HUMANIORA – (3/9/2026) Tidak semua perjalanan dimulai dengan keberanian. Sebagian justru lahir dari keraguan, kegelisahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergema di kepala. Begitulah perjalanan saya menuju Thailand dalam program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora bermula. Negeri yang sebelumnya hanya saya kenal lewat peta dan cerita orang lain, mendadak menjadi ruang nyata tempat saya belajar, mengabdi, sekaligus bertumbuh.
Read too:
Menjelang keberangkatan, rasa takut datang bertubi-tubi. Bagaimana jika saya tidak mampu beradaptasi dengan budaya yang berbeda? Bagaimana jika bahasa menjadi penghalang dalam berkomunikasi? Bagaimana jika saya tidak sanggup menyesuaikan diri dengan makanan, lingkungan, atau ritme kehidupan di negara orang? Ditambah lagi, ini adalah pengalaman pertama saya bepergian ke luar negeri dan menaiki pesawat. Namun di balik seluruh kekhawatiran itu, ada rasa penasaran yang jauh lebih besar: keinginan untuk melihat dunia yang lebih luas dan menguji sejauh mana diri ini mampu melangkah.
Pengalaman pertama menaiki pesawat menjadi salah satu momen yang paling membekas. Ketika pesawat mulai lepas landas, tangan saya sempat gemetar, sementara hati dipenuhi campuran takut dan takjub. Namun, semua kecemasan itu perlahan berubah menjadi kekaguman saat saya menatap langit dari balik jendela. Awan, senja, dan hamparan langit yang terasa begitu dekat menghadirkan kesadaran baru bahwa perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga tentang membuka pandangan. Pada saat itulah saya merasa bahwa langkah kecil ini akan membawa saya pada pengalaman hidup yang jauh lebih besar.
Setibanya di Bangkok, Thailand menyambut saya dengan wajah yang sama sekali berbeda dari bayangan semula. Udara panas, papan-papan berhuruf Thai, serta suasana kota yang asing sempat membuat saya merasa jauh dari rumah. Namun, rasa asing itu tidak berlangsung lama. Hari-hari pertama di Bangkok justru memperlihatkan sisi lain Thailand: negara yang kaya akan budaya, sejarah, dan penghormatan terhadap identitasnya sendiri.
Kunjungan ke beberapa destinasi seperti Wat Arun, IconSiam, dan Asiatique The Riverfront memberi saya kesan yang mendalam. Wat Arun, dengan menara megah dan detail mozaiknya yang indah, bukan hanya menjadi objek wisata, tetapi juga simbol bagaimana Thailand merawat warisan sejarahnya dengan penuh kebanggaan. Di sisi lain, IconSiam menampilkan wajah modern Thailand yang mewah dan dinamis. Sementara itu, perjalanan menuju Asiatique memperlihatkan perpaduan unik antara kehidupan urban dan nuansa budaya lokal. Di sepanjang jalan, saya juga melihat begitu banyak simbol penghormatan kepada raja yang terpampang di berbagai sudut kota. Dari situ saya belajar bahwa Thailand tidak hanya membangun kotanya secara fisik, tetapi juga menjaga memori kolektif, identitas nasional, dan rasa hormat terhadap sejarah bangsanya.
Namun, Bangkok hanyalah pintu masuk dari perjalanan yang sesungguhnya. Destinasi utama saya adalah Chana, Songkhla, tempat saya dan teman-teman akan menjalani pengabdian. Perjalanan menuju Chana ditempuh dengan kereta api selama kurang lebih 16 jam. Kereta dengan jendela terbuka, tanpa kesan modern yang biasa saya temui, justru menghadirkan pengalaman yang begitu berkesan. Angin yang masuk bebas, pemandangan sawah, desa, bukit, dan pasar-pasar kecil di sepanjang rel, seolah menjadi pengantar menuju ruang belajar yang baru. Dalam perjalanan panjang itu, saya menyadari bahwa pengabdian memang menuntut kesabaran, ketahanan, dan kesiapan untuk menerima hal-hal yang belum pernah kita temui sebelumnya.
Sesampainya di Chana, saya dan rombongan disambut hangat oleh pihak sekolah dan keluarga besar tempat kami mengabdi. Sambutan itu menjadi penawar dari seluruh kelelahan dan kecanggungan yang sempat saya rasakan. Di tengah negeri yang berbeda bahasa dan budaya, saya justru menemukan rasa kekeluargaan yang tulus. Kehangatan itu membuat saya percaya bahwa manusia selalu memiliki bahasa universal: keramahan, kepedulian, dan niat baik untuk saling menerima.
Selama berada di Thailand, saya menjalani kegiatan di Chariyatam Suksa Foundation School dan QLCC (Qur’anic and Language Center). Di tempat inilah pengalaman saya sebagai mahasiswa Humaniora benar-benar diuji sekaligus diperkaya. Saya tidak hanya datang untuk mengajar, tetapi juga untuk belajar dari lingkungan yang berbeda. Setiap hari, saya berinteraksi dengan siswa, guru, serta para santri yang memiliki latar budaya dan kebiasaan yang tidak sama dengan saya. Namun, justru di sanalah letak nilai paling penting dari program ini: saya belajar bahwa pendidikan tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu bertemu dengan budaya, karakter, dan cara pandang yang beragam.
Salah satu hal yang paling membekas adalah adab para siswa. Setiap kali berpapasan, mereka selalu menyapa dengan salam penuh hormat. Hal sederhana itu menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan. Saya merasa diterima, dihargai, dan dianggap sebagai bagian dari lingkungan mereka. Dalam kegiatan belajar, saya dan teman-teman tidak hanya mengenalkan kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga memberikan pelatihan pidato, mendampingi pembelajaran, serta membangun kedekatan melalui aktivitas sehari-hari. Yang membuat saya terharu, sering kali justru para siswa yang datang lebih dulu dan meminta untuk diajari. Antusiasme mereka menjadi energi tersendiri yang membuat saya sadar bahwa sekecil apa pun ilmu yang dibagikan, ia tetap bisa bermakna bagi orang lain.
Pengalaman lain yang tidak kalah berharga adalah keterlibatan saya dalam English Camp di Pantai Sekom, sebuah kegiatan yang mempertemukan siswa dari berbagai sekolah, termasuk dari Sutrak Buddhist School. Dari kegiatan ini, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi narasumber bagi siswa kelas 4 dan 5 dengan metode fun learning menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pengalaman tersebut membuka ruang perjumpaan yang lebih luas: saya tidak hanya berinteraksi dengan siswa muslim, tetapi juga dengan siswa dari latar agama dan budaya yang berbeda.
Bagi saya, inilah salah satu pelajaran paling penting selama mengikuti I-SMASH: perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan ruang belajar yang perlu dirangkul. Berada di tengah lingkungan multikultural membuat saya memahami bahwa toleransi bukan sekadar konsep yang dibicarakan di ruang kelas, tetapi praktik nyata yang dibangun melalui perjumpaan, dialog, dan kesediaan untuk saling memahami. Saya belajar bahwa kebaikan tidak mengenal sekat agama, bangsa, ataupun bahasa. Semua orang bisa saling terhubung selama ada ketulusan untuk menghargai satu sama lain.
Di titik inilah saya merasa bahwa I-SMASH bukan sekadar program PKL internasional. Lebih dari itu, ia adalah ruang pembelajaran hidup. Program ini mengajarkan saya untuk berani keluar dari zona nyaman, menantang ketakutan, serta menemukan makna baru tentang pengabdian. Saya datang ke Thailand dengan banyak keraguan, tetapi pulang dengan pemahaman yang jauh lebih luas tentang dunia dan tentang diri saya sendiri.
Momen perpisahan menjadi bagian paling emosional dari seluruh perjalanan ini. Rasanya baru kemarin kami datang dengan canggung dan penuh tanda tanya, tetapi tiba-tiba waktu memaksa kami untuk mengucapkan salam terakhir. Dalam suasana haru itu, saya dan teman-teman mengangkat tema “Kita Pasti Bisa” sebagai penutup kegiatan. Kalimat sederhana ini terasa sangat mewakili seluruh proses yang kami jalani. Ia bukan hanya slogan, melainkan keyakinan bahwa setiap tantangan bisa dihadapi, setiap perbedaan bisa dijembatani, dan setiap mimpi bisa diperjuangkan selama kita memiliki keberanian untuk melangkah.
Bagi saya, Thailand kini bukan lagi sekadar negara tujuan PKL. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan batin yang membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan. Dari perjalanan ini saya belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Saya juga belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang seberapa besar yang kita lakukan, tetapi tentang seberapa tulus kita hadir, berbagi, dan memberi makna bagi lingkungan tempat kita berada.
Pada akhirnya, pengalaman di Negeri Gajah Putih ini meninggalkan satu keyakinan penting mahasiswa Humaniora tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial, kemampuan beradaptasi, dan keberanian untuk hidup di tengah perbedaan. Dunia yang semakin terhubung membutuhkan generasi yang bukan hanya cakap secara intelektual, tetapi juga terbuka, tangguh, dan mampu membangun jembatan antarbudaya.
Jejak pertama saya di Thailand mungkin telah usai, tetapi pelajaran yang saya bawa pulang akan tinggal jauh lebih lama. Dari negeri ini, saya belajar bahwa di mana pun kita berada di ruang kelas, di asrama sederhana, di tengah perbedaan bahasa dan budaya selalu ada kesempatan untuk tumbuh. Dan dari perjalanan ini, saya semakin percaya pada satu hal kita pasti bisa, di mana pun, kapan pun, dan bersama siapa pun. [Ibnatia Hasna Fawwaz]





