenangkan. Dalam kelelahan setelah perjalanan panjang, saya merasakan satu hal yang sangat penting: di negeri yang belum pernah saya kenal sebelumnya, ada orang-orang yang menyambut dengan ketulusan tanpa syarat.

Keesokan harinya, suasana Rungrotte Wittaya School menyambut kami dengan riuh rendah suara siswa. Upacara penerimaan berlangsung dengan khidmat, lalu kami diminta memperkenalkan diri di hadapan seluruh siswa. Saya masih mengingat jelas perasaan gugup yang sempat muncul. Berdiri di depan ratusan pasang mata di sekolah asing tentu bukan hal yang mudah. Namun, senyum para siswa, tatapan polos mereka, dan tepuk tangan hangat yang menyambut kedatangan kami perlahan menghapus kecanggungan itu. Pada momen itulah saya merasa bahwa perjalanan ini benar-benar dimulai.

Secara resmi, kami diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah melalui seremonial di aula. Pihak sekolah tidak hanya menyambut kami secara administratif, tetapi juga secara emosional. Ada rasa dihargai, dipercaya, dan diberi ruang untuk tumbuh bersama mereka. Setiap mahasiswa kemudian ditempatkan bersama guru pamong sesuai bidang masing-masing. Saya sendiri mendapat amanah untuk mengajar Al-Qur’an, qira’ah, dan fikih. Jujur, pada awalnya rasa ragu sempat datang. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya mampu mengajar dengan baik di lingkungan yang berbeda? Apakah kendala bahasa akan menghambat proses belajar? Namun, guru pamong saya memberikan dorongan yang sangat menenangkan: “Jangan takut, cukup ajarkan dengan hati. Anak-anak akan merasakannya.” Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi pegangan yang sangat berarti selama saya mengajar.

Hari-hari di RWS berjalan dalam ritme yang teratur. Pagi dimulai dengan apel di lapangan, lagu kebangsaan Thailand, dan doa bersama. Anak-anak berbaris rapi dengan disiplin yang mengesankan. Dari kejauhan, saya kerap memperhatikan wajah-wajah kecil itu dan membayangkan bahwa meski mereka lahir di negeri yang berbeda, semangat mereka untuk belajar sangatlah dekat dengan apa yang saya kenal di tanah air. Ada kesungguhan yang tulus, ada rasa hormat kepada guru, dan ada antusiasme yang membuat suasana belajar terasa hidup.

Rutinitas mengajar dimulai sejak pagi hingga sore. Di kelas, saya tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar. Anak-anak menyambut setiap pelajaran dengan antusias, meskipun kadang kami sama-sama harus menertawakan perbedaan pelafalan, aksen, atau keterbatasan bahasa. Justru di situlah letak keindahannya. Saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun kedekatan, kepercayaan, dan saling memahami. Setiap kekeliruan kecil di kelas bukan menjadi hambatan, melainkan jembatan yang membuat kami semakin akrab.

Di luar jam mengajar, saya juga sering membantu teman-teman lain, mendokumentasikan kegiatan, dan berbincang dengan para guru. Lambat laun, rasa asing yang semula hadir berubah menjadi rasa memiliki. Sekolah ini tidak lagi terasa seperti tempat penugasan semata, melainkan ruang yang akrab dan penuh makna. Bahkan perjalanan pulang dari sekolah menuju homestay pun menjadi bagian dari kenangan yang tidak terlupakan. Karena jarak homestay cukup jauh, sekitar sepuluh kilometer, kami kerap menumpang mobil pick-up milik guru yang juga digunakan untuk mengantar siswa. Duduk berdesakan di bak terbuka, diterpa angin sore setelah seharian mengajar, justru menghadirkan kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan. Hal-hal kecil seperti itulah yang kemudian tinggal paling lama dalam ingatan.

Ada satu momen yang hingga kini terus terpatri di hati saya. Seusai mengajar, seorang siswa kecil menghampiri saya dan berkata dengan bahasa campur aduk, “Guru… terima kasih.” Hanya dua kata sederhana, tetapi saya merasakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ucapan sopan. Saat itu saya sadar bahwa kehadiran kami di sana, sesederhana apa pun bentuknya, benar-benar memiliki arti. Bukan hanya materi pelajaran yang mereka terima, tetapi juga perhatian, kedekatan, dan pengalaman bahwa ada orang-orang dari negeri lain yang datang untuk berbagi dengan tulus.

Semakin lama berada di RWS, semakin saya menyadari bahwa pendidikan sejatinya dibangun dari hubungan antarmanusia. Ia hidup dalam sapaan hangat di pagi hari, dalam tawa di sela pelajaran, dalam kesabaran guru mendampingi murid, dan dalam keberanian murid untuk terus mencoba. Pendidikan bukan semata urusan kurikulum, nilai, atau target pembelajaran. Pendidikan juga tentang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan ruang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh. [Asep Adli Azhari]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait