HUMANIORA – (3/9/2026) Pelayanan kepada mahasiswa menjadi salah satu perhatian utama Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam memperkuat kinerja kelembagaan. Dekan Faculty of Humanities, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., menegaskan bahwa setiap bagian di lingkungan fakultas perlu menjalankan tugas dan fungsi secara optimal, profesional, responsif, serta menjadikan kebutuhan mahasiswa sebagai orientasi utama pelayanan.
Read too:
Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi dan Penguatan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi (TUSI) yang digelar di Ruang Pertemuan Lantai 2 Faculty of Humanities, Rabu (2/9/2026). Dengan membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan, penguatan kompetensi dan sertifikasi mahasiswa, peningkatan kapasitas pengurus organisasi kemahasiswaan.

Dalam arahannya, Dekan menempatkan kualitas pelayanan sebagai bagian penting dari pengalaman mahasiswa selama menjalani pendidikan di Fakultas Humaniora. Pelayanan yang baik tidak cukup hanya memastikan urusan administratif selesai, tetapi juga perlu memberikan kemudahan, kepastian, kecepatan, dan kenyamanan bagi mahasiswa.
Karena itu, optimalisasi pelaksanaan TUSI menjadi perhatian bersama. Setiap bagian diharapkan memahami peran dan tanggung jawabnya serta membangun pola kerja yang semakin responsif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Orientasi tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan akademik dan administratif yang lebih nyaman. Mahasiswa diharapkan memperoleh layanan secara mudah, cepat, tepat, dan memuaskan sehingga proses administratif dapat mendukung, bukan justru menjadi hambatan dalam perjalanan akademik mereka.

Penguatan pelayanan menjadi penting karena mahasiswa berinteraksi dengan berbagai layanan fakultas sepanjang masa studinya. Mulai dari kebutuhan akademik dan administrasi hingga kegiatan kemahasiswaan, setiap layanan ikut membentuk pengalaman mahasiswa terhadap institusi.
Atas dasar itu, rapat menekankan pentingnya profesionalisme dan responsivitas dalam menjalankan TUSI. Pembagian tugas yang telah ada perlu diterjemahkan menjadi pelayanan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa.
Semangat yang dibangun adalah memastikan bahwa sistem dan sumber daya yang dimiliki fakultas benar-benar bekerja untuk mendukung proses pendidikan.
Dalam konteks tersebut, evaluasi terhadap pelaksanaan tugas juga menjadi penting. Ketika terdapat layanan yang belum berjalan optimal, persoalan perlu segera diidentifikasi sehingga perbaikan dapat dilakukan secara terukur.
Dengan demikian, penguatan TUSI tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi diarahkan pada terbentuknya budaya pelayanan yang menempatkan mahasiswa sebagai salah satu penerima manfaat utama dari setiap proses kelembagaan.
Rapat juga memberikan perhatian terhadap kesiapan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah kampus. Fakultas memandang bahwa penguasaan akademik perlu berjalan berdampingan dengan keterampilan profesional yang relevan dengan perkembangan dunia kerja.
Karena itu, program upgrading skill mahasiswa akan terus didorong sebagai bagian dari pengembangan kompetensi.
Program peningkatan keterampilan tersebut diarahkan pada kompetensi yang relevan dengan kebutuhan profesional. Jika memungkinkan, peningkatan keterampilan juga diikuti dengan sertifikasi kompetensi atau profesi, sehingga kemampuan mahasiswa tidak hanya diperoleh melalui proses pelatihan, tetapi juga memiliki pengakuan kompetensi.
Arah ini menjadi penting karena tantangan yang akan dihadapi lulusan semakin kompleks. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami bidang keilmuannya, tetapi juga mampu berkomunikasi, bekerja bersama orang lain, beradaptasi, mengelola persoalan, dan memiliki keterampilan profesional yang dapat diterapkan.
Dengan penguatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki dua modal yang berjalan beriringan kompetensi akademik dan kompetensi profesional.
Perhatian khusus dalam rapat turut diberikan kepada mahasiswa yang aktif dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa).
Aktivitas organisasi dipandang sebagai ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar di luar kelas. Namun, pengalaman menjadi pengurus organisasi perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas agar proses berorganisasi benar-benar memberikan nilai tambah bagi perkembangan mahasiswa.
Fakultas ikut mendorong peningkatan keterampilan pengurus Ormawa, khususnya dalam aspek kepemimpinan, komunikasi, manajemen organisasi, kerja sama tim, serta berbagai keterampilan profesional lainnya.
Penguatan tersebut diharapkan berdampak ganda. Di satu sisi, organisasi kemahasiswaan dapat dikelola dengan semakin baik dan profesional. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat mereka bawa ketika memasuki dunia kerja maupun mengambil peran di tengah masyarakat.
Dengan cara tersebut, organisasi tidak hanya menjadi ruang menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk belajar memimpin, berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.
Selain pelayanan dan pengembangan mahasiswa, rapat membahas rencana penyelenggaraan award atau penghargaan yang akan dirangkaikan dengan momentum Dies.
Program tersebut dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian dan kontribusi sivitas akademika sekaligus sebagai instrumen untuk mendorong peningkatan kinerja di lingkungan Faculty of Humanities.
Sejumlah kategori strategis mulai dipetakan. Salah satunya adalah keterbukaan informasi, yang diarahkan untuk memberikan apresiasi terhadap unit atau pihak yang menunjukkan komitmen terhadap transparansi, aksesibilitas, dan kualitas informasi publik.
Kategori berikutnya adalah prestasi mahasiswa, baik akademik maupun nonakademik. Prestasi mahasiswa dipandang tidak hanya membawa kebanggaan individual, tetapi juga menjadi bagian dari capaian institusi yang perlu mendapatkan apresiasi.
Aspek internasionalisasi juga masuk dalam pembahasan. Penghargaan pada kategori ini diarahkan kepada kontribusi sivitas akademika maupun unit yang mendukung program, aktivitas, kerja sama, serta capaian yang memperkuat internasionalisasi Fakultas Humaniora.
Kategori-kategori tersebut masih akan dirumuskan lebih rinci. Fakultas akan menyiapkan indikator, sumber data, mekanisme penilaian, hingga kriteria pihak yang berhak memperoleh penghargaan.
Hal yang ditekankan dalam pembahasan adalah penggunaan data yang dapat diverifikasi sebagai dasar penilaian. Pemanfaatan data dari platform yang telah tersedia diharapkan membuat proses pemberian penghargaan berlangsung lebih objektif, terukur, dan transparan.
Untuk memastikan rencana tersebut dapat ditindaklanjuti, rapat mengarahkan perlunya pembentukan panitia atau tim khusus.
Tim nantinya bertugas menyiapkan konsep penghargaan secara lebih matang, mulai dari merumuskan kategori, menyusun indikator penilaian, memetakan sumber data, melakukan validasi, menyiapkan mekanisme seleksi, hingga merancang teknis pelaksanaan.
Dengan sistem yang jelas, award diharapkan tidak berhenti menjadi kegiatan seremonial dalam momentum Dies. Penghargaan justru diharapkan menjadi bagian dari budaya apresiasi sekaligus mendorong sivitas akademika dan unit kerja untuk terus meningkatkan kualitas kontribusinya.
Dari keseluruhan pembahasan, rapat koordinasi menempatkan pelayanan dan pengembangan mahasiswa sebagai dua agenda yang saling berkaitan.
Di satu sisi, mahasiswa membutuhkan sistem akademik dan administratif yang nyaman, cepat, tepat, dan responsif. Di sisi lain, mereka juga membutuhkan ruang yang cukup untuk meningkatkan keterampilan dan membangun kesiapan profesional sebelum menyelesaikan studi.
Karena itu, optimalisasi TUSI tidak hanya berbicara tentang siapa mengerjakan apa. Lebih jauh, pelaksanaan tugas perlu dilihat dari manfaat akhirnya bagi mahasiswa dan perkembangan institusi.
Rapat tersebut kemudian menghasilkan sejumlah tindak lanjut, terutama optimalisasi layanan kepada mahasiswa, penguatan program upgrading skill dan sertifikasi, peningkatan kapasitas pengurus Ormawa, serta persiapan program award berbasis data yang akan dirangkaikan dengan momentum Dies.
Melalui penguatan tersebut, Faculty of Humanities mendorong agar peningkatan kualitas institusi dapat dirasakan secara konkret dalam keseharian sivitas akademika. Pelayanan yang semakin baik, mahasiswa yang semakin kompeten, organisasi kemahasiswaan yang semakin berkualitas, serta budaya apresiasi berbasis capaian menjadi bagian dari arah penguatan yang akan ditindaklanjuti setelah rapat.
Pada akhirnya, optimalisasi pelayanan bukan semata tentang menyelesaikan urusan administrasi. Ia merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depannya dengan lebih baik. [sof/Infopub]





