MIU Login

HUMANIORA – (7/9/2026) Namaku Nurmadjidah Maradjabessy, mahasiswi semester lima Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sudah beberapa hari aku pulang dari Phetchaburi, Thailand. Namun, setiap kali malam menjelma hening, kenangan itu datang kembali seperti pusaran waktu yang tak henti memanggilku.

Read too:

Malam ini, aku duduk di kamar kos yang sunyi. Lampu kuning temaram meneteskan sepi ke dinding-dinding yang dingin, sementara jam di dinding berdetak lambat, seakan ikut tenggelam dalam lamunanku. Dari balik jendela, hanya ada desir angin yang memeluk kesunyian, sedangkan kepalaku dipenuhi suara-suara yang tak kunjung diam.

Aku bertanya pada diriku sendiri, “Jika malam itu aku tidak mengirimkan informasi pendaftaran I-SMASH kepada Mama, mungkinkah aku masih bisa bertemu dengan orang-orang baik di Phetchaburi sana? Mungkinkah aku masih bisa merasakan kebahagiaan yang hari ini membanjiri ingatanku?”

Pertanyaan itu bergema, berputar seperti jam pasir yang menolak berhenti. Dan tanpa sadar, aku kembali hanyut dalam pusaran kenangan—sebuah timeloop yang membawaku pada dua puluh hari paling berharga dalam hidupku. Dua puluh hari yang kutinggalkan di tanah asing, tetapi pulangnya seakan membawa sebuah rumah baru ke dalam hatiku.

Malam Sebelum Keberangkatan

Malam terasa panjang, terlalu panjang. Pukul 01.30 dini hari, mataku masih terpaku pada langit-langit kamar. Aku menggeliat gelisah. Pikiranku berkecamuk: Apakah aku bisa melakukan yang terbaik nanti di sekolah itu? Apakah aku mampu memenuhi harapan yang sudah dititipkan kepadaku? Dadaku sesak. Bukan hanya soal mengajar, tetapi juga soal keberanian meninggalkan zona nyaman dan melangkah ke dunia yang asing, dengan bahasa dan budaya yang berbeda.

Aku tak ingat persis kapan akhirnya tertidur. Yang kuingat hanya samar-samar seseorang membangunkanku. Ah, aku bahkan lupa siapa dia. Namun, sejak saat itu, roda takdir mulai bergerak.

Pagi itu, aku, Lida Maulida Az-Zahra dan teman-teman I-SMASH Humaniora lainnya yang ditempatkan di Chumphon dan Surat Thani berangkat bersama dari Bangkok menuju Phetchaburi. Dua jam perjalanan terasa seperti dua tahun. Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Di grup WhatsApp, guru pamong kami, Ustadz Akrom, sudah menunjukkan antusiasmenya jauh sebelum kami tiba. Seharusnya aku senang. Namun, entah mengapa, ada rasa takut: takut ekspektasi mereka terlalu tinggi dan aku tidak mampu meraihnya.

Langkah Pertama di Phattanasart Wittaya Tarang School

Ketika kakiku akhirnya menginjak tanah Phattanasart Wittaya Tarang School, semua keraguan itu seolah runtuh. Senyum menyambut kami dari setiap sudut. Ada sosok gagah berdiri di sana—beliau adalah Ustadz Akrom, guru pamong yang sebelumnya hanya kami kenal lewat sapaan daring. Tiba-tiba, seorang perempuan menyapaku dalam bahasa Indonesia.

“Apakah kalian berdua orangnya?”

Aku terkejut. Dia bisa berbahasa Indonesia—atau, sebagaimana orang Thailand menyebutnya, bahasa Melayu.

“I-iya… nama kamu siapa?” tanyaku kikuk.

Dia tersenyum hangat. “Saya Halimah.”

Tak lama, segerombolan anak-anak datang. Senyum mereka merekah seperti bunga di musim semi. Mereka mengelilingi kami dengan riang. Saat itu, entah mengapa, hatiku terasa penuh. Bahagia yang sederhana, tetapi begitu dalam. Halimah lalu mengantarkan kami ke kamar asrama yang sudah ditata rapi. Rasa haru menyesak. Semua telah dipersiapkan dengan penuh perhatian.

Hari itu, penerimaan resmi pun berlangsung. MoU ditandatangani oleh Ibu Sareeya Moungouming selaku Wakil Direktur sekolah dan Ustadzah Dr. Penny Respaty Yurisa, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Lapangan I-SMASH Humaniora. Setelah makan siang bersama, tibalah saatnya teman-teman lain kembali. Mereka melambaikan tangan, menatap kami dengan sendu. Siapa yang tak ingin menangis ketika ditinggal di tempat asing? Kami hanya bisa membalas lambaian itu sambil sesekali menghapus air mata.

Saat mobil mereka menjauh, hanya aku dan Lida yang tertinggal. Kami saling pandang, kikuk, tak tahu harus berbuat apa. Untung saja Ustadz Akrom segera datang. Ia menyapa kami dengan bahasa Indonesia yang fasih. Rupanya beliau pernah kuliah di UMM Malang. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun.

“Ayo, kita berkenalan dengan orang-orang di sini, ya,” ajaknya.

Halimah kembali menemani kami, kali ini bersama dua guru lain: Ustadzah Nutjama dan Ustadzah Nisareen. Mereka menyambut kami dengan keramahan yang tulus. Aku tersenyum lega. Ya, orang-orang di sini benar-benar hangat.

Salah Panggil Ustadzah Halimah

Keesokan harinya, Ustadz Akrom mengajak kami jalan-jalan. Katanya, ia ingin memperkenalkan kami kepada istrinya. Aku begitu bersemangat ingin bertemu dengan beliau. Namun, ketika mobil berhenti dan pintu terbuka, sosok yang keluar membuatku tercekat.

Halimah.

Aku terpaku. “Jangan-jangan…?” pikirku. Dan ternyata benar, Halimah adalah istri Ustadz Akrom. Astaga. Sejak kemarin aku memanggilnya “Halimah” saja tanpa embel-embel “Ustadzah”. Wajahku langsung panas seperti tomat yang terlalu lama dijemur matahari.

Aku buru-buru meminta maaf, “Maaf ya, Ustadzah… kemarin saya pikir Teacher masih SMA. Wajah Teacher sangat muda…”

Tawa pun pecah. Ustadz Akrom menimpali, “Istri saya memang baby face.”

Aku makin ingin menghilang ditelan bumi. Untung saja Teacher Halimah hanya tersenyum lembut. “Tidak apa-apa.”

Hari itu, kami pergi bersama keluarga Teacher Halimah: makan siang, jalan-jalan ke pantai, lalu pulang dengan hati penuh tawa. Malu? Tentu. Tapi rasa hangat mengalahkan semuanya.

Hari-Hari Mengajar

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pagi selalu dimulai dengan sarapan ayam goreng bawang di kantin, lalu apel pagi pukul 07.40. Pada hari pertama, aku dan Lida diminta maju untuk memperkenalkan diri di depan seluruh siswa. Rasanya deg-degan. Namun, sambutan mereka begitu hangat. Bahkan, ruang guru telah disiapkan untuk kami, lengkap dengan meja dan kursi. Di sana ada empat guru muda nan baik hati: Ustadzah Nisareen yang pendiam tetapi penuh perhatian, Ustadzah Halimah yang selalu ceria, Ustadzah Nutjama yang rendah hati dan suka membantu, serta Ustadzah Nasma yang manis dan ramah.

Hari-hari kami diisi praktik mengajar Bahasa Inggris, Maulida Az-Zahra mengajar Bahasa Arab, dan kami bergantian mengajar Bahasa Indonesia atau Melayu. Guru pamong kami masing-masing selalu mendampingi dengan sepenuh hati: Ustadz Akrom untuk Bahasa Indonesia, Ustadzah Nutjama dan Mr. Umar untuk Bahasa Inggris, serta Ustadzah Nadia untuk Bahasa Arab.

Setiap jam istirahat, anak-anak menghampiri kami, menyapa, dan mencoba berbicara dalam bahasa asing. Aku merasa begitu hangat, karena tanpa sadar, mereka sedang belajar keberanian dan percaya diri dari interaksi sederhana itu. Aku bahkan mengajarkan mereka yel-yel penyemangat:

“G double O D, J O B, GOOD JOB!
I’m the best, you’re the best, we are the best—YES, YES, YES!”

Setiap kali kami lewat, anak-anak akan berteriak serentak, “Teacher, G double O…” Ah, rasanya lucu sekaligus membahagiakan.

Wisata, Keluarga, dan Rumah Kedua

Bukan hanya mengajar, kami juga diajak menjelajahi Phetchaburi. mengikut siswa, guru, direktur, dan wakil direktur melakukan kunjungan wisata budaya. Destinasi pertama adalah Ao Manao Dolphin Park, tempat yang tenang dan damai. Setelah itu, kami menghadiri Festival Budaya di Masjid Darul Ibadah, mencicipi makanan khas Thailand, melihat pakaian tradisional, dan menikmati nasi kebuli yang lezat.

Tanggal 9 Agustus, kami berwisata ke Kaeng Krachan Dam. Bersama para guru, kami berenang, makan, dan menikmati alam. Dua hari setelahnya, 11 Agustus, kami mengunjungi Cha-Am Beach, pantai terkenal dengan pasir putih lembut dan air jernih. Dalam setiap perjalanan, aku selalu merasakan hal yang sama: kehangatan keluarga.

Yang lebih mengejutkan, aku baru sadar kemudian bahwa Direktur sekolah, Mr. Anan, dan Wakil Direktur, Ibu Sareeya, ternyata adalah orang tua Ustadz Akrom. Bahkan, Teacher Nisareen dan Kak Yaoharoh adalah saudara kandungnya. Ternyata, selama ini kami tidak hanya diajak jalan-jalan oleh pihak sekolah, tetapi oleh satu keluarga besar yang dengan tulus merangkul kami. Rasanya hangat, seolah kami bukan lagi tamu, melainkan bagian dari lingkaran itu.

Liburan di Sam Praya Village

Ketika siswa-siswi Phattanasart Wittaya Tarang School mendapat libur panjang selama empat hari, aku dan Maulida sempat khawatir. Bagaimana mencari makan? Bagaimana mengisi waktu? Biasanya, anak-anak selalu ada di sekolah, menemani dan menawarkan bantuan. Namun, kekhawatiran itu pupus karena kami justru diajak menginap di desa Ustadzah Halimah, Sam Praya Village—tempat yang membuatku jatuh hati sejak langkah pertama.

Ustadzah Halimah dan Ustadz Akrom mengajak kami menyusuri desa, sementara aku dan Maulida saling bertukar pandang, takjub akan keindahan yang sederhana namun memikat itu. Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Ang Kep Nam Huai Sai, aliran sungai kecil yang memantulkan cahaya matahari hingga tampak berkilau seperti kristal. Airnya jernih, tenang, dan menenangkan jiwa. Lalu kami singgah di Darussorleeheen Mosque, bangunan yang gagah namun bersahaja.

Tak lama kemudian, kami mampir ke UM Cake Cafe dan mencicipi Thai tea yang hangat dan manis. Kursi kayu sederhana dan pemandangan desa dari jendela membuat suasana terasa damai. Kami duduk sejenak, menikmati aroma minuman dan suara-suara desa yang tenang, seolah waktu melambat agar kami sempat menghargai momen sederhana itu.

Menjelang sore, kami kembali ke rumah Ustadzah Halimah dengan motor tua, menelusuri jalan-jalan kecil desa. Angin senja menyapu wajah, dan segelas Thai tea menemani perjalanan. Senja itu begitu lembut, menutup hari dengan nuansa damai yang tak terlupakan.

Di sela-sela libur panjang, aku dan Lida juga merancang lomba “Jejak Laras Bahasa”, program unggulan kami yang namanya diambil dari gabungan inisial kami: Jida dan Lida. Malam harinya, setelah salat Isya, kami duduk di teras rumah Ustadzah Halimah sambil membahas persiapan lomba tersebut. Suara malam desa, aroma tanah, dan cahaya rembulan membuat diskusi kami terasa hangat. Tanpa sadar, kata-kata kami melayang di udara, bercampur dengan tawa, ide, dan semangat yang membara. Malam itu, kami benar-benar merasa berada di rumah kedua—belajar banyak tentang kesederhanaan dan keramahan.

Keesokan paginya, pukul 09.00, kami menyempatkan diri menjelajahi Huai Sai Zoo. Ada rusa dengan tanduk patah, buaya yang tenang, dan hylobates, hewan mirip monyet yang sangat berisik. Di sana, aku mengamati kehidupan masyarakat desa: sederhana, harmonis, dan penuh cinta terhadap alam serta tradisi.

Setiap hari, ibu Ustadzah Halimah menyiapkan makanan lezat untuk kami, salah satunya gulai daging campur terong yang hangat. Saat aku berceletuk, “Enak sekali!”, beliau tersenyum lalu membungkuskan makanan itu untukku, lengkap dengan beberapa buah kelengkeng segar “untuk di asrama nanti,” ujarnya. Kebaikan sederhana seperti itulah yang membuat hatiku hangat dan tersentuh.

Kenangan Terakhir di Phetchaburi

Di tengah kesibukan, aku dan Maulida tenggelam dalam persiapan hadiah untuk para pemenang Lomba Jejak Laras Bahasa, kado kenang-kenangan untuk Ustadz Akrom, Ustadzah Halimah, Ustadzah Nutjama, dan Ustadzah Nisareen. Tak lupa, kami juga menyiapkan hadiah untuk anak-anak yang selalu menyambut kami dengan hati hangat: Saidah, Faridah, Saodah, Sajidah, Muniroh, dan Fira.

Meski lelah setelah seharian mengajar, kehadiran mereka selalu menghapus penat seperti embun pagi yang menyejukkan. Setiap sore mereka datang menyapa, “Teacher, do you want eat?” lalu menunggu sambil berkata, “Teacher, wait naa, we’ll go get some food for you first.” Malam hari pun mereka mampir untuk bercerita, kadang harus diterjemahkan lebih dulu. Bahkan, dari luar kamar sering terdengar suara polos mereka, “Teacher, we love you.”

Sederhana, tetapi cukup untuk membuat semua lelah lenyap, digantikan tawa yang menghangatkan hati.

Tanggal 14 Agustus menjadi hari terakhir kami mengajar kelas 3/1. Anak-anak laki-laki yang cerdas itu mengikuti pelatihan pidato terakhir. Setiap anak menerima hadiah sebagai apresiasi atas keberanian mereka membaca pidato berbahasa Arab di depan kelas—sebuah bukti bahwa mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga keberanian dan kepercayaan diri.

Malam harinya, kami mengadakan perpisahan kecil di kamar sudut lorong asrama. Rencana awal membeli kue di Seven Eleven yang jauh akhirnya tergantikan oleh donat dari toko kecil di dekat jalan pintas. Donat itu menjadi saksi tawa dan cerita kami malam itu. Kami membagikan kado, dan mereka pun memberi kami gantungan kunci, boneka, camilan, bahkan casing ponsel. Semuanya menjadi simbol kecil cinta dan perhatian.

Hari terakhir pun tiba. Berat meninggalkan tempat ini rasanya seperti menelan senja yang perlahan tenggelam di ufuk. Saat apel pagi, ucapan terima kasih para siswa, senyum para guru, dan cenderamata yang kami terima membuat mataku tak kuasa menahan air mata. Aku memilih diam, takut jika berbicara tangisku akan pecah semakin deras. Sekolah memberikan empat baju Phattanasart, sertifikat, dan totebag resmi, sementara kami memberikan bingkai berisi foto-foto kegiatan sebagai kenang-kenangan—sebuah cara kecil untuk menyimpan setiap detik kebersamaan agar tak hilang ditelan waktu.

Setelah apel, kami kembali ke kamar untuk bersiap berangkat sore itu. Namun, Ustadz Akrom tiba-tiba meminta kami mengajar sekali lagi. Anak-anak datang membawa surat, hadiah, bahkan gambar pemandangan buatan mereka sendiri, sampai tangan kami tak sanggup menampung semua pemberian itu. Guru-guru pun memberikan hadiah: selimut hangat dari Ustadzah Nadia dan Ustadzah Layla. Bahkan Mr. Umar, guru muda yang pendiam, tak disangka-sangka juga memberi kami hadiah. Semua itu menyentuh hati kami seperti aliran sungai yang tenang, tetapi dalam.

Waktu berpamitan akhirnya tiba. Aku tak kuasa menatap wajah-wajah mereka yang basah oleh air mata. Pintu mobil tertutup, dan wajah-wajah itu terhalang kaca. Di hati, hanya ada satu pertanyaan: kapan kita akan bertemu lagi? Keluarga besar direktur dan wakil direktur mengantar kami ke stasiun kereta, memberi hadiah dan surat sebagai pengiring perpisahan.

Kereta kami akhirnya tiba. Saat melangkah masuk, di kursi sebelah sudah ada Nabila dan Syeikha yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Begitu kereta mulai bergerak, kami melempar lambaian terakhir kepada guru-guru PSR School Phetchaburi, dengan harapan suatu hari bisa bertemu kembali.

Ketika kereta benar-benar melaju meninggalkan Phetchaburi, air mata kami pecah tanpa tertahan. Tangisku berpacu dengan derit roda besi, seakan menjadi suara rindu yang enggan diam. Dari jendela, yang tersisa hanyalah rel tua yang semakin menjauh dari tempat penuh kenangan itu.

Dua puluh hari. Waktu yang singkat, tetapi setiap detiknya meninggalkan jejak mendalam. Kami datang sebagai delegasi, tetapi pulang sebagai keluarga.

Kini, di kamar kos yang sepi, aku merindukan celetuk ringan mereka:

“Teacher happy na?”
“Teacher don’t go back Indonesiaaaa!”
“Teacher, makan nasi?”
“Arroy na, teacher?”
“Teacher, I love you…”

Aku tersenyum getir. Rindu ini menyesak, tetapi juga manis. Kalimat-kalimat sederhana itu menorehkan jejak yang tak akan hilang, seperti tinta yang mengalir di halaman hati.

Perjalanan ini mengajarkanku satu hal: belajar bukan sekadar tentang buku atau pelajaran, melainkan tentang hati. Tentang keberanian untuk melangkah, tentang kehangatan yang tumbuh di tanah asing, dan tentang bagaimana bahasa mampu menjadi jembatan untuk merajut persahabatan lintas batas.

Terima kasih, Tuhan, atas takdir indah ini. Dua puluh hari di Phetchaburi akan selalu abadi—bukan hanya tertulis di sini, tetapi terukir di relung hati terdalam. Di sana, aku menemukan rumah kedua yang akan selalu hidup dalam ingatanku.[Nurmadjidah Maradjabessy]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait